Jumat, 18 Februari 2011

The Cheongsam Obsession

Aku tidak dapat mengartikan sorot mata ibuku, ketika ia menatapku sedang berdiri di depan cermin dan mengagumi pantulan diriku sendiri dalam cheongsam. Kelihatannya ia marah, tapi ia lebih seperti kecewa, mungkin karena aku memakai sesuatu miliknya tanpa izin.

Aku segera melepas cheongsam berwarna biru yang sudah memudar itu, dan dengan berjingkat-jingkat keluar kamar, tanpa berani menatap sorot mata ibu. Namun ketika aku melewatinya, tubuhku didorong sehingga terjatuh dan menimpa keranjang berisi baju-baju kotor yang belum dicuci. Ibu lalu keluar begitu saja, dan aku ingin memeluknya, dan meminta maaf.

Tapi, aku tak lantas lupa pada cheongsam. Aku memikirkannya. Siang dan malam. Di sekolah. Di jalan. Di kamar. Di angkot. Di busway. Bahkan ketika aku sedang naik ojek. Obsesi yang sudah menjadi mimpi bertahun-tahun, ketika pada usia lima tahun aku melihat baba memberikan angpau pada kakakku pada saat imlek.

Namun, ini bukan cerita tentang angpau, atau lontong cap go meh, tapi tentang cheongsam. Baba menghadiahkan kakakku cheongsam berwarna merah yang seperti memeluk tubuhnya. Itu adalah gaun one piece yang indah, dan aku hanya bisa melihat iri ketika baba berdiri di belakang kakakku dan keduanya tersenyum. Baba tersenyum. Kakakku tersenyum. Aku manyun. Aku ingin cantik seperti kakakku.

Bertahun-tahun kemudian, aku menonton In The Mood For Love dan bayangan kakakku yang anggun mengenakan cheongsam sambil makan lontong cap go meh mulai memudar. Ia tergantikan oleh Maggie Cheung. Sampai saat ini, tidak ada yang bisa menandingi dia sebagai wanita paling cantik yang pernah mengenakan cheongsam. Aku tumbuh dalam imajinasi menjadi wanita cantrik yang mengenakan cheongsam, lalu pergi merayakan xin chia bersama pangeran pujaan. Hanya makan malam sederhana sudah membuatku senang.

Sepertinya cheongsam hanya akan menjadi mimpi, atau obsesi. Tidak bisa tidak. Aku merasa aku tidak akan pernah bisa mengenakannya, sebahagia apapun perasaanku nanti ketika bisa mengenakannya.

“Tetapi, apakah bahagia itu paling penting?” tanyaku pada Mei, sahabatku.
Mei menyayangiku, tapi sorot matanya seperti sorot mata ibu. Ia berkata, “bukan bahagia, tapi menjadi diri sendirilah yang terpenting.”
Aku tidak mengerti, Mei. “Aku belum genap 17 tahun.”

Tapi, akhirnya aku kembali ke rumah dan aku ingin minta kado istimewa dari baba dan ibu menjelang ulang tahunku nanti. Apalagi kalau bukan cheongsam.

“Ibu, aku ingin cheongsam.”
Ibu lalu menampar pipiku. Aku menangis. Tapi aku tidak peduli. Aku ingin cheongsam. Titik.

Ibu bilang nggak boleh. Tidak akan pernah diizinkan. Tidak dalam satu abadpun.

Aku ingin cheongsam!
Plak!!!

Tapi kenapa, bu?

Ibu menatapku, Ia tidak marah, tapi lebih seperti orang terluka.

Mengapa bu?

“Karena kamu...laki-laki.”
Aku terdiam. aku tahu aku akan dihadapkan pada kenyataan ini, tapi aku tidak merasa kalau sekaranglah waktunya.

Selasa, 15 Februari 2011

THIS IS ME!

Bersyukur dengan karakter sebagai orang egois. Ketika hanya suka membicarakan diri sendiri-tidak tertarik ngomongin orang, in a way nggak kena dosa gara-gara bergunjing.
Trus berusaha keras mengejar personal destiny-nya. kadang nggak suka ngedengarin orang, nggak peduli apa pendapat orang.

harus bisa memilah mana yang memang layak dianggap ada dan didengarkan, dan mana yang hanya rubbish. Percaya benar dengan hukum Paretto. dari 10 orang yang dikenal barangkali cuma 2 yang berisi, sisanya sampah.

Dalam sebuah percakapan, hanya membicarakan karya, bukan orang, apalagi hal-hal jelek mengenai orang itu. Sesudah itu kembali ke diri sendiri, dan berpikir "What can i do to share the world my role?"
Meski memang tidak otomatis akan jadi mudah, asal merasa di right track juga udah bagus.

Meski banyak yang bilang terlalu picky dalam segala hal, termasuk bergaul. Tapi prinsipnya adalah melakukan apapun harus menguntungkan termasuk mengenal orang, kalau nggak, ya nggak usah bergaul ama orang itu. Biar nggak buang-buang waktu. Kadang suka agak rugi, kalau misalnya kita kerjaannya nyerocos share ke orang, trus dalam hati nanya: "Gue dapat apa dari lo?"

Yakin saja, kalau pada akhirnya akan dipertemukan, pasti memang akan dipertemukan.
Hanya merespon sesuatu yang layak direspon.
Memberi lebih pada yang diminta.

Dianggap sengak nggak jadi masalah, biasanya orang yang kita kagumi dan diteladani nggak akan berpikir seperti itu kepada kita, karena di depannya kita berlaku seperti murid, dan mereka akan dengan senang hati mengajarkan. (Jangankan kita merespon apa pendapatnya tentang kita, bahkan mereka mungkin tidak dianggap ada)

Kalau ada yang berpikir kita jutek, dan senyum mahal, memang tujuan hidup manusia bukan untuk memuaskan semua orang. Dan biasanya orang yang merasa demikian, akan berkelompok, bergosip, dan bicara di belakang kita (Indonesia banget). Karena biasanya mereka mediocre, dan kita dianggap sebagai ancaman.
Kita dinamis dan mereka statis.

dengan sikap ini, tanpa disadari kita akan punya magnet. tapi sebagai magnet kita sendiri juga akan tertarik kepada magnet lain. Dan pada saat anda merasa demikian nyaman dengan keadaan, selamat.

bagi yang belum, bersabar. Ini proses. Dan kita tidak pernah sendiri.

Sahabat adalah seseorang yang ketika kita duduk di sebelahnya—hanya berjam-jam dalam diam, tapi setelah dia pergi kita merasa kita telah lama berbicara dengannya..

SYARAT UTAMA: PENAMPILAN MENARIK

“God! Kenapa harus ada persyaratan demikian di iklan lowongan kerja!” sesal Adi. Ia sedang berteduh di bawah pohon mangga bersama sahabatnya, Chandra. “Trus, orang-orang yang merasa penampilannya nggak menarik gimana? Nggak boleh ikutan? Belum tentu juga kan orang-orang dengan penampilan menarik akan bekerja dengan lebih baik dibandingkan orang yang dianggap berpenampilan tidak menarik!”
“Nggaklah bro, lo jangan minderisme gitu dong! Lo nggak jelek kok!’ kata Chandra sahabat Adi, pura-pura menghibur. Tapi Adi protes karena Chandra begitu saja menyamakan penampilan tidak menarik sebagai ‘jelek’. “Beda dong!” menurut Adi, orang dengan penampilan tidak menarik bukan berarti jelek, tapi orang jelek pasti penampilannya tidak menarik.
Chandra malah nggak setuju. Ia mengambil contoh Tukul. “Tukul kan jelek, tapi penampilannya menarik.” Adi mengelak,’iya, secara lo sih ngefans ama dia, tapi yang nggak suka nggak akan mungkin bilang Tukul itu menarik secara penampilan!”
Mendengar jawaban Adi, Chandra mencoba menarik kesimpulan. “Wah kalau ukuran suka atau nggak suka jadi susah dong. Jadi subyektif, karena kalau seseorang dibilang nggak menarik, belum tentu sisa dunia yang lain bilang yang sama.”
“Makanya bro, ini harus kita protes!”, kata Adi lagi. Menurut Adi, perusahaan harus menghapus syarat itu dalam requirements mereka, karena berpotensi menjadi tidak objektif. “Tapi... kalau jelek kan mutlak,” Adi tiba-tiba teringat kata-kata itu.
Hening sejenak. Mungkin keduanya merasa tersindir dengan kata-kata Adi itu.
“Makanya mereka pake kata berpenampilan menarik. Itu secara halus menggantikan kata tidak jelek,” kata Chandra.
Adi menjadi teringat pengalamannya yang beberapa kali ditolak bekerja dengan alasan penampilannya kurang menarik. “Sakit hati gue dibilang begitu,” kata Adi.
Chandra diam saja meski memiliki pengalaman yang sama. “Memang pasti nyebelin banget ya. IPK udah 3,75, cumlaude, lulus psikotest, kesehatan oke, tapi nggak diterima kerja cuman gara-gara tampang! A****G!
“Gue setuju! Ini namanya diskriminasi bagi orang-orang berpenampilan tidak menarik! Kita harus lapor ke KOMNAS HAM! Yuk! Sekarang!” Adi menarik tangan Chandra yang lalu menepisnya.
“Tenang bos. Lo ngomong jangan kebanyakan tanda seru! Justru lo yang gegabah. Kalau lapor ke komnas HAM, berarti secara tidak langsung lo mengaku udah jadi bagian dari mereka yang berpenampilan tidak menarik. Apa emang lo ngerasa diri lo nggak menarik?”
“Nggak mungkinlah,” sahut Adi kali ini dengan lebih kalem. “Kalau bukan gue sendiri yang bilang kalau gue ganteng, siapa lagi...”
“Itu maksud gue. Perjuangan harus selalu dimulai dari dalam diri sendiri. Coba kita terapin ke diri kita, untuk nggak superficial. Untuk nggak nilai orang dari luarnya aja. Padahal siapa tahu mereka punya kualitas-kualitas yang nggak dimiliki oleh orang-orang yang masuk kategori berpenampilan menarik,” kata Chandra panjang lebar.
Tapi wajah Adi merengut. “Tapi gimana cara untuk mengetahui kualitas-kualitas itu kalau dari awalnya scanning pertama adalah penampilan, atau pasfoto. Seleksi berdasarkan penampilan, yang nggak memenuhi kriteria dibuang ke tempat sampah, tanpa diberi kesempatan untuk memberi tahu dunia tentang isi hati atau isi otaknya...”
“This is what i am talking about man!” kata Chandra meniru gaya bicara karakter nigger di film hollywood. “Ini dia yang mesti kita perjuangkan, men! Sebab kalau nggak, bisa-bisa orang-orang berpenampilan nggak menarik jadi punah. Nggak punya tempat lagi di dunia. Diasingkan, ditinggalkan oleh roda kehidupan yang terus berjalan. Mereka jadi nggak bisa berkiprah dimana-mana.”
Adi diam saja, tiba-tiba ada imajinasi melesat di otak kanannya; ia jadi penguasa zalim yang melakukan pemisahan terhadap golongan orang berpenampilan tidak menarik dan orang berpenampilan menarik. Dalam fantasi itu, Adi, firaun dengan penampilan tidak menarik memenjarakan orang-orang yang berpenampilan menarik, bangsanya model-model ganteng atau cantik dalam kamp konsentrazie seperti yang dilakukan Hitler. Hollocaust.
“Napa lo diam aja?” kata Chandra.
“Iya gue setuju.” Sahut Adi asal.
“Setuju apa?”
“Mari kita melestarikan golongan orang-orang berpenampilan tidak menarik, biar mereka bisa kerja, kawin, dan punya anak.”
Chandra nggak bisa nggak setuju.
“Galang persatuan buat Gestapu (gerakan standarisasi tampang publik)!” kata Adi. Ia kembali bersemangat, dan berseru.
“Atau kita buat serikat pekerja atau apa gitu yang menggabungkan karyawan dengan penampilan tidak menarik. Dari kita, oleh kita untuk kita. Laiknya demokrasi.”
“Justru lo sekarang yang sembrono. Ekslusifitas itu ibarat bom waktu. Dunia bisa berputar karena ada pasangan-pasangan. Pria dan wanita, malam dan siang, utara dan selatan, kiri dan kanan, cakep dan...”
“Jelek,” kata Chandra. Ia diam, merasa ada yang janggal dari tatapan mata Adi, tapi tak bisa merumuskan apa.
“Pemisahan itu hanya akan mempertajam dikotomi antara dua kelompok itu,” tandas Adi.
“Tapi maksud gue, bagaimana kalau...”
Pembicaraan mereka terhenti. Tak jauh dari mereka seorang wanita membaca plang ‘pangkalan ojek’ dibawah sebuah pohon mangga. Wanita itu menuju Adi dan Chandra.
“Ada sewa tuh, Di.”
“Males gue. Tampangnya demek gitu.”
“Gue juga ogah. Gue nungguin si Neng caem langganan aja.”

One Minute Enlightment

(1)
The simple metaphor of chair, taken as representing one’s body, mind and emotional dynamics, can explain this clearly:
As long as I am sitting in the chair, I cannot observe nor manage the chair. In fact, the chair manages me. To observe the chair I must get out of it. For this, I must accept the fact that I am not the chair. So also, identifying with the body, mind and emotions, I cannot observe or manage myself. The moment I accept that I am neither the body nor the mind; I can get out of it. Then I can realize who I am. Then I can lead and manage myself. I become master, leader of the chair.

(2)
“Hidup terdiri atas momen - momen ;
Momen - momen adalah milik kita.
setiap momen masing-masing secara mendalam?
Dapatkah Anda meninggalkan setiap momen yang telah berlalu dan
lahir kembali pada setiap momen baru ?
Dapatkah Anda mengisi momen yang baru dengan penuh keyakinan,
kegembiraan dan semangat ?
Dengan memandang setiap momen adalah baru, maka kita akan mampu
menceburkan diri ke dalamnya dan menjalaninya dengan sepenuhnya.
Apakah itu saat mencuci piring, minum teh, memeluk bocah kecil,
menatap ke dalam mata orang yang kita kasihi,
Menahan rasa sakit atau bahkan ketika menghadapi kematian"

(3)
Seorang siswa bertanya kepada gurunya, “Master, apakah arti pencerahan itu…?” Sang guru menjawabnya dengan lugas, “Bila lapar—makan. Jika lelah—tidur. “Kemudian siswa itu menimpali, “semua orang kan melakukan hal yang sama dalam kesehariannya.” “Tidak sama,” sang guru menjawab. “Mengapa tidak sama…?” Tanya si siswa dengan penasaran. Kemudian sang guru menjelaskan, “Saat waktunya makan, kebanyakan dari kita tidak menikmati dengan betul makanan yang kita cerna. Pikiran orang terus mengembara entah kemana. Mulut, sekalipun penuh dengan nasi, tatkala masih sibuk mengobrol dengan sesamanya. Saat waktunya tidur, pikiran ridak istirahat. Oleh sebab itu itu banyak yang tidurnya tidak lelap atau bahkan menderita insomnia.”

(4)
Suatu hari terjadi gempa bumi yang mengguncang keseluruhan kuil Zen. Beberapa bagiannya runtuh! Banyak biksu ketakutan.

Saat gempa reda, sang guru berkata, “Sekarang kalian mempunyai kesempatan melihat bagaimana seorang Zen berperilaku dalam situasi krisis. Kalian mungkin perhatikan bahwa saya tidak panik sama sekali. Saya masih awas pada apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan. Saya pimpin kalian semua ke dapur, bagian terkuat dari kuil ini. Dan ini sebuah keputusan yang tepat karena kita semua selamat tanpa luka-luka. Tetapi, di samping kontrol diri saya yang baik, saya juga merasa sedikit tegang – yangmana kalian bisa lihat dari kenyataan bahwa saya minum satu gelas besar air putih, sesuatu yang tidak pernah saya lakukan di situasi biasa”

Salah satu biksu tersenyum, tapi tidak berkata apa-apa.

“Apa yang kamu tertawai?” tanya sang guru.

“Itu isinya bukan air, guru” jawabnya. “Itu tadinya satu gelas besar kecap yang disiapkan untuk memasak”

(sumber: buku kisah kebijaksanaan Zen)

The Edge of Love (review)



Sat, 6 june. something called me to come to blitz megaplex. actually i intended just to have dinner, so i gone in short pants, slipper, and ripped t-shirt. but, i was so impulsive, and i need to fulfill the uninvited desire to go watching movie.
here's the answer: The Edge of Love. curious to watch Sienna Miller. i only knew little about her—except she's belong to Jude Law.

at the first second, i smirked, and smiled widely. The beauty of Keira Knightley (someday if i had daughter, Keira is lovely name). opened the movie by singing “Blue Tahitian Moon”. This movie is so me. with that jazzy soundtrack, rain, and poetry spreading all over the duration, and that sienna miller really take my breath away.

Kiera's performance is even make it harder for me to release myself in this lost of beauty. Kiera played as singer in the era of World War Two. She meet Mathew Rhys, her first love (its not first love that matters, its the last love), at the time when Mathew had wife played by irresistible Sienna Miller. Despite their rivalry, the two women become friends and the trio have happy times together. When Kiera marries soldier Cillian Murphy, Matthew becomes jealous at the addition of him to the group, and Sienna noticed.

Do you love me? asked Cillian. “i will answer after u back,” said Kiera.

and war change people. this movie is very subtle in developing the character. Mathew was boring, but turned to be strong after Cillian back from war. and Cillian doubted Kiera since he knew that Kiera and Matther used to be couple.

there's love in the air--vaguely delivered on the way the four main casts look each other. and it still can be feel at the last scene. This is the perfect movie, i dont remember when were the last time i go home from cinema with this very fulfilled feeling. all the aspects is perfect. Music, art—with that colorful expression, heavenly ensemble casts—while in my opinion, Cillian didn't play as perfect as his fellows.

oh thanks to James Maybury, for blooming my saturday night. i even look to the sky and smile to the moon. smiling—lost in the beauty.

Sejarah Dunia dalam 10 1/2 Bab (review)

Mungkin karena (Nabi) Nuh tidak 'sepopuler' nabi-nabi lain, maka penggambaran karakter Nuh sebagai tua bangka pemabuk bisa ditemui dalam sebuah novel terjemahan.

Entah mengapa sang novelis begitu terobsesi pada Nuh dan Banjir Besar, dan dengan imajinasi spekulatif merancang teori bagaimana peristiwa itu terjadi, termasuk berbagai kejadian mencengangkan diatas bahtera.

Namun dengan cerdas, pada fragmen “Penumpang Gelap” ini, penceritanya adalah seekor ulat kayu. Dengan memilih point of view seekor binatang dan bukan seorang manusia, menciptakan olok-olok yang cerdas—yang juga terasa di keseluruhan novel ini. Bagian ini memberikan insight bagaimana dan mengapa beberapa spesies binatang tidak terpilih mengikuti pelayaran ini—ulat mempertanyakan keadilan. Tentunya ulat kayu tidak diizinkan berada dalam perahu kayu—karena mereka makan kayu, dan oleh karena itu mereka kemudian menjadi penumpang gelap, dan nyinyir.

Ulat itu percaya bahwa Nuh telah semena-mena dengan mengumumkan waktu tertentu bagi binatang-binatang dunia, untuk keberangkatan bahtera. “...binatang tertentu menempuh perjalanan lebih lambat dari binatang lain. Ada kukang yang kelemak-kelemek yang pasti sudah lenyap terhempas azab Tuhan, bahkan sebelum turun mencapai pangkal pohonnya...”

Ulat menyaksikan banyak hal dan mewartakan pada kita mengenai perilaku binatang yang keluar dari karakternya ketika menemui situasi darurat—bagian yang mengingatkan pada Life of Pi. Meski demikian, ia hanya bisa prihatin melihat makhluk-makhluk langka—Basilisk, Salamander, Sphink, Griffon, dan Hippogriff yang punah. Ulat memiliki kepercayaan kuat bahwa Nuh, istrinya, Ham, Sem, dan yang namanya diawali huruf Y, berada di balik peristiwa ini.

Bahkan dengan kritisnya, Ulat menyatakan bahwa gorila akan lebih baik sebagai pelaut dibandingkan Nuh, dan dengan fantasi orang gila meyakini bahwa Unicorn dibunuh oleh Nuh dengan alasan kecemburuan, karena tanduk Unicorn digunakan istri Nuh untuk....

Pada backcover kata “novel” dituliskan empat kali.

Membaca novel ini seperti menonton film-film multikarakter Alejandro González Iñárritu. Mungkin penyebutan kata novel ini dimaksudkan agar pembaca tidak salah menyebut novel ini sebagai kumpulan cerpen—seperti Babel yang tidak akan pas disebut sebagai kumpulan film pendek.

Jadi, dari peristiwa di atas Noah's Ark, segmen “The Visitors” menceritakan ironi seorang bernama Hughes, yang oportunis, gemar bermain perempuan, dan ahli sejarah, namun terpaksa menjadi negotiator di sebuah kapal yang dibajak teroris. Teroris ini—mereka orang arab, sebuah pilihan tipikal yang karikatural, membajak kapal pesiar yang berlayar di sekitar Yunani, dengan tuntutan pembebasan rekan-rekan mereka yang sedang dipenjara, dan sialnya tidak ada pemerintahan yang meluluskan permintaaan itu, sehingga penumpang akan dibunuh satu persatu. Dan mirip dengan kisah ulat yang mempertanyakan keadilan, Hughes bertanya atas urutan apa para penumpang itu akan dieksekusi. “.. Siapa yang akan mereka bunuh lebih dulu? Orang Amerika? Orang Inggris? Laki-laki dulu? Acak? atau menurut abjad?”...

Novel ini telah men-transcend dongeng omong kosong dengan caranya yang rigid, dan menyisipkan fakta-fakta 'akurat', demi 'kebenaran', dan tendensi serius untuk tidak takluk pada satu kebenaran sejarah (sikap yang akan membuat lenyapnya individualitas dan kemanusiaan kita, katanya). Oleh karena itu, pada segmen yang (dengan alasan yang tidak dimengerti) diberi judul “The Wars of Religion”, novelis menceritakan persidangan ganjil di Perancis pada abad 16, ketika warga desa menuntut ulat kayu yang telah mencelakakan seorang uskup sampai menjadi linglung.

Konon persidangan ini betul-betul terjadi. Penduduk membuat petisi untuk mengucilkan ulat kayu (alasan lain karena ulat kayu tidak disebutkan dalam kitab suci mengikuti bahtera). Petitions des habitans diikuti plaidoyer des habitans, disangkal dengan plaidoyer des insectes. Perdebatan memanas, sehingga penduduk membuat replique. Bartholome Chassene, selaku ahli hukum membalas dengan membuat repliques des insectes. Setelah kesimpulan jaksa, maka hakim memutuskan sebagai berikut: “...kami memerintahkan ulat kayu dengan siksa kutukan, laknat, dan pengucilan agar dalam waktu tujuh hari meninggalkan gereja Saint-Michel..”

Mungkin tidak sampai terbahak-bahak, karena nuansa yang lahir adalah komedi satir yang segar dan tak disangka-sangka. Namun dengan segenap kecenderungan komedinya, novel ini masih bisa menjadi sesuatu yang puitis, melankolik, dan penuh kepedihan. Segmen “The Survivor” bercerita mengenia wanita yang lelah dengan dunia, dan meninggalkannya begitu saja. “..Dia tinggalkan dunia di belakangnya dari suatu tempat bernama Doctor's Gully...”

Dalam pelayarannya, wanita ini bermimpi, berhalusinasi, dan berperang dengan benaknya sendiri, sementara pembaca mempertanyakan mana realitas yang benar. The Survivor dengan cergas menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga secara bergantian, yang dengan cara ini kondisi kejiwaan tokoh utama disenaraikan.

Bagian-bagian lain seakan-akan parade seorang novelis yang all-round. Ia bukan hanya pencerita handal, namun seorang sejarawan yang memahami dengan caranya sendiri, dan diatas semua hal; seorang kritikus. “Kapal Karam” adalah malapateka Rakit Medusa yang tenggelam dan bagaimana kemudian malapetaka itu kemudian diubah menjadi seni, lukisan terkenal karya Gericault.

“Gunung” dan Project Ararat mengisahkan petualangan mencari bahtera Nuh, dengan twist ending. Muncul pula seorang korban selamat Titanic dalam “Tiga Cerita Sederhana”--bersama dengan Kisah Yunus yang dimakan Hiu, dan korban Nazi yang terombang-ambing di lautan dalam “St. Louis”.
Bagian yang paling menyenangkan menurut saya adalah “Ke Hulu!”--menceritakan pembuatan film di hutan Amazon. Cerita bergerak melalui surat-surat yang dikirimkan Charlie, aktor dalam film truthspiel kepada Pippa, pacarnya—yang tidak dibalas-balas sampai cerita selesai. Charlie menulis surat dengan kocak, hampir berangasan mengenai amazon, interaksi dengan sesama kru film, dan suku indian yang telanjang, termasuk yang wanitanya. Charlie berusaha menahan untuk mendekati wanita-wanita Indian dengan menanamkan mindset: “mereka pasti penyakitan.”

Melalui “Ke Hulu!”, penulisnya mencoba masuk ke wilayah populer, setelah berlama-lama bermain-main di wilayah serius. Segmen ini mengingatkan pada film Romancing The Stone-nya Michael Douglas; lucu, dan penuh petualangan. Pada “Parenthesis”, kita menemui definisi dari kata-kata cinta, dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapapun. Sementara “Mimpi” menggugah suatu otokritik terhadap spiritualisme, dan pemaknaan kembali surga, ketika seorang laki-laki terbangun dan mendapati dirinya berada di surga.

“...Surga demokratis akhir-akhir ini.”
“Apa maksudmu?”
“Kami tidak memaksakan Surga kepada orang-orang lagi. Kalau mereka ingin, mereka bisa mendapatkannya; kalau tidak ya tidak...”

Novel ini sekali lagi adalah novel yang cerdas, menggiring pembaca dengan cekatan menyusuri peristiwa yang dituturkan dengan penuh kejutan, manis, dan rumit sekaligus enak dibaca sampai kata terakhir. Ia ingin berkata bahwa dunia berputar sedemikian rupa dan peristiwa saling berkelindan. “Sejarah berulang, pertama sebagai tragedi, kedua sebagai olok-olok.”

Tugu Kujang Suatu Ketika

Hujan di kota hujan, dan aku menunggumu di taman koleksi, menikmati turun salju, dari kapas yang berjatuhan, dari pohon-pohon tua yang tidak kita tahu namanya, apalagi usianya.

Sore yang orange, rinai hujan gerimis yang indah, yang tak membasahi, takkan kuyup, hanya air-air yang manja, yang menggenang di pucuk daun tertinggi dan menjadi titik-titik kecil di sekeliling kita. Kuserahkan padamu, untuk membuatku nyaman. Untuk membuatku merasa cukup—hanya dengan kehadiranmu.

Tapi saat ini, kau belum juga datang. Ku sudah menyiapkan sebait puisi yang kutulis ketika kuliah berlangsung di ruang kelas yang bisa menggemakan suara-suara. Suara-suara dari yang ada disana, maupun dari yang sudah tak ada lagi. Ruang kelas yang berbau masa lalu, seperti lelumut yang tumbuh di kost kamar sempitku, di balik jendela dimana daun merambat sampai genting, dan hujan selalu melahirkan embun disana. Kamu tahu, kerap kali aku berdiri, dan membiarkan pikiranku kosong kala menikmatinya. Disana.

Kemanakah kamu saat ini? ingin kubacakan puisi ini saat kamu datang. Puisi sederhana tentang kita. Bagaimana kita bisa lupa akan awalnya kedekatan kita—tiba-tiba menjelma kita. Dan kita hanyalah remaja yang sedang mengembara dalam alam pikiran, dan mengisinya dengan ilmu yang kita tidak tahu apakah kita membutuhkannya atau tidak. Tapi toh kita bertahan, sampai tiba saatnya nanti kita berdiri di podium dengan toga.

Kemanakah kamu saat ini? seseorang yang selalu membuatku bangga, seseorang yang independen. Bebas. Bagimu, hidup adalah menggapai kebahagiaan. Aku selalu terpesona ketika kutahu apa cita-citamu: menjadi bahagia. sementara mereka ingin selalu menjadi ekonom, menjadi pengusaha, manager, bankir, wartawan, produser film, menteri, ahli pangan, dan semua yang bisa dilahirkan di kampus kita. Kelak aku tahu memang pada akhirnya yang manusia inginkan hanyalah menjadi bahagia.

Bersama siapakah kamu saat ini? Aku ingin mendengar cerita kamu tentang Gunung Salak yang kamu daki bersama teman-teman Lawalata. Dan kamu begitu berani. Cerita yang sama, yang tak akan pernah aku bosan mendengarnya. dan kamu selalu bercerita dengan binar mata yang selalu bercahaya.

Hujan telah benar-benar berhenti. Maka kuputuskan berjalan menuju tugu kujang. Kulewati daun-daun perdu yang basah, bau tanah basah yang magis, dan gerimis-gerimis dari pohon-pohon tinggi yang bergoyang terkena angin. Tempat ini tak akan pernah sepi, takkan pernah hilang, ia kekal dalam ingatan.

Kalau tidak percaya tanyakan saja pada angkot-angkot hijau. Mereka memenuhi sudut jalan dengan setianya. Seolah tak ada yang lain. Namun, angkot-angkot itu adalah juga saksi kita. Ia mengantar kita ke Galaxy atau Dewi Sartika setiap senin, melewati kebun raya, dimana kita bersumpah tak akan pernah datang kesana berdua. Ia yang tak pernah mengantar kita sampai depan kos, menyerahkan kita pada hujan yang lalu membasahi kita. Satu payung tak pernah cukup untuk kita berdua, tetap membasahi, dan ini terjadi hari sabtu sore—suatu jam kuliah yang sangat tidak menguntungkan. Tapi, lihat sisi baiknya, semakin banyak hal demikian terjadi, semakin banyak pengetahuan tentang romantisme yang kita dapat. Tentang kita. Bersama kamu.

Aku hanya termenung menatap kujang, dan berpikir mengapa ada orang membuat monumen untuk senjata. Dan kota ini begitu akan selalu terasa damai, atau setidaknya begitulah yang akan kukenang. (karena disinilah aku mengenal, dan belajar menemukan sesuatu).

Tapi lihatlah aspal yang masih basah itu. ia membuat warna jingga yang sempurna, dari pantulan langit. Dan alam melambat saat ini, tetap hiruk-pikuk namun dengan frekuensi yang jauh berbeda.

Air yang menggenang menjadi kaca bagi langit, warna merah restoran fastfood menyumbang harmoni lukisan alam saat itu. kamu ingat pohon-pohon tua yang ada disana? Tiang-tiang telepon umum, ATM, dan resto itu. Banyak memori disana, ketika pengetahuan tentang cinta masih sangat lugu, sederhana, dan seadanya. Dan jika kamu ada di sampingku saat ini, aku ingin mengajakmu kesana, sebuah napak tilas yang melodramatik. Bahwa pada masa itu kita pernah ada, kita berarti setidaknya untuk satu sama lain. Bahwa ada malam-malam dimana aku mendengarkan lagu-lagu cinta, dan yang kubayangkan hanya kamu. Hanya kamu.

Lalu aku memutuskan untuk kembali. Kamu mungkin sudah menungguku. Aku tahu aku akan menemukanmu terpekur dengan buku, dan kau akan tersenyum dari balik bukumu, ketika kau mendengar aku datang. Atau aku akan diam saja, duduk menghadapimu yang serius membaca buku, sampai kau merasa cukup dan meneruskan kembali bacaanmu di kost. Setelah itu kita bicara, tentang apa saja. Tentang pembantu kost-mu yang latah, tentang dosenmu yang flamboyan, tentang buku-buku tua yang masih jadi textbook, tentang rapat senat, tentang segala kegiatan kamu, yang begitu kamu cintai. (akulah cinta ke-sekianmu). Karena bersamamu, aku takkan merasa bosan.

Senja ini akan kukatakan saja bahwa aku sangat berterima kasih padamu. Cinta adalah energi terbesar, dan kamu membawakannya untukku. Kamu adalah api yang senantiasa membakar. Kamu adalah matahari yang selalu membuat duniaku benderang, dan karena itu aku tidak mau hidup dalam dunia yang buram.

Aku membawakanmu rangkaian bunga dari rerumputan—kau selalu suka bunga. Langkah-langkah penuh desir, karena aku akan bertemu... baby.

Lalu kulihat kau disana, membelakangiku. Tapi aku tahu itu kamu, dan kamu bersama seseorang yang lain. Cukup lama bagiku untuk menerima kenyataan kalau kamu sedang bersama seseorang yang lain, dan orang itu bukan aku. Kamu memegang tangannya. Ia memegang tanganmu. Dan aku memegang bunga yang sedianya akan kuberikan padamu. Sesuatu membuatku melepaskannya.

Akulah rumput yang menangis. Akulah daun yang meneteskan air hujan. Akulah desau angin yang berbisik resah. Akulah kabut di kala malam merambat. Akulah batu-batu tua yang hanya bisa menjadi saksi, untuk tak diinginkan lagi.
Senja-senja seperti itu adalah senja dengan kesendirian yang sempurna.

Writer’s note: emotions flowing down on me when i wrote this.