Senin, 15 Mei 2017

Laki-laki yang Menantang Nyi Roro Kidul

Kau terbang menuju rumahmu setelah mengetahui kabar itu. Kau ketuk pintu rumahmu seperti orang kesetanan dan membuat ibumu tergopoh-gopoh membuka pintu dan menyambutmu; ia yang sangat merindukanmu, setelah kepergianmu lima tahun yang lalu. Sekarang, kau pulang di ambang petang, dan bahkan kau tak bisa melihat betapa ibumu ingin memelukmu, ataupun kilat di mata ibumu karena begitu senangnya telah melihatmu lagi. 
 “Wirasana, biarkan Ibu memelukmu, Nak”, kata ibumu. Sedetik saja kau memeluk ibumu, sebab kau tidak mau merasa cengeng. Lagi pula kau sudah tak sabar lagi untuk menanyakan sesuatu. 
“Betulkah yang kudengar tentang Nararya?” tanyamu sambil mendekati jendela yang menghadap ke lautan dan memandang ke arah kejauhan. 
Ibumu menghela nafas. “Apa yang kau dengar?” 
“Nararya hilang saat berenang di laut.” 
“Bukan hilang, tapi kami percaya ia diambil Nyi Roro Kidul.” 
“Nyi siapa?” tanyamu, sambil membalikkan badan. 
“Oh Dewata! Kamu tidak pernah mendengar mengenai Nyi Roro Kidul?” 
“Tidak,” katamu. Ibumu kaget, lalu duduk di ranjangnya.
Mendengar jawabanmu, air mataku jatuh menjelma hujan di Laut Selatan. Ombak bergelunggelung, melahirkan suara yang memekakkan telinga dan mengirimkan gemuruh ke telingamu. Demikian kesedihanku karena kau tak pernah mendengar tentangku, seolah pengorbananku tiada artinya, dan hadirku tidak memiliki makna.
Di antara gemuruh itu, ada gemuruh lain, yaitu dari hatimu. Kau begitu muda, kau baru pulang dari petualanganmu, seolah itu keniscayaan di usiamu itu, dan kau merasa bisa melakukan segalanya.
“Aku akan mencarinya, Ibu”. Ibumu terkesiap, masih tak bisa menduga betapa bersemangatnya dirimu.
“Wirasana, Ibu tahu kau telah berteman dengan para pendekar. Kau percaya pada 2 kehebatan dan keajaiban, tapi jika kau berniat mencari Nararya, itu hanya akan menjadi kesia-siaan belaka!”
“Mengapa? Siapa tahu dia terdampar di suatu tempat dan membutuhkan kita, Ibu.”
“Dia telah tak ada di dunia yang sama dengan kita. Relakan dia, Nak.”
 “Tidak! Aku tidak akan menyerah begitu saja, apalagi kalau ini ternyata hanya ulah seorang wanita…”
“Kanjeng Nyi Roro Kidul, Nak.”
Kau mendengus, kau tak bisa menerima kenyataan itu. Akhirnya kau muncul dengan gagasan yang membuat ibumu tercengang. “Kalau begitu aku akan mencari Nyi Roro Kidul dan memaksanya untuk mengembalikan Nararya!”
 “Wirasana, hati-hati dengan apa yang kau ucapkan, nanti kedengaran Kanjeng Ratu!”
Tak kau dengarkah gemuruh ombak di kejauhan? Lalu deru angin yang membawa awan hujan mendekati daratan?
“Aku sama sekali tidak takut!”
“Ibu tidak akan mengizinkanmu. Kau tidak boleh dekat-dekat laut, Kanjeng Ratu gemar mengambil laki-laki yang masih bujangan seperti dirimu.”
 “Ini tidak bisa dibiarkan. Tidak boleh ada apapun yang membuat kita hidup dalam ketakutan seperti itu, Ibu,” katamu.
Namun aku tahu dari dalam lubuk hatimu kau bisa memahami kekhawatiran yang dirasakan ibumu. “Ibu siapkan makanan ya? Kau pasti lapar. Setelah itu, kau lupakan idemu untuk mencari Kanjeng Ratu.”
Kau diam saja, tapi aku tahu sekali justru pada saat inilah kau sedang merancang rencana klandestin di kepalamu untuk menemuiku.
***
Langit di Pajajaran malam itu bagaikan medan pertempuran antara Batara Chandra dan Raksasa Kalaharu. Beberapa kali Kalaharu menelan Batara Chandra, namun karena ia hanya raksasa tanpa tubuh, ia selalu gagal setiap kali ia menelan Batara Chandra. Bulanpun selalu muncul kembali setelah awan hitam itu 3 menelannya beberapa lama, menerangi taman yang indah di sekitar istana kerajaan.
“Nak, mengapa kau tatap langit dalam kemuraman?” tanya Raja Munding Wangi.
“Ayahanda, lihatlah bulan di langit. Sebentar-sebentar timbul, lalu tenggelam. Ketika timbul, sinarnya cerah keperakan seperti taburan kebahagiaan dari angkasa. Tapi ketika tenggelam, malampun terasa gulita dan menyeramkan. Aku yakin seperti itulah yang Ayah rasakan sekarang. Ayah bahagia, tapi ada yang sedang membuat Ayah resah,” kata Dewi Kadita.
Munding Wangi terdiam beberapa saat sebelum berkata lirih. “Nak, aku tidak menyangka akan bisa merasa seperti ini lagi setelah kematian ibumu bertahun-tahun yang lampau. Jika kecantikanmu membuatmu dijuluki Dewi Srengenge, maka Dewi Mutiara laksana bulan yang bisa menemani malam-malam sepi Ayah.” 
“Ayah pasti tahu, apapun akan kuberikan untuk membuat istana kita menjadi taman penuh kegembiraan untuk hidup Ayah.”
Munding Wangi menghela nafas, memejamkan matanya sebentar dan menundukkan kepalanya. Ia benar-benar bersyukur dalam hatinya ketika putrinya memberinya pertanda kalau ia merestuinya untuk menikah lagi. Namun, yang tak diketahui Dewi Kadita, sesungguhnya Munding Wangi ingin menikah dengan Dewi Mutiara untuk bisa mendapatkan keturunan laki-laki yang bisa menjadi penerusnya sebagai Raja Pajajaran.
Kebijaksaaan putrinya merayapi pikirannya seperti langit yang kini mulai dihuni bintang-bintang. Malam telah semakin larut. Debur ombak di laut yang sedang pasang terdengar di kejauhan seolah ingin mengatakan jika hasrat sedang berbicara maka tidak akan ada yang mampu meredam gejolaknya di hati manusia.
“Ayah, tidurlah. Malam tidak akan bisa membawa Dewi Mutiara ke peraduan Ayah, kecuali jika Ayah yang menjemputnya sendiri.”
Munding Wangi tersipu-sipu mendengar perkataan putrinya. Maka disirami dengan cinta yang menggenangi hatinya, ia minta diri, meninggalkan Dewi Kadita sendirian yang lalu diam-diam menangis karena tiba-tiba teringat ibu kandungnya.
Dua purnama setelah percakapan di malam hari itu, daun-daun berguguran dari pepohonan yang meranggas di Pajajaran. Bertebaranlah aroma malapetaka, melengkapi masa paceklik yang sedang terjadi. Ladang para petani mengering, tanahnya pecah-pecah, dan retak-retak di sana-sini.
Namun pada siang itu, Munding Wangi justru sedang menjadi orang paling bahagia. Senyumnya mengembang lebar, ia tebarkan kepada rakyatnya yang berbaris di sepanjang jalan menuju istananya. Mereka kagum melihat keindahan kereta kencana yang dinaiki Munding Wangi bersama Dewi Mutiara.
Meski sebenarnya mereka justru sangat ingin melihat Dewi Kadita yang mereka cintai, yang pada saat itu tidak ikut dalam rombongan menjemput Dewi Mutiara. Bagi Dewi Mutiara, inilah hari yang selalu dikhayalkannya.
Sejak pagi hari, ia sudah mengunyah daun sirih agar nafasnya wangi ketika merayu Munding Wangi. Bibirnya merah karena sekapur sirih, badannya diolesi param, dan bungabunga wiraga ditancapkan ke kondenya yang tergelung dengan indahnya. Gamelan Lokananta menyambut kedatangan mereka di istana.
Dewi Kadita memeluk ayahnya, lalu bersimpuh di hadapan perempuan yang sebentar lagi akan menjadi ibu tirinya. Seisi istana menundukkan kepalanya, tanda kepatuhan pada permaisuri raja mereka yang baru.
Selama tujuh hari tujuh malam berikutnya, istana menggelar pesta. Dewi Mutiara mendengus dalam hatinya, sudah tidak sabar lagi untuk menjadikan tanah Pajajaran ada dalam genggaman tangannya. Namun ajaibnya, bibirnya tetap menyunggingkan seulas senyum, yang selalu siap ia persembahkan untuk Munding Wangi.
Ketika Dewi Mutiara hamil, makin tampaklah perangainya yang sebenarnya. Ibarat buah persik busuk yang dagingnya dihuni ulat, hati Dewi Mutiara ternyata digerogoti kedengkian. Kebenciannya pada Dewi Kadita juga makin menjadi-jadi. Dewi Kadita yang makin hari makin jelita dan sangat dicintai semua rakyat Pajajaran. Sementara ia tahu, sebagai ratu, dirinya tak disukai, titahnya dituruti, namun ia tak pernah mendapat penghormatan dan pengakuan yang diidamkannya.
***  
Kau tersentak dari tidurmu. Kau mendengar bunyi nafasmu sendiri, detak jantungmu tak teratur. Matamu terbuka tapi kau hanya melihat kegelapan menyelimuti peraduanmu. Telah kau dengar yang lebih detail dari ibumu, tentang kereta kencana yang terbang di atas lidah-lidah ombak, ditarik kuda-kuda putih nan gagah. Bahwa mereka melihatku menaiki kereta kencana itu, mengenakan pakaian berwarna hijau, dengan selendang menari-nari ditiup angin. Bahwa kemunculanku selalu menjadi pertanda akan terjadinya sesuatu yang buruk.
Namun kalian yang menginginkan kebenaran tidak akan mendapatkannya kalau kalian hanya bisa menelan bulat-bulat apa yang diceritakan orang. Kau mendengar suara-suara yang memanggil-manggil namamu, sayupsayup dan datang dari arah samudera, lebih jelas dari sahutan jangkrik di dini hari itu. Kau yakin itu suara sepupumu, menunggumu menyelamatkannya.
Semakin lama semakin terdengar jelas di telingamu, dan membuatmu merasa bersalah untuk hanya diam saja. Maka kau berjingkat-jingkat bangun, berkemas seadanya dan memantapkan hatimu. Kau tidak ingin membangunkan ibumu, kau menyayanginya maka kau menanggalkan cincin kecubung yang kau kenakan di jarimu, meletakkannya di atas ranjangmu, agar ibumu tahu bahwa kau pergi, tapi untuk kembali. Kau tiba di negeri yang pernah loh jinawi. Tanah retak dan pecah-pecah, panen gagal, banyak orang meninggal karena wabah penyakit. Pageblug, kata orang.
Kau mencoba mengajak bercakap-cakap orang-orang yang kau temui di jalan. Mereka semua memandangmu dengan tatapan sayu, matahari telah direnggut dari hidup mereka. Di negeri itu, rakyat hidup dalam kemelaratan sementara pemimpinnya bermewah-mewah dalam penjara dunia bernama kuasa. Hanya sepuluh tahun sesudah kepergian Dewi Kadita, Munding Wangi dan Dewi Mutiara kini telah kelihatan begitu renta. Tahta kerajaan sudah dipegang oleh anak laki-laki mereka yang juga tak berdaya karena penjara dunia lainnya: wanita.
Kau geram. Di istana, kesemarakan dan pesta ria berlangsung tak ada habisnya. Raja mungkin telah lupa akan janjinya, mabuk oleh ocehan manis para penjilat di sekelilingnya. Kau telah menerobos masuk dan berbicara pada raja mabuk, tapi para pengawal menangkapmu. “Andai saja ada balatentara sedikit saja menyerang istana saat ini, habislah sudah kalian!” Raja diam saja. Benaknya tak ada di sana, tapi di tempat di mana kenikmatan dunia berada, diterbangkan oleh bergelas-gelas tuak yang telah diminumnya.
Para pengawal menyerbumu, mereka ingin dilihat sebagai yang paling setia, tapi kau telah menguasai ilmu bela diri dari laku yang telah kau jalani bertahun-tahun lamanya, maka gugurlah mereka dalam sebuah perkelahian yang berlangsung sangat singkat. Kekuatanmu bukan tandingan mereka.
Mendengar keributan itu, muncullah Munding Wangi dan Dewi Mutiara, yang terseret-seret dalam langkahnya. Usia telah menggerogoti tubuh mereka. “Siapa kau?” tanya Munding Wangi. “Wahai Paduka, negeri ini pernah dikenal membawa terang di mana-mana, sampai-sampai negeri tetangga seolah ikut menerima pancaran cahayanya. Tapi apa yang terjadi sekarang? Tidak ada lagi kebijaksanaan yang menopang jiwa negeri ini! Negeri ini telah kering kerontang dan bahkan telah menjadikan seorang putri yang cantik menjadi tumbalnya!”
“Lancang sekali mulutmu! Pergi dari sini!”
Kau melihat Dewi Mutiara menghardikmu dengan sia-sia, karena tidak ada siapapun untuk disuruh, tidak ada balatentara untuk diperintah, bahkan anak laki-laki yang sangat diharapkannya ternyata tak berguna dan kelak bahkan namanya tidak pernah dikenal orang.
“Kalian telah buta, sebab negeri ini telah kehilangan mataharinya. Hamba sebenarnya tak peduli, tapi hamba tak terima kalau akibat ulah kalian banyak keluarga yang terenggut kebahagiaannya!”
“Lalu apa maumu?” tanya Munding Wangi.
“Hanya permintaan maaflah yang akan menyelesaikan ini semua, membersihkan kedengkian yang sudah menguasai hati.”
Tetapi kau lalu kecewa sebab Munding Wangi dan Dewi Mutiara lebih memilih untuk tenggelam dalam keputusasaan, menyerah pada keserakahan, dan menghamba kegelapan yang akan membawa Pajajaran terperosok ke jurang.
“Aku akan menyambut kematianku dalam hari-hari yang semakin panjang di dunia. Bahkan jika umurku panjang, itu akan menjadi malapetaka dan penderitaan bagiku, yang lebih getir daripada apa yang kau ketahui,” kata Munding Wangi.
“Aku hanyalah seorang ibu yang mencintai anaknya,” tambah Dewi Mutiara. Anak yang dimaksudkannya sedang tertidur dengan mulut menganga. Kau melihat mereka telah begitu tua, kekuatanmu tak sepadan untuk mereka, barangkali mereka akan mati lebih dulu sebelum mencapai samudera.
Akhirnya kau mengurungkan niatmu untuk membawa mereka ke Laut Selatan. Semilir angin malam menjadi kejutan untukmu. Sebab kau sama sekali tak mengharapkan ada sesuatu yang begitu manis bisa kau rasakan di negeri ini. Lalu kaupun melangkah pergi, dan semakin menjauh. Bulan menjadi mercusuarmu menuju lautan.
***
Dewi Mutiara terbelalak. Matahari belum benar-benar menghilang dari cakrawala, tapi ia sudah melihat kegelapan dalam dunianya.
“Aku sudah memutuskan, Dewi Kadita lebih layak memimpin negeri ini dibandingkan anak kita,” kata Munding Wangi dengan suaranya yang berwibawa.
“Kanda, anak kita memang baru berusia sembilan tahun. Masih panjang perjalanannya, ia belum lagi belajar memanah, belum mahir berburu, tapi aku yakin dengan bimbingan kita, ia akan menjadi seorang raja yang hebat di Pajajaran ini.”
 “Permaisuriku. Tidakkah kau lihat aku sudah begitu tua dan rakyat begitu mencintai Kadita. Ia akan menjadi seorang ratu yang hebat yang akan membuat keagungan Pajajaran semakin diakui.”
“Tapi Kanda sudah berjanji kalau anak laki-laki kita yang akan menjadi raja, meneruskan tahta Kakanda.”
“Maafkan aku, Dewi Mutiara. Sudilah kau menerima kesalahanku. Aku telah bersalah padamu, juga pada Dewi Kadita. Aku menikahimu untuk 8 mendapatkan anak laki-laki, tapi kini aku memutuskan jika Kaditalah yang lebih layak menjadi penerusku.”
“Oh... Kanda...”
“Tapi jangan khawatir, aku masih mencintaimu. Kau akan selalu jadi permaisuriku,” kata Munding Wangi.
Dewi Mutiara terdiam. Matahari kini benar-benar telah tak terlihat lagi, membuat siapapun tak bisa melihat kilat jahat di matanya, begitu ia memikirkan Dewi Kadita. Alam terus membisu dalam kerontangnya. Tak ada angin merayap menembus mega, menjatuhkan hujan yang telah begitu lama dirindukan.
Di Gua Sunyaragi, ratusan kelelawar terbang berduyun-duyun menuju bagian dalamnya yang gelap, menyembunyikan diri dari matahari yang sebentar lagi terbit. Jahil berdiri waspada, ia sudah bangun jauh sebelum terlihat tanda-tanda fajar menyingsing, dan kini menatap ke arah barat. Ia mendengar ringkik kuda, dan langkah-langkah kaki yang berjalan mendekat ke arahnya.
Tak berapa lama, muncullah seorang wanita separuh baya. Hela nafasnya meruapkan ketakutan, gerak tubuhnya dikepung kecemasan. Ia Pooja, seorang abdi dalam istana yang diantar seorang pesuruh untuk mendatangi gua angker itu; pesuruh penakut yang meninggalkannya di kejauhan karena jiwanya sudah mengkeret hanya dengan melihat gua gelap gulita itu dari kejauhan.
Mereka berkuda sejak dini hari dibayangi titah Dewi Mutiara yang menakutkan, dengan hanya satu tujuan.
“Dukun yang sakti, ampunilah nyawaku,” kata Pooja sambil memeluk kaki Jahil.
Walau bagaimanapun, penyihir tua itu terkejut, lantas menepis pelukan Pooja yang kemudian terlempar beberapa depa darinya.
“Tempat ini dibenci cahaya, dan berbau anyir darah, namun masih ada saja yang datang dan merisakku,” kata Jahil.
“Ibu, aku datang atas titah Dewi Mutiara yang berpesan akan meluluskan apapun permintaanmu jika Ibu bersedia membantunya,” kata Pooja.
Pooja lalu menceritakan apa yang dititahkan Dewi Mutiara untuk disampaikan pada Jahil. Ia mengingatnya baik-baik, tanpa cela, dan sebagaimana 9 adanya, sebab kealpaan sedikit saja bisa membuatnya kehilangan nyawa. Lalu setelahnya, Jahil manggut-manggut. Tubuh tuanya yang ringkih batuk-batuk sebentar, lalu menyuruh Pooja pergi.
Pooja meninggalkannya dengan kelegaan luar biasa, namun ia juga merasakan kesedihan teramat sangat ketika mengingat sesuatu yang buruk akan segera terjadi pada Dewi Kadita yang dicintainya. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa.
Waktu akhirnya Dewi Kadita masuk ke peraduannya malam itu, ia sudah lelah seharian menemani adik tirinya bermain di keputren. Dua ekor kera jinak peliharaan mereka siang tadi melompat dari pohon ke pohon, membuat siapapun yang melihatnya tertawa-tawa, termasuk adik tirinya yang juga ditemani dayang-dayang yang patuh padanya bagaikan tak berjiwa.
Dewi Kadita sangat sayang pada adik tirinya itu, meski Dewi Mutiara selalu memperlakukannya bagai dayang-dayang tak berjiwa itu. “Kadita!” hardik Dewi Mutiara ketika pada suatu waktu menemukan anaknya menangis karena terjatuh.
“Anakku yang malang, mungkin kakak tirimu lupa kalau kau baru berusia sembilan tahun, belum bisa mengikuti langkah-langkah kaki orang dewasa sepertinya. Apa salahmu sampai harus diseret-seret seperti itu?”
Dewi Kadita hanya bisa minta maaf, mendengar sindiran seperti itu. “Kadita! Sungguh aku malu pada rakyat jelata jika menemukanmu semalas ini. Lihatlah matahari sudah merekah, tapi kau masih saja bergelung di peraduanmu!” kata Dewi Mutiara ketika melihat Dewi Kadita masih tergolek di kamarnya, meski ia tahu saat itu Dewi Kadita sedang tidak enak badan.
Siksaan batin dari Dewi Mutiara terus mendera Dewi Kadita. Tapi ketika Munding Wangi berada di dekat mereka, Dewi Mutiara menjelma seorang ibu yang berbeda, ibu yang penuh perhatian dan kasih sayang.
Malam itu, dalam nyenyak tidurnya, Dewi Kadita tidak bisa merasakan adanya perubahan cuaca. Tiba-tiba angin bertiup kencang di luar peraduannya, bunga padma mendadak layu, dan pokok-pokok pohon bergoyang-goyang. Angin itu seperti tangan raksasa yang membuka pintu kamarnya, lalu menyelimutinya, sebagian terhirup oleh nafasnya dan masuk melalui pori-pori kulitnya.
Setelah itu lalu hening beberapa saat. Namun keheningan itu seolah menggeret dan mengoyak kulit Dewi Kadita. Sekujur tubuhnya seperti melepuh, timbul kudis, borok dan bisul disertai sisik yang mengeluarkan bau anyir dan terlihat menjijikkan. Samar-samar, Dewi Kadita seperti mendengar suara gaib dalam tidurnya. Ia terbangun karena menghirup bau busuk seperti bangkai, lalu ia meraba kulitnya yang terasa teramat gatal dan merasakan luka bernanah.
Cahaya temaram dari luar membuatnya bisa melihat kalau kulit di tangannya seperti bersisik dan bengkakbengkak. Ia terkesiap, merasakan jantungnya seolah berdetak delapan ratus kali lebih cepat, namun ia teringat kalau ia sedang tertidur, dan barangkali ini semua hanya mimpi. Ia memencet sebuah borok di dekat pergelangan tangannya, dan terasa sakit. Ia mengaduh, dan saat itulah ia menyadari kalau ini semua bukan mimpi. Ia berteriak sekeras-kerasnya, “Ayahanda!” Lalu gadis cantik itupun pingsan.
***
Awalnya kau tidak tahu dan ragu. Kemudian muncullah mereka: mimpi-mimpi, pertanda, bisikan gaib. Kau lalu tahu bahwa mimpi-mimpi, pertanda dan bisikan gaib itu bukan hadir tanpa makna, melainkan membawamu pada seorang resi; ia yang tak peduli terhadap apapun yang sudah kau lakukan di masa lalu, dan menjelma paksi ketika kau merasa putus asa.
“Wirasana anakku, hentikan niatmu jika semua ini hanya akan berakhir sia-sia. Kau akan berhadapan dengan sesuatu yang di luar jangkauan kekuasaan manusia. Siapakah makhluk di dunia ini yang dapat mengalahkan Nyi Roro Kidul?” tanya Resi Abiyasa.
“Resiku, adakah bunga mekar di hutan ini yang belum kau ketahui? Adakah embun pada dedaunan yang menetes di luar pengetahuanmu? Aku telah memantapkan tekadku untuk menemuinya dan telah siap dengan segala resikonya,” jawabmu.
 “Wirasana, aku tidak akan tega melihat penderitaanmu, tapi ada sebuah laku yang harus kau jalani untuk mampu mencapai apa yang kau inginkan. Pergilah kau bertapa agar dirimu siap untuk menemuinya.”
“Aku siap, aku siap.”
“Tabahkanlah hatimu seperti ibumu yang kini diam dalam penderitaannya karena setiap hari mencemaskanmu.”
Tergetar hatimu mendengar Resi Abiyasa menyebut-nyebut ibumu. Kau juga teringat cincinmu yang kau tinggalkan di rumah, sebagai pesan bahwa kau akan kembali. Kau semakin ragu bahwa kau akan bisa memenuhi janji itu, namun di saat yang sama, kau begitu ingin mewujudkannya.
“Ingatlah pesanku, Nak. Nyi Roro Kidul hanya akan mengambil perjaka atau perawan. Jika kau ingin selamat, cepatlah kau cari seorang wanita untuk kau peristri, sebelum kau berangkat menemuinya.”
“Resi, bukan maksudku untuk menepis semua wejanganmu. Tapi aku tidak akan kalah bahkan sebelum bisa bertemu dengannya. Justru aku ingin mematahkan segala hal yang selama ini sudah ditancapkannya ke dalam benak kita,” katamu dengan berapi-api.
“Dalam hidupmu ini, kau sendirilah yang akan menanggung segala akibatnya. Kalau memang itu yang kauinginkan, kau akan menemukan jalanmu sendiri menuju ke sana. Tapi kau harus bisa melihat ke dalam hatimu sebab kau hanya akan merasa siap ketika tidak ada lagi kemarahan yang kau rasakan di dalam hatimu itu,” terang Resi Abiyasa.
Kau mengangguk-angguk, terharu akan kebijaksanaan yang baru kau dengar. “Semoga kelak perjumpaanmu dengan Nyi Roro Kidul bisa dimaknai oleh semua orang yang mengetahuinya,” kata Resi Abiyasa.
Setelah berkata demikian, Resi Abiyasa menghilang dalam kemuliaannya. Kau lalu berlutut, dan bersujud. Kau bermeditasi di malam hari, dan melatih fisikmu di siang hari. Kau tidak makan apa-apa dan hanya minum air hujan yang tertampung pada daun keladi hutan. Semesta menangis, tak tega melihat tirakatmu selama 40 hari 40 malam.
***
Dewi Kadita mengangkat wajahnya dari jampi-jampi di daun lontar yang sedang dibacanya dan melihat mata basah Munding Wangi yang sedang menatapnya. Gadis itu mulai berbicara dalam kegelapan. Dewata membiarkanku hidup untuk satu alasan, yaitu yang akan tidak diungkap sampai saat-saat terakhir nanti. Akulah seorang gadis yang ketika ditinggalkan sendirian di hutan, akan bersahabat dengan binatang-binatangnya dan minum dari tetesan embun yang terkumpul di daun keladi.
Di istana sangat mudah kehilangan kemampuan untuk melihat hidup yang sebenarnya, hidup rakyat jelata. Mereka masih terus saja menangis, Ayah. Lalu tanpa bisa kucegah, mereka sudah tahu keadaanku sekarang ini dan tambah sedihlah mereka. Padahal sebisa mungkin aku senantiasa berusaha untuk membuat bahagia semua orang dan melakukan kebaikan untuk mereka.
Namun pada akhirnya aku sadar kalau aku bukanlah yang memiliki semua kebaikan-kebaikan itu. Kebaikan-kebaikan itu sudah lama ada dan hanya ingin mengejawantah melaluiku. Angin bagaikan sang pembisik. Dersiknya terdengar di setiap telinga rakyat yang terdiam sedih.
Musim tak juga berganti, harum kembang-kembang seolah sebuah legenda yang berasal dari kebohongan yang sesungguhnya tak pernah nyata. Seorang anak manusia berjalan sambil menutupi seluruh tubuhnya, berharap untuk menjadi tak terlihat.
Sang Surya kasihan melihatnya dan mengurangi teriknya. Tapi tetap saja, dunia mengamati takdir Dewi Kadita yang harus dipenuhi hari itu. “Malang sekali nasibmu, Ananda Kadita. Hatiku selalu menjerit bila aku melihat kekejaman dunia kepadamu. Lihatlah tanah yang retak-retak itu, seperti itulah hatiku melihatmu,” kata Dewi Mutiara sambil terisak-isak melihat kepergian Dewi Kadita. Munding Wangi menghela nafas.
“Anakku, Kadita. Teruslah menapaki takdirmu, Nak. Tapi ketahuilah kehidupan ini tidak akan begitu saja berakhir setelah kepergianmu. Sosokmu tidak akan mudah sirna hanya karena penyakit yang kau derita.”  
Selama tujuh hari Dewi Kadita terus berjalan menuju ke arah selatan. Semakin jauh dari istana, ia semakin tidak dikenali dan diperlakukan tak ubahnya najis manakala ia berpapasan dengan orang-orang di desa-desa yang jauh. Mereka tentu tak tahu bahwa ia sedang menuju ke samudera yang derunya semakin jelas terdengar, seiring kaki-kaki kurusnya melangkah. Ia bertanya-tanya asal deru menggelegar itu, apakah dari angin kencang yang menyapu ombak, ataukah dari sesuatu yang berada di kedalaman lautan.
Pada saat itulah Dewi Kadita merasa hidupnya telah sampai, dan ia hanya perlu menggenapkannya begitu tubuhnya dipeluk samudera, di senja itu. Teruslah berjalan ke arah tengah samudera, kau akan cantik kembali seperti sedia kala, tapi tempatmu bukan lagi di dunia ini.
Bisikan itu semakin jelas terdengar. Ketika kakinya melangkah semakin jauh, luka-luka di kulitnya seketika hilang dan ia menjelma wanita cantik seperti sedia kala, persis seperti yang dibisikkan suara-suara gaib itu kepadanya. Dewi Kadita bergembira, hilanglah sudah semua kesedihan di hatinya, seperti kulitnya yang mulus kembali.
Tapi kini, ia tiba-tiba menjadi sangat rindu pada ayahnya dan ingin kembali. Ayah, lihatlah sisik di tubuhku hilang, tidak ada lagi borok, bisul dan kudis. Aku telah sembuh, Ayah. Biarkan aku kembali padamu, Ayah.
Lalu tiba-tiba lautan bergejolak. Ombak besar mulai mengombangambingkan air laut di samudera yang maha luas itu, mengepungnya. Dewi Kadita mencoba melawan tapi sia-sia. Dengan derai airmata, ia membiarkan dirinya menjadi serupa buih yang berenang-renang bersama gelombang besar yang bergulung-gulung. Angin besar menderu-deru dan bertiup dengan kencang. Bumi terasa bergoncang untuk selama-lamanya, lalu setelah itu mereda, dan ia tidak meronta-ronta lagi.
***
Mari, kupondong kau ke istanaku. Di sana akan kau temui pemuda-pemuda yang menjadi balatentaraku, dan mereka akan mengabdi padaku untuk waktu yang tepermanai. Kau telah sampai di bibir pantai, dan dengan matamu yang teduh kau memandang ke laut lepas di hadapanmu. Kau terus melangkah hingga air laut memelukmu setinggi pinggang.
Apakah itu hijau yang kau kenakan?
Tiba-tiba berteriaklah kau dengan seluruh dayamu. Di sana tidak ada kemarahan, hanya ketegasan. Aku bersyukur kau telah menjalani lakumu dengan sempurna selama 40 hari 40 malam. “Wahai Nyi Roro Kidul! Betulkah Anda penguasa Laut Selatan?” 
“Tunjukkan wujudmu!”
Aku menjawab dengan ombak besar yang kukirimkan dan membasahi tubuhmu.
“Wahai Nyi Roro Kidul! Anda katanya suka menculik pemuda-pemuda? Apakah itu benar?”
Kau terus berjalan, sampai air laut kini telah setinggi dadamu. Kau mulai limbung karena bobot tubuhmu tak sebanding dengan tarikan samudera yang kuat.
“Apakah itu benar? Kalau benar, kembalikan sepupu saya! Kembalikan juga yang lainnya!”
“Cobalah muncul!”
“Cobalah muncul!”
“Saya ingin mengetahui yang sebenarnya! Saya inginkan kebenaran!”
Kukirimkan lagi ombak untukmu sebagai jawabannya. Kini semakin basah kuyup seluruh tubuhmu. Setelah itu kau mundur beberapa langkah agar tubuhmu tidak limbung, kau ingin berpijak dengan kuat di dasar laut. Namun, pada akhirnya emosi mulai hadir menguasai dirimu. Kecipak air laut yang asin membuat matamu merah dan kau marah.
“Nyi Roro Kidul! Aku menantangmu berduel! Muncullah sekarang juga!” Angin
menderu, ombak bergelung, semakin dan semakin besar. Kau justru terus melangkah, menapaki dasar laut yang semakin dan semakin dalam. Namun kau tidak tahu, ibumu datang bersama orang-orang. Ia berteriakteriak memanggil-manggilmu. Ia ingin berlari menarik tubuhmu, tapi yang lain memegang tangannya erat-erat agar tetap berada di bibir pantai.
 “Wirasanaaaa!” teriaknya penuh kesia-siaan. Air matanya makin deras bercucuran demi melihatmu timbul tenggelam di tengah ombak yang bersuara menggelegar.
“Dewata, mengapa kau timpakan kemalangan ini kepadaku?”
Beberapa orang mencoba memeluknya, merelakanmu. Namun kau tentu saja tidak mendengar semua itu. Bahkan pandanganmu mulai mengabur. Kau merasa akan mampu melawan hukum alam ketika gelombang yang membentur pantai akan kembali lagi ke laut, dan gelombang ini amat kuat. Ia menarikmu semakin jauh ke tengah laut. Tidak ada gunanya kau berenang sekuat tenaga melawannya.
Namun kau melakukannya juga sebab kau merasa itu caramu untuk melawanku. Tidakkah manusia sepertimu sadar kalau kalian tidak bisa melawanku?
Kalian terlalu lemah. Kau kini dipeluk erat oleh gelombang, yang mengajakmu menari-nari penuh gairah. Nyawamu dipermainkan gelombang itu. Ia lalu memberikanmu apa yang kau harapkan dari alam bawah sadarmu, sejak ibumu menceritakannya: kau melihat sebuah kereta kencana yang sungguh besar dan indah, terbang di atas lidah-lidah ombak, ditarik kuda-kuda putih nan gagah. Bahwa samar-samar kau merasa melihatku di sana, mengenakan pakaian berwarna hijau, dengan selendang menari-nari ditiup angin.
Kau terpesona. Matamu terbuka. Senyum tersungging di bibirmu. Kau tak meronta-ronta lagi. Angin besar menderu-deru dan bertiup dengan kencang. Bumi terasa bergoncang untuk selama-lamanya, lalu setelah itu mereda, dan ia tidak merontaronta lagi. Di pantai, telah tidak ada siapapun lagi. Ibumu telah pulang, membawa dukanya. Tidakkah kau sadar, bahwa ia dan semua orang kini akan semakin membenciku?

Sebuah cincin bermata kecubung tergeletak di atas pasir. Itu milikmu dan ibumu telah tanpa sengaja menjatuhkannya. Melalui cincin itu, kau pernah berjanji untuk kembali, namun kini siapapun boleh mengambil cincin itu, membiarkannya di sana atau membuangnya ke laut.

Minggu, 11 Desember 2016

Matahari Terbit dari Banyuwangi

Kami berdua duduk menyusuri sawah, yang ditanami jeruk, buah naga, dan kubis. Nick mengangguk-angguk melihat bagaimana tumpang sari dilakukan di desaku. Ia berbincang-bincang dengan Bapak dan beberapa petani penggarapnya, sementara aku berteduh di dangau.

Aku ingin selalu melihat pemandangan itu. Nick berada di tengah-tengah lelaki lainnya, bersama Bapak dan para petani. Mereka akan sibuk mengecek buah jeruk, memetik buah naga, dan menyiangi kubis. Aku tak keberatan kulitnya akan gosong, dan tubuhnya meruapkan bau sawah. Aku akan membawakan makan siang ke dangau. Menunya nasi dan ikan asin.

Nick menghampiriku. Lamunanku buyar. Wajahnya penuh senyum, seperti sedang terpesona. Ternyata ia baru mendengar cerita kalau keuntungan petani jeruk Banyuwangi cukup besar, bisa mencapai Rp 30 juta persetengah hektar.

"Di Jakarta, orang bisa kerja mati-matian tapi hampir mustahil bisa mendapatkan tiga puluh juta!" "Sama saja, Nick! Petani di sini juga punya banyak masalah. Kadang-kadang kalau musim kering, jeruknya enggan berbuah. Kalaupun ada, itupun tidak berkualitas. Rasanya nggak manis, bentuknya nggak jelas."

Nick terdiam. Ia tampak berpikir. Matanya menyipit menahan silau matahari. "Tapi tetap saja, Jeng! Kamu gadis yang beruntung! Kamu bakal mewarisi semua ini. Apalagi seperti cerita kamu, kakak-kakakmu nggak ada yang tertarik menjadi petani!"

"Tapi, aku juga nggak mau jadi petani! Itu kan pekerjaannya laki-laki. Lebih baik aku jadi istrinya petani..." Aku mencoba melucu. Tapi Nick sama sekali tak tersenyum.

Di kejauhan, beberapa petani Bapak memperhatikan kami.
"Menarik sekali," kata Nick seperti bergumam.
"Apanya yang menarik, Nick?"
"Lebih baik kamu menggarap lahan ini daripada kerja jadi customer service di Surabaya."
"Nanti kulitku tambah item. Ogah ah, Nick!"
"Kamu kan nggak harus terjun ke sawah. Tapi kamu bisa membuat perkebunanmu menghasilkan produk bernilai tambah."
"Maksud kamu?"
"Supaya bisnis kamu berkembang."
"Untuk memenuhi permintaan dari Bali saja, Bapak udah kewalahan."
"Di situlah letak tantangannya Jeng. Kalau kamu bisa berpikir di luar dari yang dipikirkan orang-orang, kamu selangkah lebih maju dari mereka."

Aku terbuai semangat Nick. "Jadi apa yang harus dilakukan?"
"Dari jeruk saja, kamu bisa membuat macam-macam produk. Sari jeruk, manisan kulit jeruk, atau kafe."
"Kafe?"
"Iya, bayangkan kafe yang serba jeruk. Ornamennya, interiornya, menunya."
"Ini Banyuwangi, Nick. Bukan Jakarta."
"Kamu bisa buka di Surabaya."

Ia menceritakan padaku apa yang ada di pikirannya saat itu. Aku benar-benar tergugah oleh semangatnya. Tetapi, sulit rasanya aku membayangkan untuk melakukan semua yang dikatakannya. Namun, aku membiarkan Nick berbicara terus, hanya untuk menikmati saat-saat itu. Berdua saja dengan Nick.

***

Keesokan harinya, Nick meninggalkan Banyuwangi. Aku turut serta mendampinginya ke Surabaya, meski sebenarnya masih libur. Kami naik travel dan sebelum berpisah, Nick mencium tangan kedua orangtuaku. Ada semacam emosi yang kucuri dari wajah Nick saat itu. Apakah Nick sedih karena harus meninggalkan Banyuwangi?

Sepanjang perjalanan menuju Surabaya, Nick lebih banyak diam atau tertidur. Travel sampai ke bandara terlebih dahulu. Aku sedih tidak bisa berpisah dengan layak dengannya. Ia meninggalkanku dan tak menoleh lagi. 
"Aku benci bandara," kataku beberapa saat sebelum travel tiba di Juanda. 
"Mengapa?" Ia bertanya.
"Karena di bandara, orang-orang datang dan pergi."

Nick tak mengatakan apa-apa lagi sesudahnya. Tetapi, ketika aku melihat ia masuk ke dalam bandara aku sangat ingin berlari ke arahnya dan mengikuti Nick terbang ke Jakarta.

***

Jakarta, 2007

Ajeng tidak percaya kalau ia bisa menjadi pegawai tetap di sebuah bank swasta asing di Jakarta. Ia memang baru bekerja selama setahun lebih sedikit, tetapi dari teman-teman kantornya yang bahkan sudah bekerja bertahun-tahun, semuanya masih dalam status kontrak.

Ajeng lulus sarjana sastra Inggris pada tahun 2002. Ia menetap di Surabaya dan nasib membawanya mengabdi sebagai guru bahasa Inggris di sebuah sekolah menengah pertama. Bertahun-tahun dihabiskannya mengajar, tanpa ada tantangan.

Jauh di lubuk hatinya, ia merasa hampa. Perasaan yang lalu membawanya ke Jakarta. Dengan susah payah, ia lalu meyakinkan kedua orangtuanya untuk memberinya izin bekerja dan tinggal di rumah kakak laki-lakinya di Jakarta.

Namun, setelah tiga bulan tinggal bersama, Ajeng merasa tidak kerasan. Rumah itu terlalu sepi. Gusti dan Lastri terlalu sibuk, Ajeng ditinggalkan sendirian, dan keluarga itu belum juga dikaruniai keturunan.

Ajeng memutuskan untuk tinggal di sebuah rumah kost di daerah Bendungan Hilir. Ajeng sudah bekerja selama 3 bulan, ketika ia memutuskan pindah ke Benhil. Menjadi customer service sama sekali bukan cita-citanya, tetapi pekerjaan itu memberikannya uang, dan meski tak terlampau banyak, uang memberi Ajeng sedikit kebebasan. Ia bisa membayar uang kost, mencukupi kebutuhannya sendiri, dan bersenang-senang bersama teman-temannya. Namun, sesungguhnya, ia tak pernah merasa dekat dengan siapapun di kantornya.

Atasannya sering berkata kalau nasabah yang meneleponnya ingin dilayani dengan baik. Mereka tidak mau tahu apakah saat itu seorang customer service sedang sakit, terkena musibah, sedang memiliki masalah keluarga, atau sedang berantem dengan pacarnya. Ajeng tersenyum dalam hati. Tenang saja, saya tidak punya pacar, bahkan belum pernah pacaran, jadi tidak akan mengalami patah hati karena berantem dengan pacar. Saya akan jadi customer service terbaik!

Tentu saja, ada masa-masanya Ajeng merasakan tekanan, tetapi ia menyelesaikan segalanya dengan baik. Sendirian. Ia tak merasa perlu dugem setiap jumat malam seperti banyak teman-temannya yang berasal dari daerah dan mengalami gegar budaya. Ia merasa bukan tempatnya berada di kafe, atau diskotik. Ia lebih suka membaca buku, dan kadang-kadang menangis sendirian ketika kehampaan itu datang. Dunia Ajeng mulai bergoncang ketika Nick datang.

***

Sejak pertama kali melihatnya, ada sesuatu yang istimewa pada diri Nick. Untuk pertama kalinya, Ajeng merasa tertarik pada seorang laki-laki. Selama ini, Ajeng tidak pernah pacaran, karena ia belum pernah menemukan seorang laki-laki yang bisa menggugah hatinya. Sampai ia berkenalan dengan Nick. Ia customer service baru. Nick berusia 6 tahun lebih muda dari Ajeng, tetapi Ajeng selalu melihat Nick sebagai sosok yang cerdas, dan meski ia heran mengapa Nick bisa sampai terdampar sebagai seorang customer service, Ajeng sangat menikmati kehadiran Nick di kantor.

Nick menggenggam tangan Ajeng sambil menyebutkan namanya. Tubuhnya agak sedikit kurus, sebenarnya agak sedikit pendek dari tinggi rata-rata laki-laki, tetapi wajahnya menarik. Ketika Nick berbicara, wajahnya seperti bercahaya. Ia ramah terhadap semua orang. Semua orang tidak bisa tidak menyukai Nick, dan meski Nick begitu ramahnya, Ajeng merasa Nick begitu sulit dijangkau.

Nick berada di row cubicle yang sama dengan Ajeng. Stationnya hanya berjarak dua orang dengan Ajeng. Ketika sedang berbicara dengan nasabah, Ajeng bisa mendengar suara Nick yang sebenarnya agak cempereng. Nick tidak pernah alpa menyapa semua orang, demikian juga semua orang yang seolah-olah selalu ingin menyapa Nick.

Teman-teman terdekat Nick adalah Agung, Vanda dan Justin, namun ia milik semua orang. Meski kelihatannya Nick sosok ekstrovert, tidak banyak yang bisa dikorek dari dirinya, dari mana ia berasal, atau di mana ia tinggal. Sebagian besar dari dirinya adalah misteri.

Suatu ketika, Nick makan siang dengan Agung. Agung mengajak Tanti, tapi Tanti tidak bisa keluar makan karena sedang bertugas, sehingga Tanti menyarankan agar Agung mengajak Ajeng. Itulah pertama kalinya, Ajeng semeja dengan Nick. Ajeng berusaha menyembunyikan letupan semangatnya. Ia tidak ingin kelihatan terlalu bersemangat, tetapi ternyata semuanya berjalan dengan baik. Nick mengobrol dengannya, menanyakan hal-hal tentang semua orang, dan Ajeng tahu sejak saat itu, hatinya telah begitu terpikat oleh Nick. Nick seorang pendengar yang hebat. Meski ia tak terlalu ingat hal-hal detail sebagaimana umumnya laki-laki, Nick ingat apa saja hal-hal penting mengenai rekan-rekan kantornya.

Nick. Nick. Nick yang tidak pernah kasak-kusuk mengejar posisi karyawan tetap seperti teman-teman kantornya, tetapi ialah yang. selalu mendapat pujian dari atasan.

Suatu ketika terdengar kabar kalau Nick akan resign. Ajeng kaget! Ia konfirmasikan kebenaran berita itu kepada Nick yang mengajaknya makan malam. Berdua saja. Pada saat itu, hubungan mereka telah menjelma teman baik, mungkin tidak sedekat yang diinginkan Ajeng, tetapi seperti yang diakui Nick, Ajeng adalah salah satu teman yang cukup nyambung dengannya.

Di sebuah kafe malam itu, mereka mengobrol. Nick kelihatan serius sekali. Ternyata ia mendapat tawaran menjadi penulis skenario freelance.
"Aku selalu ingin jadi penulis," kata Nick saat itu.
"Tapi hanya freelance, Nick. Bulan depan kamu diangkat jadi karyawan tetap. Apa kamu nggak merasa sayang melepas kesempatan itu begitu saja?"
"Aku tidak melihat masa depanku di sini, Jeng. Aku ingin menjadi penulis dan melihat dunia."

Ajeng masih ingat betapa dadanya berdesir hebat selepas Nick mengatakan hal itu. Ia tidak ingin berusaha lebih keras lagi mencegah kepergian Nick, karena takut kalau Nick berpikir yang macam-macam. Nick akan pergi. Tak bisa dipercaya jika seseorang yang baru dikenalnya dalam 6 bulan terakhir, telah membuatnya merasa begitu kehilangan.

Selepas Nick pergi, Ajeng merasa begitu hampa. Setiap kali melihat ke tempat duduk Nick, ia merasakan kekosongan yang begitu dalam, yang berada di rongga dadanya. Ia tidak bahagia lagi, rasanya terlalu menyakitkan.

Satu bulan kemudian, Ajeng mengajukan surat pengunduran dirinya. Tetapi ia datang ke atasannya dengan ide lebih baik. Ia mengatakan ingin pindah ke cabang di Surabaya agar bisa lebih dekat dengan keluarganya di Banyuwangi. Mereka mengabulkan permintaan Nick, mungkin karena waktunya pas. Mereka tidak mengecek, bahwa dibutuhkan waktu 7 jam perjalanan darat untuk mencapai Banyuwangi dari Jakarta. Ia lalu meninggalkan Jakarta, dengan alasan sebenarnya yang hanya ia yang tahu.

 ***

Jakarta
Suatu Hari di Bulan Desember 2012

Hari ini rencananya, Ajeng dan Nick akan kembali bertemu. Bukan di mal untuk makan malam bersama, bukan pula di bioskop untuk menonton film. Ajeng mengundang Nick ke rumah kakaknya, Gusti. Sebenarnya Ajeng lebih suka nongkrong di luar bersama Nick, tetapi Lastri memaksa. Ajeng tahu Lastri penasaran ingin bertemu dengan Nick setelah diceritakan Mami. Pasti Mami bercerita pada Lastri mengenai Nick yang main ke rumahnya di Banyuwangi.

Lewat tengah hari, Nick datang dengan taksi. Ajeng bersikeras membayarkan uang taksi dan Nick tidak menampiknya. Gusti dan Lastri menyambut Ajeng dengan hangat.

Ketika Nick dan Gusti mengobrol di ruang tamu dan Ajeng sedang menyiapkan minuman, Lastri menghampirinya. 

"Jadi ini?"
"Bukan mbak. Cuma teman kok. Mantan sekantor dulu."
"Ajeng, udahlah. Mbak kan perempuan, jadi tahulah. Gimana? dia sendiri gimana sama kamu?"

Ajeng tersenyum. "Ya nggak gimana-gimana. Orang kita nggak ada apa-apa kok." Ajeng meninggalkan Lastri untuk mengantarkan minuman dan makanan ringan untuk Nick.

Tetapi ketika Ajeng kembali ke dapur, ia menemukan Lastri masih dalam posisi semula. "Ajeng, kelihatannya Mas Gusti juga suka sama Nick. Orangnya juga cukup cerdas ya? Aslinya mana dia?" "Astaga Mbak Lastri...." Kali ini, wajah Ajeng memerah.

Ketika Ajeng hendak meninggalkan dapur, tangan Lastri malah menarik tangannya. "Ajeng, mbak tahu bagaimana caranya membuat seseorang yang kamu suka, jadi suka sama kamu."
"Mbak ini, ngomong apa sih?"
"Kita ini orang Banyuwangi, Jeng. Ada caranya agar Nick bisa mau sama kamu. Mbak kenal sama orang-orang..."
"Mbak Lastri!" 

Ajeng melepaskan pegangan tangan Lastri darinya dan lalu meninggalkan dapur. Setelah itu mereka makan siang. Ajeng lebih banyak diam. Ia merasa belum pernah semarah ini pada Lastri. Bagaimana mungkin Lastri bisa berkata seperti itu? Saran macam apa itu? Ajeng bergidik. Jangan-jangan Lastri pernah menerapkan sarannya sendiri untuk mendapatkan hati Gusti.

***

"Keluarga kamu ramah ya," komentar Nick malam itu.
 Ajeng dan Nick melewatkan malam minggu di sebuah kafe sambil menunggu pertunjukkan midnight.

Kelak, Ajeng akan mengenang malam itu sebagai salah satu saat-saat paling indah bersama Nick. Ketika Ajeng merangkum kisah hidupnya dan menceritakannya pada Nick. Sesuatu yang tak pernah dilakukannya sebelumnya.

Kamu tahu keluargaku petani jeruk. Kami dulu susah. Aku sempat menunda dua tahun kuliah, karena tak ada biaya. Tetapi benar kata orang, hidup ini kadang di atas, kadang di bawah. Setelah melewati masa-masa sulit, akhirnya perkebunan jeruk orangtuaku semakin maju. Permintaan datang terutama dari Bali. Di sana jeruk adalah bagian dari ritual keagamaan sehari-hari. Tapi kamu tahu, selain menanam jeruk, Bapak juga menanam kubis dan buah naga. Dari hasil bumi itulah keluargaku hidup.

"Bagaimana dengan masa kecil kamu? Pasti kamu anak kesayangan ya? Anak perempuan bungsu..."

Lalu mengalirlah cerita tentang masa lalu Ajeng. Tentang hubungannya yang tidak terlalu erat dengan kedua kakaknya, tentang ayahnya yang menurutnya, lebih memperhatikan kedua kakaknya, dan ibunya yang selalu ada untuknya.

"Bagi Bapak, mungkin dua anak laki-laki sudah cukup dan kehadiran anak perempuan lain, sungguh di luar harapannya."
"Jangan berpikir begitu. Semua orangtua pasti menyayangi anak-anaknya."

Bagi Ajeng, malam itu seperti mimpi, ketika ia menceritakan segala kegundahannya pada Nick, dan Nick memberikannya kalimat-kalimat penghiburan yang sungguh menenteramkan hatinya.

"Mungkin karena beda usiaku yang cukup jauh dengan kedua kakakku, sementara usia mereka berdekatan yang membuatku tidak begitu dekat dengan mereka," simpul Ajeng. "Bahkan, kedua kakakku menikah dalam waktu yang hampir bersamaan."

Ia juga bercerita kalau Gusti sampai saat ini belum punya anak, sementara istri Bayu justru sedang hamil anak keempat. "Ibu mulai bertanya kapan aku menikah."

Tapi bagi Ajeng, Nick tampaknya menanggapi dengan lain curahan hatinya tersebut.
"Ajeng," kata Nick. "Sekarang setelah kamu dewasa dan kamu bisa mencerna peristiwa-peristiwa, kamu memiliki pilihan untuk membiarkan masa lalu kamu mempengaruhi kamu, atau sebaliknya. Kamu mengejar mimpi-mimpi kamu."

Lalu pada saat itu, Ajeng terbetik ide untuk mengaku. Suasananya pas, tenang, tidak banyak orang dan Nick kelihatan santai sambil menyeruput green tea latte-nya.

Dalam hening beberapa menit itu, ia mengumpulkan keberanian. "Ajeng, kita harus bergegas, filmnya sudah mau mulai," kata Nick. Ajeng menghela nafas. Sadarkah Nick kalau Ajeng sama sekali tidak menyentuh capuccino-nya?

***

Kamis, 24 November 2016

3 Pelajaran Penting dari BIAF 2016

Saya baru kembali dari Baros International Animation Festival 2016 di Cimahi Bandung. Ini menarik banget, karena venue-nya di luar Bandung (harus ganti angkot 4 kali untuk sampe ke venue), tetapi pesertanya keren-keren dan experts yang diundang sungguh berkelas internasional!

Contohnya saja ada David Kwok, CEO Tiny Island (Singapore), yang karya animasinya bisa tembus ke Cartoon Network, contohnya Ben 10. Ada juga Adam Ham, yang berada di balik kesuksesan animasi terkenal seperti Upin Ipin dan Boboi Boy menembus pasar internasional, dan Stephane Aldebart, orang Perancis yang based di Singapore sebagai Managing Director rumah produksi Moutarde dan Wasabi.

Siapa sangka di belakang kantor Kecamatan Cimahi dan bersebelahan dengan kantor PMK Cimahi, terselenggara festival animasi berkelas internasional!
Ke-tiga orang inilah yang gue temuin dalam sesi konsultasi pada 17 November lalu. Tapi selain 3 orang ini juga banyak tokoh lain yang memberikan master class dan pastinya insights yang bermanfaat bagi siapapun yang tertarik mengembangkan animasi dan Intellectual Property lainnya. Contohnya adalah animator Thailand Nol Kittiampon yang ngerjain animasi Paddle Pop dan Kenichiro Tomiyasu yang sukses melahirkan Final Fantasy. 

Meski sudah pernah dapat 2 penghargaan sebagai pembuat film dokumenter dan menulis banyak naskah untuk film televisi, sebagai produser film animasi, sebenarnya saya masih newbie. :)

Project animasi ini kita beri judul "BayuSekti", dan kami membuatnya sejak tahun 2012, bahkan sebelum saya pindah ke Malaysia. 


Saya ditunjuk jadi Co-Producer oleh teman saya, Kurniawan yang mendirikan rumah produksi Viva Fantasia, partner-an sama 1 temannya yang lain. Sutradaranya bernama Antonius Li, dengan tim yang terdiri dari 10 orang animator Indonesia berbakat, dan akan segera pindah kantor ke sebuah gedung hijau di daerah Jakarta Selatan, bulan Desember mendatang. Budget-nya? Rahasia. :))

Antonius, sutradara BayuSekti


Saya bertemu dengan Antonius di venue, setelah di paginya saya terbang langsung dari Malaysia dan kami lalu mengikuti sesi konsultasi dengan 3 orang yang saya sebutkan di atas. Seharusnya ditambah dengan Hongki Kim (Korea), tetapi waktu tidak mencukupi karena ternyata konsultasi berjalan lebih dari 10 menit untuk setiap tim. Tetapi, saya lalu mengirim email kepada Hongki dan ia sudah memberikan feedback yang menarik!

Anyway, inilah 3 hal yang kami petik dari konsultasi dan event tersebut:

1. Penonton film itu kejam!
Kita nggak bisa berharap penonton maklum dengan keterbatasan budget yang pada akhirnya membuat film ini dibanding-bandingkan dengan film animasi asing. Alasannya simpel, karena penonton membeli tiket dengan harga yang sama dengan ketika mereka membeli tiket untuk film-film asing itu. Jadi kita harus memperhatikan ekspektasi ini.

David Kwok yang bilang begini, tapi sebelumnya saya sudah sempat mendengar opini serupa dari produser Indonesia berinisial R. Masukan yang baik dan membuat kami semakin bersemangat menghasilkan karya yang secara kualitas tidak kalah dari film produksi negara luar!

2. Jangan terburu-buru merilis filmnya
Menurut Stephane Aldebart, penting untuk build fans untuk film ini dulu. Adam Ham malah bilang kita perlu setidaknya satu tahun untuk nge-build fans, dengan cara-cara marketing konvensional, termasuk social media strategy.

Tetapi, setelah ngobrol-ngobrol dengan mereka termasuk David Kwok, kami mendapat ide untuk bagaimana meningkatkan awareness untuk film ini yang harus kami mulai lakukan sesegera mungkin!


3. Perhatikan "cuteness elements"
David Kwok dan Hongki Kim punya concern yang kurang lebih sama yaitu tentang elemen cuteness yang menurut dia biasanya selalu ada di film Disney. Tetapi, saya mengerti biasanya filmmaker selalu punya idealisme tersendiri ketika membuat film dan tidak selalu selaras dengan sisi bisnisnya. Tapi saya setuju dengan argumen dari David Kwok bahwa kita jangan sampai mempersempit market untuk film ini, pada saat yang perlu dilakukan adalah memperluasnya.

Saya dan tim BayuSekti
Tetapi karena filmnya sudah 90% jadi, kami akan mengingat ide ini untuk project berikutnya. Sementara itu, banyak sekali yang akan kami lakukan berikutnya sampai membawa film ini diterima oleh penonton Indonesia!

BAYUSEKTI, in Cinemas 2017!


Selasa, 22 November 2016

Melancholia in Yangon

It seems unbelievable that Indonesia, whose amongst the weakest passport rank in the world, are one of few countries who eligible to enter Myanmar without a visa. The AirAsia staff who checked my document prior to departure, keep asking me, "where's your visa?" Apparently, even Malaysian need visa to visit Myanmar!

A lot of birds like this in Yangon. They said there are more than 1000 species of birds in Myanmar
Old, un-renovated building in Yangon. A whole city basically looks like this
However, Yangon itself reminds me to Jakarta that i had left 3 years ago, but Jakarta is far more cosmopolitan and shiny with a lot of skyscrapers. In Yangon, i felt the 1970s nuances of an underdeveloped countries, ruined by domestic conflict and never-ending political turmoil. No more development here, they don't even have highways. And as i roam around the city, i see that they don't re-paint the buildings although the paint was already peeling all over the places.

Roads in Yangon
There i met a taxi driver, who doesn't really speak english and he seems grumpy when he answer my question in Burmese. But, first shock for me was when i found out that the hotel i booked via booking.com were closed already! Then, he took me to Bed and Breakfast hotel that thankfully is a cheap and nice backpacker hotel, with a lot of caucasian tourists i met during the breakfast. 
The view of the city from the hotel
Upon which i joined them for breakfast in the next morning, an asian guy greeted me. He asked, "Are you from Japan?" I shook my head, and said, "i'm Indonesian", and he instantly become my companion during the breakfast session, just because we are the only asian at that time. The next morning we met again after i explore the city by bus and by walk. It's not difficult to find places in Yangon, as the maps has been really helpful. The local also helpful, but not all them can speak english, so i prepared it with a screenshot from places i wanted to visit, just in case i need to speak to them using these images.

Shwedagon Pagoda, view from Kandawgyi lake
The exquisite Shwedagon pagoda
Anyone up for .. (whatever that is)

It turned out, however, that it was impossible not to find rubbish in Yangon. It's a very dirty city, and rubbish and insect are all over it, even when you sit in a indoor restaurant, waiting for your lunch. But, probably this is one of the art of travel, you need to accept everything as one package: women who wear clay on their cheek, men who wear sarong (longyi) everywhere, and both man and women who chew leaf with betelnut and spit it everywhere on the ground.

Welcome to Yangon!
Some tourists will call them "exotic", until at some point you found an insect inside the food you're eating and pray you didn't get diarrhoea. At the very moment, i realised that the place has found me: for an adventure i always wanted, though it's still faraway from my ideal thoughts of a journey, mostly because i only have limited time, 5 days 4 nights, and need to go back to my "ordinary world". 

The biggest lake in Yangon, Inya Lake
But when another local greeted me when i was having a late lunch, i finally realised that Yangon is the most welcome city i've ever been. The guy thought i am a local, and he confused when he saw me looking at the map i brought. I said, "I'm from Jakarta, and will be leaving Yangon soon." He seems wanted to practice his english with me, and asked me why i didn't go to Bagan, like almost all the tourists do when they visit Yangon. But a lot of things had prevent me to do that, i wish i could travel in the long term, a year, or a month, of find a permanent job that give me more flexible time to do such thing. 

Inside the Yangon "LRT"
In fact, in Yangon, i finally do something i never done before: watch a football match live! So, when the riot happened in Jakarta (some referred it as 411), i sit on a stadium watch an international football match between Indonesia and Myanmar, and only pay 3000 MMK or around Rp 30000, which is very cheap! I took a circular train to the stadium, that it was so effective to reach every area in Yangon, that i will dubbed it as their LRT. 

The football match i watched

Do you think i won't enjoy a football match? Think again. 

And of course i need to end this journey. On the day i checked out, the receptionist received the key from me nonchalantly. She never have to know that i always saddened when this day has to come. A day where i have to return to the "ordinary world" and expect to be on an "extraordinary world" as soon as possible. 

Yangon train, maybe this one in imported from Indonesia

At the last day, i explore Mahabandula park, just to killing time before i take bus to airport. A burmese kid who is abandoned by her mother crying for my bread. I gave him immediately, and then after that, an older kid came and offer me to buy whatever he sells. He thought i'm Japanese". What? in Myanmar i suddenly become Japanese twice. 

a view from Maha Bandula park, downtown Yangon
I stay there for around 1 hour, knowing that i might not revisit it in the future. 

Even, when you leave such a place like Yangon, you will feel that feeling of melancholia. 

Why Hotels in Bandung Don't Provide Maps?

I visited Bandung last week to attend Baros International Animation Festival as exhibitor and to meet experts from several countries including Malaysia. After gain insights and hopefully chances of future collaboration with BayuSekti, an animation movie i co-produce, i have 2 and half days free to enjoy this lovable and chilling city.

The iconic Gedung Sate of Bandung

What i found next could be a simple theory on why Indonesia is still left behind in term of tourism, compare with Malaysia, where i have been live for the last 3 years.

WITHOUT MAPS, PEOPLE WILL GET LOST OR DON'T KNOW WHAT TO EXPECT!

In Malaysia, even in a less touristy and not so famous places, i can always find maps in every hotel i stay in. For example, in a backpacker hotel in Kota Bharu where i only pay RM 15 for a night, the receptionist gave me map and explain to me very detail about interesting places i can visit and how to go to there, by taking bus, or by cab, or walking distance.

In Penang, they have special maps dedicated only for food! So, for culinary lovers, the maps will guide you if you want to find a delicious laksa, char kwe tiau, or the famous chendol. Maps is something common, and people can get it for free, including in airport. I've been traveling across Malaysia and visited Ipoh, Langkawi, Kuala Besut, Kota Kinabalu, Kuching, Malaka, to name a few, and free maps always easy to get.

Same thing when i travel further. When i visited Yangoon at the beginning of this month, maps are accessible everywhere! I was also satisfied to see the hotel staff who are very ready to do their jobs, to make our stay enjoyable, and to explain whatever questions we have and mostly they were always refer to maps.

In other places i visited including Bangkok, Hongkong, Macau, Siem Reap, this has been a norm. A standard. Tourists expect to get map, especially from the hotel they stay. Because they want to explore, they want to roam around. How to do that without maps? Even, i cant find maps in Husein Sastranegara Airport!

MAYBE THEY THINK MAP IS NOT IMPORTANT?

"They can use Google Maps!" said my friend, Raymond, who accompany me roaming around Bandung and its vicinity. I disagree, because it's a lazy argument. Not all tourists were feeling convenient using Google Maps and there are a lot of reasons why we still need maps: maps don't need batteries, maps can tell us what is around us, maps can highlight hazard, etc.

Maps maybe a "small detail" but i am a person who trust that the beauty is on the detail. Furthermore, the fact that it's very hard to find maps in Bandung maybe a symptom of something bigger which is: we are not ready to catch up with international standard in the tourism industry, let alone to exceed it.

The tourism minister we have right now maybe the best from all the tourism minister we had, but the implementation on the strategy might be still need to be questioned? Is it effective enough? Is there any change in the mentality of the people who are involved in this industry? Because this is not just about policy, but actualisation of it (from top to bottom) that really matter.

IT'S STILL BEAUTIFUL NONETHELESS

Maybe it's not the local who will fully appreciate the map. Perhaps you need to imagine you were a foreigner who can't speak local language, and you need help from one of universal languages: map. As i visited Taman Hutan Raya Juanda, i didn't get any map, but i am Indonesian who can speak Bahasa Indonesia and a bit Sundanese, so i was really sure that exploring the jungle won't be a daunting activity. But, how about if you were a Japanese who can't speak English properly let alone Bahasa Indonesia. You're gonna need map.

Goa Jepang in Taman Hutan Juanda

Although i am Indonesian, i still prefer getting a map to add a feeling of adventure. Why map is not something common here? Is this only in Bandung, or also in other part of Indonesia?

I visited Penang and its interesting national park in February this year, and i got free maps to accompany me explore the national park.

So, just from that one element i can see why Malaysia tourism is far ahead Indonesia. I have to say, Malaysia is more ready than us. You can download report from WTO regarding travel and tourism competitiveness index to see where we are in this emerging tourism industry. We have a lot of homework, despite a good progress in the last couple of years.

The surreal Kawah Putih-2 hours drive from the city
However, as an Indonesian who stay in the long term in Malaysia, and have privilege to explore southeast Asia as a tourist, i enjoyed Bandung so much. I love the weather, the food and the unique friendliness of the local, and they have distinct sense of humour too! Do you know, that a lot of Indonesian comedian are from Bandung and are of Sundanese ethnic group?

Fogs come and go with the wind in this amazing Kawah Putih area

By the way, someone said that the problem with Indonesia is not that we don't have "proper things" to be offered to the world, but merely we are lacking of exposure! Maybe that's why, sadly i don't really see foreign tourists in Bandung. Most of them are local, and many are from Malaysia, but i don't see any causasian or Japanese, or Korean.

Government, especially from West Java, please do something about it! Can you guys come up with more aggressive tourism strategy?

EXCUSE ME, CAN I GET A MAP?
We're back to my hotel that night after we explore Kawah Putih and an exquisite lake called Situ Patenggang.

Kartipah Hotel in Bandung
As a traveler, i always feel sad when i checked out and need to return to my "ordinary world". However, there's nothing i can do automatically other than asking a city map to a receptionist, as soon as i checked in. "Excuse me, can i get a map?" the answer i got in Bandung, was, "we don't have map."

Jumat, 19 Februari 2016

Tiba-tiba Ingin ke Kamboja


Selamat pagi dari Siem Reap!

Semalaman saya waswas karena takut ketinggalan pesawat pertama dari KL ke Siem Reap, Kamboja. Tapi, akhirnya menjelang pukul empat pagi saya sudah berada di stasiun bis di One Utama, sambil terkantuk-kantuk, menunggu bis Aeroline menuju bandara.

Pesawat AirAsia berangkat pukul 06.50 dan tiba di Siem Reap dua jam kemudian, tapi karena Siem Reap satu jam lebih lambat dari KL, waktu menunjukkan sekitar pukul 08.00 ketika pesawat mendarat di Kamboja.

Pertama kali naik tuktuk di Siem Reap!
Warung tempat berbelanja penduduk setempat.

Sebuah sudut Siem Reap yang atmosfernya masih original.

Jalanan Siem Reap yang berdebu, dan tuktuk yang ada di mana-mana.
Saya selalu menyukai suasana di pagi hari, di suatu kota asing, dan Siem Reap adalah sebuah kota yang sangat charming. Namun, ketika saya menemukan sopir tuktuk membawa papan bertuliskan nama saya di luar bandara, dan ia lalu membawa saya ke hostel, saya mendapati kesan Siem Reap bukanlah sebuah kota, ia seperti pedesaan. Sebuah kampung yang mengingatkan saya pada pengalaman Kuliah Kerja Nyata bertahun-tahun yang lampau.

Ongkos tuktuk itu gratis, sebab sudah termasuk fasilitas dari The Siem Reap Hostel. Mereka menanyakan nomer penerbangan dan kapan saya akan mendarat, lalu mengirimkan sebuah tuktuk untuk menyambut saya.

Menuju ke hostel, saya dibawa melewati jalanan yang berdebu, dengan rumah-rumah sederhana di kiri kanannya. Saya hampir lupa bahwa Kamboja adalah sebuah kerajaan dan seperti sebuah kerajaan pada umumnya, ada rakyat yang mengabdi pada rajanya. Saya membayangkan Yogyakarta.

Angin pagi berhembus, menyelipkan sedikit gigil. Betapa gersangnya Siem Reap, bahkan di pagi hari. Seorang kawan memperingatkan sebelumnya bahwa Siem Reap sangat panas.

Tetapi ketika tiba di hostel, saya diberi tahu kalau waktu check in adalah jam 2 siang! Saya bingung apa yang harus saya lakukan untuk menunggu check in, bahkan saat itu belum lagi jam 10.00 pagi. Resepsionis yang ramah membuka storage room untuk saya sehingga saya bisa menyimpan tas punggung saya.

The Siem Reap Hostel adalah hostel yang bagus, bahkan pernah menjadi The Best Hostel in Sieam Reap pada tahun 2014. Saya membayar US$ 18 untuk stay selama dua malam di kamar dormitory yang berkapasitas 18 orang.  Selain itu, salah satu keistimewaannya adalah adanya kolam renang dan ruangan menonton film, bahkan kelas yoga. Ini fasilitas yang jarang dimiliki sebuab hostel!

Kalau ke Siem Reap saya sangat rekomendasikan hostel ini!

Saya sebenarnya merasa sangat mengantuk, sebab saya tidak benar-benar tidur semalam sebelumnya. Akhirnya saya tidur-tiduran di lobby, yang saat itu ramai oleh para tamu hotel yang sedang menyelesaikan sarapannya.

Setelah itu, saya lalu berjalan-jalan di sekeliling hostel. Jalanan berdebu di sana-sini, dengan riuh rendah suara kendaraan bermotor di sebuah kota yang hampir tak memiliki bangunan berlantai lebih dari tiga. Ada kedai Starbucks, tak jauh dari sebuah bundaran. Ada pula sebuah genangan air. Ini bukan sungai karena airnya tidak mengalir kemana-mana, tetapi bukan danau juga. Istilah yang paling tepat mungkin adalah backwaters, genangan yang cenderung kotor, tapi tidak sekumuh kali-kali di Jakarta. Genangan yang tak bergerak ini semakin memperkuat nuansa Siem Reap sebagai sebuah chilling city, dimana kehidupannya bergerak dengan ritmenya sendiri, yang jauh dari kesan terburu-buru.

Siem Reap menerima dollar AS selain mata uang Kamboja itu sendiri. Dengan 1 dollar AS anda bisa membeli makanan, penjual akan merayu, “One dolla… One dolla..” katanya. Aksen cute itu agak mirip dengan aksen Thailand.




Backwater di Siem Reap.

Pedagang makanan keliling.



Menjajal Fish Massage di Pub Street. Rasanya menggelitik!
Matahari mulai meninggi, dan teman saya betul. Siem Reap panas menyengat. Saya berjalan-jalan menuju ke Pub Street, bahkan sempat menjajal fish massage. Pub Street adalah tempat yang sangat ramai oleh para turis, bayangkan Kuta, tapi di sini tidak ada pantai. Alkohol ada di mana-mana termasuk souvenir, baju-baju, dan tas yang dibuat dari bekas bungkus semen. Harganya murah-murah, membuat orang Indonesia kaget bisa menemukan ada suatu tempat yang lebih murah dari Indonesia.

Saya akhirnya kembali untuk check in di hostel. Saya mencari tahu bagaimana cara untuk ikutan tour ke Angkor Wat, sebuah komplek candi yang menjadi kebanggaan Kerajaan Kamboja, yang beralih menjadi candi Budha, meski awalnya dibangun sebagai candi Hindu oleh Kekaisaran Khmer.

Malam hari setelah menemukan dinner yang murah tak jauh dari hostel, saya tidak melakukan apa-apa lagi. Saya akhirnya memutuskan untuk ikutan tour Angkor Wat dengan mendaftar di lobby hotel. Biayanya US$ 15 per orang. Orang hotel bilang, besok pagi saya harus bangun jam 4 pagi dan ditunggu supir tuktuk di depan hostel.

Tapi saya ternyata tidak bisa tidur, padahal sebenarnya sangat mengantuk. Penyebabnya karena hawa panas, bahkan di malam hari, dan AC seolah tidak berfungsi. Saya lalu turun ke lobby, (hostel ini punya 4 lantai, dengan desain tempo dulu yang saya suka), dan minta pada resepsionis untuk pindah kamar. “I can’t sleep, I need to sleep in a cool Air Conditioner, or else I can’t sleep.”

Resepsionis yang akomodatif berusaha membantu saya, tapi ia harus mengecek dahulu mana kamar yang kosong. Saat itulah, seseorang menyapa saya, ia adalah turis India, yang kelihatannya baru datang. Ia bertanya mengenai tour ke Angkor Wat, saya bilang, ia bisa daftar di hotel ini dan akan dibawa keliling Angkor Wat, dengan tuktuk. Ia bilang, “What is Tuktuk?”. Lalu saya jelaskan, Tuktuk adalah kendaraan lokal di Kamboja dan juga di Thailand.

Setelah itu saya diberi tahu kalau pihak hostel memperbolehkan saya pindah ke kamar lain yang kebetulan lebih dingin dan ada kipas angin tambahan yang bisa saya arahkan ke tubuh saya. Sayapun akhirnya terlelap.

Alarm membangunkan saya menjelang pukul 04.00. Saya bergegas ke lobby dan menemukan di papan pengumuman ada dua nama lain selain nama saya sebagai peserta tour pagi itu, salah satunya adalah Sunny, cewek asal Korea dan yang satunya ternyata adalah laki-laki India yang menyapa saya semalam. Namanya Rahul.

Tak perlu berlama-lama kami langsung melompat ke atas tuktuk, yang langsung melesat di tengah remangnya malam sebelum subuh. Sambil menikmati perjalanan, kami berkenalan. Rahul ternyata seorang India yang bekerja di New York, sedangkan Sunny adalah wanita Korea yang bekerja di New Zealand. Itulah sebabnya aksennya Sunny sedikit susah ditangkap. Tipikal aksen NZ dan Australia yang kedengaran mumbling di telinga. J

Kami berhenti di sebuah tempat untuk membayar tiket dan difoto. Saat itu masih gelap gulita tapi sudah penuh dengan turis! Luar biasa, betapa terkenalnya Angkor Wat!!

Gelap-gelapan menunggu sunrise!

Turis-turis itu sama seperti kami, ingin menikmati mistisnya Angkor Wat di saat matahari terbit. Harga tiket masuknya adalah US$ 20 yang berlaku satu hari dan bisa membayar lebih jika ingin mendapatkan pass masuk untuk dua atau tiga hari ke komplek candi itu. Wisatawan biasanya difoto lalu fotonya dicetak di atas tiket, yang nanti bisa jadi benda kenang-kenangan atau memorabilia.

Gelap-gelapan di Angkor Wat

Saat itu, mungkin sudah ada ribuan turis yang datang bersamaan dengan kami di pelataran parkir di depan gerbang menuju Angkor Wat. Kami bertiga lalu berjalan menuju ke dalam komplek candi ini, dan sama sekali tidak ada yang membawa senter. Kami hanya bisa mengandalkan senter yang dibawa oleh orang lain dan intuisi semata.

Ada juga petugas yang akan mengecek tiket dan memberi petunjuk arah. Setelah berjalan melintasi halaman berumput yang cukup luas, kami sampai di depan sebuah padang lainnya, dan ada danau kecil di sana. Lagi-lagi saya melihat ratusan, mungkin ribuan wisatawan yang seolah-olah dalam posisi siaga, menanti matahari terbit. Saat itu jam 5 saja belum J








Rahul mulai bergerak ke sana kemari dengan kameranya, tapi saya dan Sunny hanya duduk-duduk di rumput yang basah karena embun. Saya lalu mengambil roti (yang saya bawa dari KL) dan mulai memakannya. Lumayanlah, isi perut.

Tak lama kemudian, matahari perlahan muncul. Saya jadi teringat momen ketika menanti matahari terbit di atas bukit Punthuk Setumbu untuk melihat siluet candi Borobudur saat matahari terbit yang sangat magis.

Saat matahari muncul, Angkor Wat kelihatan sangat indah. Candi yang tadinya sama sekali tidak terlihat, sedikit demi sedikit muncul sebagai siluet dengan latar belakang langit saat fajar menyingsing.  Mistis. Berada di tempat itu seperti membenamkan saya pada suasana berabad-abad yang lampau.

Saya sebenarnya sedikit jealous, sebab wisatawan yang datang ke Angkor Wat jauh lebih banyak daripada yang datang ke Borobudur atau Prambanan. Mereka rela bangun di pagi hari yang gelap gulita dan duduk di rumput, di depan Lotus Pond, mereguk sepuas-puasnya keindahan candi yang dinobatkan Unesco sebagai warisan dunia ini.

Selain Angkor Wat, sebenarnya banyak candi lain yang tidak kalah epic-nya, seperti Angkor Thom, Bayon dan Ta Phrom, yang jadi lokasi syuting film Lara Croft-nya Angelina Jolie. Semuanya akan kami jelajahi hari itu.

Rahul lalu punya ide untuk bergegas duluan, bergerak sebelum wisatawan yang lainnya, agar bisa mengeksplorasi komplek candi ini tanpa harus sikut-sikutan sama yang lain. “We can go back later!” katanya. Good idea! Akhirnya saya dan Sunny mengangguk setuju dan mengikutinya menuju ke tempat tuktuk diparkirkan.

Selama kurang lebih empat jam kami mengelilingi komplek Angkor Wat. Kadang dengan tuktuk, kadang dengan berjalan kaki jika jarak antar satu candi ke candi lainnya tidak jauh.

Saya bahkan tempat terpisah dari Rahul dan Sunny karena keasyikan saat mengeksplorasi Bayon.




Rahul turun dari tuktuk.


Sunny dan kameranya. 

Ketika tuktuk terus melaju membawa kami ke candi-candi lainnya, Rahul berkata kalau kita mendahului yang lainnya karena kita tidak melihat turis di candi-candi lain sebanyak yang ada diu Angkor Wat!

Dari semua candi yang ada, saya paling penasaran dengan Ta Phrom, namun menurut saya yang tidak kalah cantik adalah Bayon!














Berkenalan dengan Tiga Gadis Amerika

Setelah puas mengelilingi Ta Phrom, Sunny berkata kalau ia lapar banget. Hehehe. Sayapun demikian, tapi kalau tadi saya sempat menghilang, kini kami berdua tidak melihat Rahul. Akhirnya saya dan Sunny memutuskan untuk menunggu Rahul di pelataran parkir setelah kami berjalan menuju keluar Ta Phrom. 

Tapi setelah menunggu sekitar 15 menit, baru Rahul muncul dengan tuktuk, dan bilang kalau ia telah keliru menunggu di pintu keluar yang satunya. 

Rahul kini menjadi semacam pemimpin kami, termasuk memilih tempat untuk makan siang. Tapi, saya bersyukur punya teman seperjalanan yang cocok, bahkan kami saling bisa bercerita mengenai satu sama lain. 

Sunny adalah seorang ibu bekerja yang menghabiskan sebelas bulan dalam setahun untuk bekerja dan bulan Desember hanya untuk liburan. Setelah Siem Reap, ia akan pergi ke Luang Prabang di Laos dan lalu mengirimkan saya foto-fotonya, setelah kami berpisah. Setelah itu, saya googling mengenai Luang Prabang dan kota itu menjadi wish list yang berikutnya setelah Kerala, Nepal, Hoi An, dan masih banyak lagi. Setelah Luang Prabang, Sunny akan bertemu anak-anak dan suaminya di Bangkok.

Sementara itu, Rahul ternyata seorang konsultan yang bekerja untuk McKinsey. Sangat humble, bahkan mengatakan McKinsey hanya sebuah perusahaan biasa. Setelah Siem Reap, Rahul akan liburan lagi ke Bali, bersama keluarganya. 

Saya bercerita bahwa banyak pengaruh India di Indonesia meskipun tidak banyak keturunan India di Indonesia. Ia kelihatan terkejut ketika saya bercerita bahwa banyak orang muslim di Indonesia menggunakan nama Hindu seperi Wisnu, Rama, dan sebagainya. 

Di sisi lain, Rahul dan Sunny juga heran kenapa saya hanya stay dua hari saja di Siem Reap. Saya jelaskan bahwa tiba-tiba saja saya ingin ke Siem Reap setelah menyadari bahwa hari Jumat, 11 Desember 2015 merupakan hari libur di Negara Bagian Selangor (Ultah Sultan), dan saya ingin pergi liburan singkat tanpa harus ambil cuti.

Ketika kami makan siang di restoran yang dipilihkan Rahul, kami bertemu dengan tiga gadis asal Amerika. Sebenarnya, saya juga bingung bagaimana awalnya ketiga gadis itu tiba-tiba semeja dengan kami, tapi saya rasa itu karena Rahul. Mungkin Rahul sudah mengenal ketiga gadis itu atau hanya sebuah keramahan biasa yang dipahami para turis sebagai mekanisme untuk menemukan teman seperjalanan? Entahlah. 

Yang jelas, gadis AS itu bernama Jordan, Desiree dan Angela. Jordan masih kuliah, jurusan public policy di Amerika sana, dan sedang liburan mengunjungi Desiree yang bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Phnom Penh. Sementara itu, dari semua Angel adalah yang paling pendiam. Tapi tiba-tiba saja ia mengeluarkan tiga buah botol kecil yang berisi alkohol dan ada ular kobra mini di dalamnya. Kami semua terheran-heran dibuatnya. 

Akhirnya obrolan berlanjut termasuk tentang Donald Trump, sampai bagaimana kami mengeja nama Ralph Fieness. Setelah itu kamipun berpisah. 

Tempat ini Mengingatkan Saya Pada Hogwarts

Sebelum pulang ke hostel, kami bertiga kembali ke Angkor Wat. Di sini kami puas-puasin berfoto dan mengabadikan kerumitan dan keindahan candi ini. Kali ini, hari sudah terang, jadi kami bisa menikmati pemandangannya dengan jelas. 



Tapi ketika kami mengekplor Angkor Wat, kami bertemu dengan ketiga gadis itu lagi. Saya bahkan mengobrol dengan Jordan, gadis AS vegetarian itu. Saya katakan padanya bahwa Angkor Wat mengingatkan saya pada Hogwarts. Lorong dan ruangan-ruangannya. Ia tersenyum kecil, lalu ia mengatakan sesuatu yang manis, yang sebenarnya saya lupa. Tapi semacam wish kalau saya menikmati liburan yang menyenangkan. Setelah itu, saya tidak bertemu lagi dengannya.




Demikianlah hari itu saya lalui dengan bersosialiasi, mengenal 5 orang baru, dan sekilas saya menjadi tahu sedikit tentang kehidupan mereka. Tentang tournya sendiri, membutuhkan tenaga ekstra untuk banyak berjalan dari satu titik ke titik lainnya, juga memanjat. Beberapa candi memang perlu dipanjat untuk bisa sampai di puncaknya dan curam sekali! 

Menjelang jam 5 sore, kami sudah tiba kembali di hostel. Rahul bilang kami harus membayar lebih untuk tour sepanjang 12 jam! Kami setuju dan dia bilang melalui perhitungan matematis, berdasarkan kelebihan jam, kami perlu membayar US$ 21, bukan US$ 15. Saya dan Sunny sama-sama mengeluarkan uang US$ 21 tapi ternyata US$ 21 itu dibagi 3, jadi kami hanya perlu membayar US$ 7! Dalam hati saya bersorak sekaligus keheranan karena menemukan tempat yang lebih murah dari Indonesia. 

Malam Terakhir di Siem Reap

Saya tidak bertemu lagi baik dengan Rahul atau Sunny di sisa hari itu, meskipun kami tinggal di hotel yang sama. Saya sempat ketiduran di ranjang di tepi kolam renang, dimana banyak turis melakukan hal yang"kurang penting" seperti main lempar-lempar bola dan mencoba naik mainan bebek balon. 

Di malam hari, saya kembali menyusuri Pub Street, dan makan mi rebus yang mudah-mudahan halal. Saya suka rasanya dan lagi karena harganya murah, US$ 2 dollar saja. 

Mi rebus ala Siem Reap. 
Besok, saya harus kembali ke Kuala Lumpur. Sebetulnya saya merasa belum puas, sebab Siem Reap tidak hanya Angkor Wat, banyak juga atraksi menarik lainnya seperti kuil Banteay Srei, Taman Nasional Phnom Kulen dan floating village!



Ini adalah The Siem Reap Hostel. Jika saya kembali ke Siem Reap, saya akan menginap di hostel ini lagi, yang pelayanannya sangat memuaskan, dan kolam renangnya berbentuk trapesium, chilling dan saya bisa ketiduran di ranjang di tepi kolam tersebut. Sambil membaca buku yang tak selesai dibaca sejak dua bulan lalu. 

Epilog: ketika saya tiba di rumah, saya mendapat kabar kalau Senin, 14 Desember, negara bagian Selangor diliburkan untuk merayakan menangnya Selangor FC dalam final pertandingan sepakbola di Liga Malaysia.