It's not difficult to find mosque in Singapore. Like today, i went to Friday prayer at Sultan Mosque, located at Muscat Street and North Bridge Road in Kampong Glam Rochor District in Singapore.
The mosque is not as big as Istiqlal in Jakarta, but a mosque always has its own spark. And this Sultan Mosque is on the list of Top 10 Most Beautiful Mosque in the World from wonderslist.com.
So, one topic always makes me curious is about identity. How does it like to be a moslem in Singapore?
Despite the relatively small number of Muslims, observing this another face of Singapore is very interesting for me. First, according to a study, 1 in 2 Singapore residents do not have close friends from another race. Does it make Islam in Singapore is exclusive? How do they negotiate and compromise themselves better in a country where Islam is minority?
Second, another study mention that at least 4 out of every 10 Singaporeans have the tendency to decide what a person's behaviour and views will be like based on their race, before they even interact with them. Although Singapore is relatively live in a good harmony, the study implies there are prejudices into each other. Is this a possible racial segregation or even worse discrimination? How do the they integrate their identity towards different cultural expressions there?
Jumat, 31 Januari 2014
Minggu, 29 Desember 2013
Contesting Reality With Pornography: A Review of Joseph Gordon-Levitt’s “Don Jon”
“Don
Jon” berkisah tentang pria yang kecanduan menonton film porno dan menemukan
jika yang terjadi di film porno lebih indah daripada kenyataan. Sang pria
diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt yang sekaligus menulis dan menyutradarai
film ini. Film ini menarik karena mengkontraskan religiusitas dan dosa lalu
menjelma kisah cinta menyentuh di akhir film, satu dari sedikit film yang
ketika adegan berakhir, penonton masih ingin menyaksikan karena merasa belum
ingin meninggalkannya. Toh durasi film ini juga cuma 80 menit.
Levitt
memerankan tipikal anak muda sekarang yang tak pernah melewatkan film porno di internet. Secara fisik,
pesonanya telah tak terelakkan bagi lawan jenis dan karena itu bisa dengan
mudah membawa pulang gadis manapun yang ia inginkan. Sampai kemudian ia bertemu
dengan Scarlett Johansson di bar.
Mereka
berdua dengan cepat menjalin hubungan, meski dua sahabat Levitt memandang
skeptic. Menurut mereka, Levitt masih sangat jauh dari jatuh cinta. ONS adalah
hal terbaik yang bisa dilakukannya dan jangan lupa: menonton film porno dan
masturbasi 35 kali dalam sehari. ^_^
Sigh!
Tetapi
bahkan bagi karakter seperti yang diperankan oleh Levitt, menonton film porno dan
bermasturbasi setelahnya juga menimbulkan rasa bersalah. Betapapun, ia merasa
semua petualangan seks-nya dan eksplorasi tubuh perempuan yang dilakukannya, tidak ada yang menyamai
aksi di dalam dunia film porno, yang membuatnya selalu kembali dan kembali.
Perempuan-perempuan yang diajaknya tidur tidak bisa memberikannya imaji itu: sebuah dunia yang sempurna dalam film porno.
Levitt
merasa ada yang hilang: no doggy, no cowboy…
Ketika
ia tidak menemukan imaji sempurna yang ia temukan dalam film porno di dalam
kehidupan seksnya, sebaliknya Levitt merasa semua film romantis adalah
palsu. Ia juga melakukan
penyangkalan-penyangkalan dengan mengatakan bahwa menonton film porno is ok: I
m not a junkie. It’s porn, not heroine.
Karakter
Levitt tampaknya ingin selamanya berada di dunia itu, sampai kemudian Johansson
menemukan kalau ia berbohong, dan bahwa selama ini ia selalu menonton film
porno. Johansson meninggalkannya dengan sebuah pertengkaran. Namun Levitt belum
mau membuka kulit kerangnya, ia tetap membela film porno dan mengatakannya
kalau itu sama dengan film-film romantic comedy yang disukai Johansson.
Kata
Johansson, film dan pornografi itu beda. Film-film diberikan awards. Kata
Levitt: film porno juga!
Namun,
ia tidak seburuk itu. Levitt berasal dari keluarga religius yang setiap minggu
datang ke gereja. Oleh karena itu, ia kerap merasa bersalah setelah menonton film porno dan masturbasi.
Ia datang mengaku dosa: Father, saya sudah tidak menonton film porno lagi.
Sekarang hanya hubungan seks. Ia berkata suatu ketika.
Di
sisi ini, sebagai sutradara, Levitt juga sedikit nakal, dengan menyiratkan
keraguannya akan begitu mudahnya mengaku dosa.
“Have faith my son,” kata Father tersebut, mengunci Levitt dalam diam.
Diam yang menunda. ^_^
Adegan
pengakuan dosa ini adalah salah satu yang repetitif di film ini bersama adegan
Levitt berjalan di lorong gym, bermesraan di klub dan mengganti sprei. Sebuah
bahasa film untuk mengungkap kalau kecanduan adalah sesuatu yang repetitif.
Setelah
Johansson meninggalkannya, Levitt menjalin hubungan dekat dengan Julianne
Moore, yang lalu menghadiahi Levitt film porno. Di sini film beralih dari kisah
cinta yang cengeng dan klise ala romcom (Levitt dan Johansson) menuju cinta
yang penuh dengan afeksi. Di sini terungkap dalam sebuah adegan puncak, dimana
penjelasan mengenai apa itu hakikat ‘make love’ disampaikan dengan getir yang
menggetarkan. Betul-betul menyentuh, yang membuat akhirnya kita bisa menerima
kalau di akhir cerita Levitt bersama Moore dan bukan dengan Johansson, meski
kesempatan rekonsiliasi itu ada.
Pada
akhirnya ini adalah sebuah kisah cinta. Cinta bisa mengubah seseorang.
Johansson berkata, ‘I thought you’re different. but you are not.”
Bersama
Moore, Levitt menjelma pria berbeda, dengan sebuah adegan penutup yang manis,
dan layak dipraktekkan. *EH!
Minggu, 17 November 2013
Waktu yang tercuri dalam “The Stolen Years”
Kini kita kembali ke pertanyaan yang sudah pernah saya
ajukan sebelumnya: bagaimana kita memperlakukan kenangan?
Dalam “The Stolen Years”,
He Mann dan Yu, memerankan
pasangan suami istri yang kemudian bercerai setelah lima tahun menikah. Adegan
awal sangat manis, jika tidak bisa dibilang corny, semacam pengkhianatan bagi
ending yang menjadi terlalu sedih.
He Mann kemudian mengalami kecelakaan dan terbangun
mendapati 5 tahun dalam memorinya telah hilang. Ia beranggapan, Yu masih suaminya,
namun ternyata mereka telah berpisah.
He Mann tidak bisa mengingat apapun, dan beranggapan kalau
Yu masih suaminya. Ia bahkan pindah ke rumah Yu, menciptakan konflik nanggung
dengan pacar Yu. Bahkan pacar Yu, tersisihkan, tidak diberi ruang banyak untuk
eksplorasi karakter, menghilang demi memberi Yu dan He Mann keleluasaan di film
ini.
Film ini memang tidak jelek, namun sutradara menggiringnya
menjadi film yang mengharu biru. Cerita tentang Alzheimer pernah diungkap dalam
“Love and Other Drugs”, tapi film ini begitu muram di akhir, meski di awal dan
pertengahan ada potensi untuk menjadi sebuah saccarine.
Dari segi desain produksi, film ini sangat ngepop. Kedua
tokoh utama bekera di biro iklan, serta banyak placement produk yang ngetop di
jaman sekarang. Untuk sesaat terlihat akan menjadi hiburan yang memikat, namun
kisah cinta mereka tidak meninggalkan kesan kuat setelah layar tertutup.
Kembali ke pertanyaan tentang kenangan. Dalam film ini, kita
tidak bisa berbuat apa-apa ketika kenangan menghapus dirinya dari kita. Jika
memang demikian, motivasi He Mann semata cinta.
Dia adalah seorang perempuan yang suatu hari terbangun dan
mendapati kekasihnya sudah bukan miliknya lagi. Dalam hujan, dia mengatakan hal
ini, bertanya pada Yu. Inilah satu dari sedikit adegan memorable di film ini.
Rating: 3/5
Senin, 14 Oktober 2013
Sebuah Konser dengan Subtitle
Sore-sore, 12 Oktober lalu, di pantai di Ancol terdengar lagu-lagu Jay Chou bahkan hits lama Xin Yu dari Album Still Fantasy (2006). Suasana sudah sangat ramai, dan saya sedang menunggu teman untuk menemani menonton konser Opus 12 malam ini. Diputer juga dari album terbaru Opus 12, Ming Ming Jiu, sekelompok fans tak jauh dari saya ikutan bernyanyi terutama saat refrain. Saya tersenyum, sambil dalam hati ikutan nyanyi juga. Sudah tak sabar menunggu!!
Tapi konser baru dimulai 19.45, telat 45 menit dari jadwal
seharusnya. Antrian mengular, saya dan teman berlari-lari sampai akhirnya bisa
masuk ke dalam Mata Elang International Stadium(MEIS), yang berkapasitas entah
berapa, tapi yang pasti banyak sekali dan kelihatannya terisi penuh!
Setelah menemukan kursi sesuai yang tertera di tiket,
ternyata panitia menyiapkan light stick di setiap kursi, sehingga semua penonton
mengangkat light stick berwarna merah itu sepanjang konser. Luar biasa keren
kan? J
Sambil
menunggu dimulainya konser, diputer iklan yang dibintangi Jay Chou yaitu untuk
merek Kaspersky (anti virus), dan Tech Titan (USB). Rasanya dari sini bisa
tertebak psikografis fans penyanyi asal Taiwan ini.
Ketika
Jay Chou muncul di panggung, fans langsung berteriak-teriak histeris. Haha! He
is here! Rasanya tak percaya juga, seperti dalam mimpi, apalagi konsernya
berkonsep 4D, dengan 4 layar berukuran besar, tata panggung spektakuler dan
futuristik, banyak laser, dan jika ada suara ledakan, tempat duduk juga
bergetar. Rasanya kayak dibawa ke luar
angkasa.
Jay
Chou membuka konser dengan lagu ber-beat cepat, kalau nggak salah judulnya Jing
Tan Hao dan Long Quan. Tapi saya paling
familiar dengan lagu Xie Xie di segmen ini. Asyiknya di layar ada subtitle, jadi
yang belum terlalu hapal lagunya bisa ikutan nyanyi! Hahaha! Genius!
Suasana
makin memanas ketika Jay Chou membawakan lagu Dao Xiang. Ingatkan fans Jay Chou sama lagu ini, yang
video klipnya di sawah? :D
Saya
menantikan Jay Chou membawakan salah satu lagi kesukaan saya, Wo Bu Pei. Di
konser tahun 2010, yang bukan di Indonesia, Jay Chou bawakan lagu ini dengan
efek autotunes, yang aransemennya digabung dengan lagu Mine-mine dari album The
Era. Tapi Jay tidak membawakan lagu ini.
Sebagai
gantinya, saya benar-benar kayak mau nangis ketika mendengar intro lagu
Faraway! My Dream Comes True!
Di
setiap konser untuk lagu ini, pasti ada bintang tamu, misalnya waktu tahun
2007, Jay nyanyi lagu yang juga berjudul Qian Li Zhi Wai ini bersama Fei Yu
Qing. Dan ternyata, Jay tampil dengan
seorang bintang tamu yang muncul dari bawah panggung saat refrain lagu ini,
lupa namanya siapa. She looks gorgeous dengan kecantikan asia yang natural….
Jay
juga sempat berkomunikasi dengan penonton, yang intinya dia bilang kalau
penduduk Indonesia ramah-ramah, dan juga bawain lagu soundtrack filmnya dari
Initial D, Secret sampai The Green Hornet. Penonton terbius, terutama ketika
Jay menampilkan kejeniusannya bermain piano.
Berikutnya
adalah Jay menghidupkan kenangan semua fans akan lagu-lagunya, termasuk Jian
Dan Ai yang energik, Cai Hong yang romantis, sampai Qi Li Xiang! Dan tentunya
Ming Ming Jiu yang kelihatannya paling ditunggu!
Lalu
semua penonton di MEIS sama-sama bernyanyi lagu itu. God, this is amazing!
Tidak
ada Wo Bu Pei, tidak ada Fa Ru Xue, tidak ada Tui Hou! Tidak ada Dandellion
Promise, The Longest Movie atau Where is the Promised Happiness, but still it’s
a very surreal to be there at the moment. I was kind of speechless.
Jay
Chou satu-satunya penyanyi yang membuat saya tertarik datang ke konsernya.
Tidak ada selain dia!
Semua
lagu-lagunya istimewa, meski saya rasa peak-nya Jay Chou kira-kira 3 tahun yang
lalu. Tapi mengapa baru sekarang dia konser di Jakarta? Jay tidak adil! :p
Setelah
selesai, saya masih membawa kesan itu. Selain kesan, dalam konsernya, dalam
karya-karyanya, dalam prinsipnya, Jay selalu memiliki pesan. Pesan itu hanya
bisa dipahami oleh orang-orang yang memiliki ‘sesuatu’ itu, bahwa kreatifitas
manusia bisa tak terbatas.
Saya
akan selalu mengingat pesan Jay Chou!

















