Selasa, 23 Agustus 2011

The Last Confucian


Hi Guys!

We are happy to announce that finally we can finish our first documentary. Here I want to share our experience during the production of this movie.
At first, I have no idea that we are going to have a trilogy of China Benteng. For those who hasn’t familiar with China Benteng, let me explain to you. China Benteng is a Chinese community in Tangerang, near Jakarta, who embrace Chinese culture since their ancestral are from China. However, Community of China Benteng have their own way of life and characteristics, entirely different to those of other Chinese in greater Jakarta area and Indonesia.

At first, the title is not “The Last Confucian”, but “Echoes of Piety”, emphasizing subject strong fidelity. But, there are so many development afterwards. In fact, we found the story of the last confucian coincidentally when we were having research to make a simple documentary about China Benteng’s cultural heritage. However, we do have research and interview to support the story, including our interview with Mona Lohanda, book writer and prominent historian from National Archive.
We do have some other interview with Chairman of Matakin (Supreme Council for Khonghucu Religion In Indonesia), and cultural activist from China Benteng itself. Our research reinforces the story about Confucian as a victim of Suharto’s policy during new order regime, but you can experience much more when you watch the movie. 
And here are some behind the scene photo. Enjoy all!

The Director of THE LAST CONFUCIAN
Iskandar Julkarnaen and Kurniawan Biantoro




































Here's the link for the trailer: http://vimeo.com/27713065

Kamis, 24 Maret 2011



my life is in box. but is not my heart. my mind travelling to the world where it belong: Someone i love and love me back

Jumat, 18 Februari 2011

The Cheongsam Obsession

Aku tidak dapat mengartikan sorot mata ibuku, ketika ia menatapku sedang berdiri di depan cermin dan mengagumi pantulan diriku sendiri dalam cheongsam. Kelihatannya ia marah, tapi ia lebih seperti kecewa, mungkin karena aku memakai sesuatu miliknya tanpa izin.

Aku segera melepas cheongsam berwarna biru yang sudah memudar itu, dan dengan berjingkat-jingkat keluar kamar, tanpa berani menatap sorot mata ibu. Namun ketika aku melewatinya, tubuhku didorong sehingga terjatuh dan menimpa keranjang berisi baju-baju kotor yang belum dicuci. Ibu lalu keluar begitu saja, dan aku ingin memeluknya, dan meminta maaf.

Tapi, aku tak lantas lupa pada cheongsam. Aku memikirkannya. Siang dan malam. Di sekolah. Di jalan. Di kamar. Di angkot. Di busway. Bahkan ketika aku sedang naik ojek. Obsesi yang sudah menjadi mimpi bertahun-tahun, ketika pada usia lima tahun aku melihat baba memberikan angpau pada kakakku pada saat imlek.

Namun, ini bukan cerita tentang angpau, atau lontong cap go meh, tapi tentang cheongsam. Baba menghadiahkan kakakku cheongsam berwarna merah yang seperti memeluk tubuhnya. Itu adalah gaun one piece yang indah, dan aku hanya bisa melihat iri ketika baba berdiri di belakang kakakku dan keduanya tersenyum. Baba tersenyum. Kakakku tersenyum. Aku manyun. Aku ingin cantik seperti kakakku.

Bertahun-tahun kemudian, aku menonton In The Mood For Love dan bayangan kakakku yang anggun mengenakan cheongsam sambil makan lontong cap go meh mulai memudar. Ia tergantikan oleh Maggie Cheung. Sampai saat ini, tidak ada yang bisa menandingi dia sebagai wanita paling cantik yang pernah mengenakan cheongsam. Aku tumbuh dalam imajinasi menjadi wanita cantrik yang mengenakan cheongsam, lalu pergi merayakan xin chia bersama pangeran pujaan. Hanya makan malam sederhana sudah membuatku senang.

Sepertinya cheongsam hanya akan menjadi mimpi, atau obsesi. Tidak bisa tidak. Aku merasa aku tidak akan pernah bisa mengenakannya, sebahagia apapun perasaanku nanti ketika bisa mengenakannya.

“Tetapi, apakah bahagia itu paling penting?” tanyaku pada Mei, sahabatku.
Mei menyayangiku, tapi sorot matanya seperti sorot mata ibu. Ia berkata, “bukan bahagia, tapi menjadi diri sendirilah yang terpenting.”
Aku tidak mengerti, Mei. “Aku belum genap 17 tahun.”

Tapi, akhirnya aku kembali ke rumah dan aku ingin minta kado istimewa dari baba dan ibu menjelang ulang tahunku nanti. Apalagi kalau bukan cheongsam.

“Ibu, aku ingin cheongsam.”
Ibu lalu menampar pipiku. Aku menangis. Tapi aku tidak peduli. Aku ingin cheongsam. Titik.

Ibu bilang nggak boleh. Tidak akan pernah diizinkan. Tidak dalam satu abadpun.

Aku ingin cheongsam!
Plak!!!

Tapi kenapa, bu?

Ibu menatapku, Ia tidak marah, tapi lebih seperti orang terluka.

Mengapa bu?

“Karena kamu...laki-laki.”
Aku terdiam. aku tahu aku akan dihadapkan pada kenyataan ini, tapi aku tidak merasa kalau sekaranglah waktunya.

Selasa, 15 Februari 2011

THIS IS ME!

Bersyukur dengan karakter sebagai orang egois. Ketika hanya suka membicarakan diri sendiri-tidak tertarik ngomongin orang, in a way nggak kena dosa gara-gara bergunjing.
Trus berusaha keras mengejar personal destiny-nya. kadang nggak suka ngedengarin orang, nggak peduli apa pendapat orang.

harus bisa memilah mana yang memang layak dianggap ada dan didengarkan, dan mana yang hanya rubbish. Percaya benar dengan hukum Paretto. dari 10 orang yang dikenal barangkali cuma 2 yang berisi, sisanya sampah.

Dalam sebuah percakapan, hanya membicarakan karya, bukan orang, apalagi hal-hal jelek mengenai orang itu. Sesudah itu kembali ke diri sendiri, dan berpikir "What can i do to share the world my role?"
Meski memang tidak otomatis akan jadi mudah, asal merasa di right track juga udah bagus.

Meski banyak yang bilang terlalu picky dalam segala hal, termasuk bergaul. Tapi prinsipnya adalah melakukan apapun harus menguntungkan termasuk mengenal orang, kalau nggak, ya nggak usah bergaul ama orang itu. Biar nggak buang-buang waktu. Kadang suka agak rugi, kalau misalnya kita kerjaannya nyerocos share ke orang, trus dalam hati nanya: "Gue dapat apa dari lo?"

Yakin saja, kalau pada akhirnya akan dipertemukan, pasti memang akan dipertemukan.
Hanya merespon sesuatu yang layak direspon.
Memberi lebih pada yang diminta.

Dianggap sengak nggak jadi masalah, biasanya orang yang kita kagumi dan diteladani nggak akan berpikir seperti itu kepada kita, karena di depannya kita berlaku seperti murid, dan mereka akan dengan senang hati mengajarkan. (Jangankan kita merespon apa pendapatnya tentang kita, bahkan mereka mungkin tidak dianggap ada)

Kalau ada yang berpikir kita jutek, dan senyum mahal, memang tujuan hidup manusia bukan untuk memuaskan semua orang. Dan biasanya orang yang merasa demikian, akan berkelompok, bergosip, dan bicara di belakang kita (Indonesia banget). Karena biasanya mereka mediocre, dan kita dianggap sebagai ancaman.
Kita dinamis dan mereka statis.

dengan sikap ini, tanpa disadari kita akan punya magnet. tapi sebagai magnet kita sendiri juga akan tertarik kepada magnet lain. Dan pada saat anda merasa demikian nyaman dengan keadaan, selamat.

bagi yang belum, bersabar. Ini proses. Dan kita tidak pernah sendiri.

Sahabat adalah seseorang yang ketika kita duduk di sebelahnya—hanya berjam-jam dalam diam, tapi setelah dia pergi kita merasa kita telah lama berbicara dengannya..

SYARAT UTAMA: PENAMPILAN MENARIK

“God! Kenapa harus ada persyaratan demikian di iklan lowongan kerja!” sesal Adi. Ia sedang berteduh di bawah pohon mangga bersama sahabatnya, Chandra. “Trus, orang-orang yang merasa penampilannya nggak menarik gimana? Nggak boleh ikutan? Belum tentu juga kan orang-orang dengan penampilan menarik akan bekerja dengan lebih baik dibandingkan orang yang dianggap berpenampilan tidak menarik!”
“Nggaklah bro, lo jangan minderisme gitu dong! Lo nggak jelek kok!’ kata Chandra sahabat Adi, pura-pura menghibur. Tapi Adi protes karena Chandra begitu saja menyamakan penampilan tidak menarik sebagai ‘jelek’. “Beda dong!” menurut Adi, orang dengan penampilan tidak menarik bukan berarti jelek, tapi orang jelek pasti penampilannya tidak menarik.
Chandra malah nggak setuju. Ia mengambil contoh Tukul. “Tukul kan jelek, tapi penampilannya menarik.” Adi mengelak,’iya, secara lo sih ngefans ama dia, tapi yang nggak suka nggak akan mungkin bilang Tukul itu menarik secara penampilan!”
Mendengar jawaban Adi, Chandra mencoba menarik kesimpulan. “Wah kalau ukuran suka atau nggak suka jadi susah dong. Jadi subyektif, karena kalau seseorang dibilang nggak menarik, belum tentu sisa dunia yang lain bilang yang sama.”
“Makanya bro, ini harus kita protes!”, kata Adi lagi. Menurut Adi, perusahaan harus menghapus syarat itu dalam requirements mereka, karena berpotensi menjadi tidak objektif. “Tapi... kalau jelek kan mutlak,” Adi tiba-tiba teringat kata-kata itu.
Hening sejenak. Mungkin keduanya merasa tersindir dengan kata-kata Adi itu.
“Makanya mereka pake kata berpenampilan menarik. Itu secara halus menggantikan kata tidak jelek,” kata Chandra.
Adi menjadi teringat pengalamannya yang beberapa kali ditolak bekerja dengan alasan penampilannya kurang menarik. “Sakit hati gue dibilang begitu,” kata Adi.
Chandra diam saja meski memiliki pengalaman yang sama. “Memang pasti nyebelin banget ya. IPK udah 3,75, cumlaude, lulus psikotest, kesehatan oke, tapi nggak diterima kerja cuman gara-gara tampang! A****G!
“Gue setuju! Ini namanya diskriminasi bagi orang-orang berpenampilan tidak menarik! Kita harus lapor ke KOMNAS HAM! Yuk! Sekarang!” Adi menarik tangan Chandra yang lalu menepisnya.
“Tenang bos. Lo ngomong jangan kebanyakan tanda seru! Justru lo yang gegabah. Kalau lapor ke komnas HAM, berarti secara tidak langsung lo mengaku udah jadi bagian dari mereka yang berpenampilan tidak menarik. Apa emang lo ngerasa diri lo nggak menarik?”
“Nggak mungkinlah,” sahut Adi kali ini dengan lebih kalem. “Kalau bukan gue sendiri yang bilang kalau gue ganteng, siapa lagi...”
“Itu maksud gue. Perjuangan harus selalu dimulai dari dalam diri sendiri. Coba kita terapin ke diri kita, untuk nggak superficial. Untuk nggak nilai orang dari luarnya aja. Padahal siapa tahu mereka punya kualitas-kualitas yang nggak dimiliki oleh orang-orang yang masuk kategori berpenampilan menarik,” kata Chandra panjang lebar.
Tapi wajah Adi merengut. “Tapi gimana cara untuk mengetahui kualitas-kualitas itu kalau dari awalnya scanning pertama adalah penampilan, atau pasfoto. Seleksi berdasarkan penampilan, yang nggak memenuhi kriteria dibuang ke tempat sampah, tanpa diberi kesempatan untuk memberi tahu dunia tentang isi hati atau isi otaknya...”
“This is what i am talking about man!” kata Chandra meniru gaya bicara karakter nigger di film hollywood. “Ini dia yang mesti kita perjuangkan, men! Sebab kalau nggak, bisa-bisa orang-orang berpenampilan nggak menarik jadi punah. Nggak punya tempat lagi di dunia. Diasingkan, ditinggalkan oleh roda kehidupan yang terus berjalan. Mereka jadi nggak bisa berkiprah dimana-mana.”
Adi diam saja, tiba-tiba ada imajinasi melesat di otak kanannya; ia jadi penguasa zalim yang melakukan pemisahan terhadap golongan orang berpenampilan tidak menarik dan orang berpenampilan menarik. Dalam fantasi itu, Adi, firaun dengan penampilan tidak menarik memenjarakan orang-orang yang berpenampilan menarik, bangsanya model-model ganteng atau cantik dalam kamp konsentrazie seperti yang dilakukan Hitler. Hollocaust.
“Napa lo diam aja?” kata Chandra.
“Iya gue setuju.” Sahut Adi asal.
“Setuju apa?”
“Mari kita melestarikan golongan orang-orang berpenampilan tidak menarik, biar mereka bisa kerja, kawin, dan punya anak.”
Chandra nggak bisa nggak setuju.
“Galang persatuan buat Gestapu (gerakan standarisasi tampang publik)!” kata Adi. Ia kembali bersemangat, dan berseru.
“Atau kita buat serikat pekerja atau apa gitu yang menggabungkan karyawan dengan penampilan tidak menarik. Dari kita, oleh kita untuk kita. Laiknya demokrasi.”
“Justru lo sekarang yang sembrono. Ekslusifitas itu ibarat bom waktu. Dunia bisa berputar karena ada pasangan-pasangan. Pria dan wanita, malam dan siang, utara dan selatan, kiri dan kanan, cakep dan...”
“Jelek,” kata Chandra. Ia diam, merasa ada yang janggal dari tatapan mata Adi, tapi tak bisa merumuskan apa.
“Pemisahan itu hanya akan mempertajam dikotomi antara dua kelompok itu,” tandas Adi.
“Tapi maksud gue, bagaimana kalau...”
Pembicaraan mereka terhenti. Tak jauh dari mereka seorang wanita membaca plang ‘pangkalan ojek’ dibawah sebuah pohon mangga. Wanita itu menuju Adi dan Chandra.
“Ada sewa tuh, Di.”
“Males gue. Tampangnya demek gitu.”
“Gue juga ogah. Gue nungguin si Neng caem langganan aja.”

One Minute Enlightment

(1)
The simple metaphor of chair, taken as representing one’s body, mind and emotional dynamics, can explain this clearly:
As long as I am sitting in the chair, I cannot observe nor manage the chair. In fact, the chair manages me. To observe the chair I must get out of it. For this, I must accept the fact that I am not the chair. So also, identifying with the body, mind and emotions, I cannot observe or manage myself. The moment I accept that I am neither the body nor the mind; I can get out of it. Then I can realize who I am. Then I can lead and manage myself. I become master, leader of the chair.

(2)
“Hidup terdiri atas momen - momen ;
Momen - momen adalah milik kita.
setiap momen masing-masing secara mendalam?
Dapatkah Anda meninggalkan setiap momen yang telah berlalu dan
lahir kembali pada setiap momen baru ?
Dapatkah Anda mengisi momen yang baru dengan penuh keyakinan,
kegembiraan dan semangat ?
Dengan memandang setiap momen adalah baru, maka kita akan mampu
menceburkan diri ke dalamnya dan menjalaninya dengan sepenuhnya.
Apakah itu saat mencuci piring, minum teh, memeluk bocah kecil,
menatap ke dalam mata orang yang kita kasihi,
Menahan rasa sakit atau bahkan ketika menghadapi kematian"

(3)
Seorang siswa bertanya kepada gurunya, “Master, apakah arti pencerahan itu…?” Sang guru menjawabnya dengan lugas, “Bila lapar—makan. Jika lelah—tidur. “Kemudian siswa itu menimpali, “semua orang kan melakukan hal yang sama dalam kesehariannya.” “Tidak sama,” sang guru menjawab. “Mengapa tidak sama…?” Tanya si siswa dengan penasaran. Kemudian sang guru menjelaskan, “Saat waktunya makan, kebanyakan dari kita tidak menikmati dengan betul makanan yang kita cerna. Pikiran orang terus mengembara entah kemana. Mulut, sekalipun penuh dengan nasi, tatkala masih sibuk mengobrol dengan sesamanya. Saat waktunya tidur, pikiran ridak istirahat. Oleh sebab itu itu banyak yang tidurnya tidak lelap atau bahkan menderita insomnia.”

(4)
Suatu hari terjadi gempa bumi yang mengguncang keseluruhan kuil Zen. Beberapa bagiannya runtuh! Banyak biksu ketakutan.

Saat gempa reda, sang guru berkata, “Sekarang kalian mempunyai kesempatan melihat bagaimana seorang Zen berperilaku dalam situasi krisis. Kalian mungkin perhatikan bahwa saya tidak panik sama sekali. Saya masih awas pada apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan. Saya pimpin kalian semua ke dapur, bagian terkuat dari kuil ini. Dan ini sebuah keputusan yang tepat karena kita semua selamat tanpa luka-luka. Tetapi, di samping kontrol diri saya yang baik, saya juga merasa sedikit tegang – yangmana kalian bisa lihat dari kenyataan bahwa saya minum satu gelas besar air putih, sesuatu yang tidak pernah saya lakukan di situasi biasa”

Salah satu biksu tersenyum, tapi tidak berkata apa-apa.

“Apa yang kamu tertawai?” tanya sang guru.

“Itu isinya bukan air, guru” jawabnya. “Itu tadinya satu gelas besar kecap yang disiapkan untuk memasak”

(sumber: buku kisah kebijaksanaan Zen)

The Edge of Love (review)



Sat, 6 june. something called me to come to blitz megaplex. actually i intended just to have dinner, so i gone in short pants, slipper, and ripped t-shirt. but, i was so impulsive, and i need to fulfill the uninvited desire to go watching movie.
here's the answer: The Edge of Love. curious to watch Sienna Miller. i only knew little about her—except she's belong to Jude Law.

at the first second, i smirked, and smiled widely. The beauty of Keira Knightley (someday if i had daughter, Keira is lovely name). opened the movie by singing “Blue Tahitian Moon”. This movie is so me. with that jazzy soundtrack, rain, and poetry spreading all over the duration, and that sienna miller really take my breath away.

Kiera's performance is even make it harder for me to release myself in this lost of beauty. Kiera played as singer in the era of World War Two. She meet Mathew Rhys, her first love (its not first love that matters, its the last love), at the time when Mathew had wife played by irresistible Sienna Miller. Despite their rivalry, the two women become friends and the trio have happy times together. When Kiera marries soldier Cillian Murphy, Matthew becomes jealous at the addition of him to the group, and Sienna noticed.

Do you love me? asked Cillian. “i will answer after u back,” said Kiera.

and war change people. this movie is very subtle in developing the character. Mathew was boring, but turned to be strong after Cillian back from war. and Cillian doubted Kiera since he knew that Kiera and Matther used to be couple.

there's love in the air--vaguely delivered on the way the four main casts look each other. and it still can be feel at the last scene. This is the perfect movie, i dont remember when were the last time i go home from cinema with this very fulfilled feeling. all the aspects is perfect. Music, art—with that colorful expression, heavenly ensemble casts—while in my opinion, Cillian didn't play as perfect as his fellows.

oh thanks to James Maybury, for blooming my saturday night. i even look to the sky and smile to the moon. smiling—lost in the beauty.