Selasa, 07 Februari 2012

My Most... FTV

Sampai saat ini, tak terasa saya sudah menulis skenario 30 judul FTV yang ditayangkan pertama kali pada tahun 2008. Banyak diantaranya yang cukup meninggalkan kesan, memancing emosi, bahkan menjadi perbincangan di social media—salah satunya karena faktor judul.

Agar kreatifitas terus tumbuh dengan relevan, saya berdoa mudah-mudahan penonton FTV Indonesia selalu ada, bahkan bisa berkembang untuk mendorong penciptaan-penciptaan yang lebih baik lagi dalam segala hal, termasuk tema, genre atau peningkatan production value.

Tentu saja saya juga berdoa agar terus dilimpahi ide-ide dan energi untuk mendapatkan inspirasi yang menyehatkan. Tapi dibawah ini saya mengklasifikasi beberapa FTV yang paling berkesan.

FTV dengan “Rerun tersering”
Satu Bulan Bersama Anggoro (SCTV)

FTV dengan “Pujian Terbanyak, Rating Tertinggi”
Office Girl, My Girl (SCTV)

FTV Paling Puitis
Cintaku Bersemi di Puncak Rinjani (SCTV)



FTV dengan visual paling memuaskan
Selingkuh VS Selingkuh (SCTV)



FTV dengan akting pemeran terbaik
(Bukan) Cinta Sesaat (SCTV)


FTV Yang paling dinikmati ketika sedang menulisnya
Cantik tidak = tulalit (SCTV)




FTV dengan ending terbaik
Sesuatu Tentang Cinta (SCTV)

FTV dengan conversation terbanyak di twitter
Bidadari Turun Ke Condet (RCTI)

Demikianlah sahabat-sahabatku. Semoga kita semua bisa berkarya dengan lebih baik lagi di setiap saat hidup kita. Salam kreatif

My First Video Clip (and it hits more than 4500 views)


Di film "Super 8", seorang karakter kanak-kanak berteriak ketika ia yang sedang membuat film independen bersama teman-temannya tanpa sengaja berada pada situasi chaotic. Saat itu, mereka syuting di sebuah stasiun tua ketika terjadi kecelakaan kereta api, hal yang membuat filmmaker indie manapun tentu ingin memasukannya sebagai footage. "Production value!!!" teriak anak yang menjadi sutradara tersebut lalu bergegas mengambil kamera jadulnya dan mengambil adegan kekacauan kecelakaan kereta sebagai background dari ceritanya.

Saya tak meneriakkan hal yang sama ketika pada tahun 2006, kereta melintas ketika kami sedang syuting film pendek ini di rooftop Pasar Pagi Mangga Dua. Namun kami buru-buru mengabadikan adegan tak terduga itu sebagai background tokoh dalam adegan bunuh diri.

Pada saat itu, saya yang menulis ceritanya. Kami hanya terdiri dari beberapa orang, produser, sutradara, penata kamera, artistik dan lain-lain kami kerjakan sendiri untuk mewujudkan cerita ini. Saya ingin mengenang  masa development cerita yang menyenangkan, proses syuting dengan banyak lokasi, antara lain, kafe di Cikini, hotel murah di daerah Kota, rumah salah seorang kru, dan jembatan penyeberangan di jalan Sudirman. Saat ini semuanya meninggalkan kenangan manis, sebagaimana kami mencoba mengemas cerita ini dengan sebaik-baiknya.

Film pendek ini kemudian selesai, dan seperti yang kamu lihat dalam tayangan di atas, tampaknya nafas ceritanya sejalan dengan sebuah lagu dari band Everybody Loves Irene berjudul "Solitude Dialogue", sehingga lalu diadaptasi menjadi video klip mereka. Syukurlah, tampaknya klip ini cukup disukai, dengan view lebih dari 4500!

Tapi selain video klip diatas, saya juga sempat terlibat sebagai penata artistik dalam film independen berjudul "Real Love" produksi SET Production, ketika menjadi finalis LA Lights Indie Movie 2008.

Ini filmnya:


(masa-masa yang cukup menyenangkan, bahkan saya dan pemenang lain sempat dikirim ke Yogyakarta dan menginap di rumah Garin Nugroho, untuk menghadiri Jogja Asia Film Festival Agustus 2008).

Sabtu, 04 Februari 2012

Malam Bulan Purnama, Cap Go Meh dan Sebuah Lagu




Divina sayang,
Ketika aku melihat bulan purnama bersinar dengan jelas malam ini, aku teringat pada lagu kesukaanmu, “Di bawah sinar bulan purnama”. Kamu selalu suka kalau aku menyenandungkan lagu itu, dan bahwa aku tidak pernah bisa hapal pada lirik lagunya yang begitu panjang.

Aku melangkah masuk ke dalam sebuah rumah ibadah bersama temanku yang membawa kamera besarnya. Ia letakkan kamera di tengah ruangan ketika misa dimulai. Umat khusuk mendengarkan pendeta, di sela-sela lagu-lagu yang dipernyanyikan. Genta berbunyi tiga kali, dipukulkan dengan lembut, dan menghasilkan bunyi nyaring yang sedikit meninggalkan gema. “Sanchai,” katanya tiga kali.
Aku duduk di bagian belakang, kadang-kadang temanku menemani, ketika ia  tinggalkan kameranya untuk merekam saja.

Aku menunggu sampai selesai ketika bulan purnama diluar semakin indah, dan umat bernyanyi-nyanyi dalam lagu-lagu sederhana yang membekaskan kenangan di telingaku. Melodi itu, melekat bersama aroma dan rasa yang lezat pada sepiring lontong yang segera tandas dalam beberapa kejap.

Betapa enaknya masakan itu, betapa kuingin membaginya bersama kamu. Namun ku tetap terngiang lagu itu, “dibawah sinar bulan purnama.”  Betapa magical. Cap Go Meh, malam ke-15. Malam bulan purnama.
Dan lalu kudapatkan lirik lagunya:

Di bawah sinar bulan purnama
air laut berkilauan
berayun-ayun ombak mengalir
ke pantai senda gurauan

Di bawah sinar bulan purnama
hati susah tak dirasa
gitar berbunyi riang gembira
jauh malam dari petang

Beribu bintang taburan
menghiasi langit hijau
menambah cantik alam dunia
serta murni pemandangan

Di bawah sinar bulan purnama
hati susah jadi senang
si miskin pun yang hidup sengsara
semalam itu bersuka


Setelah itu, aku pulang dalam diam. Namun hatiku terasa sangat bahagia….

Catatan:
Pada Cap Go Meh 2011, saya berkesempatan mengabadikan ritual perayaan penurutupan tahun baru imlek di sebuah desa di Tangerang, sebagai bagian dari film documenter “The Last Confucian” yang sedang saya garap. Kami—saya dan rekan, mengikuti sepasang suami istri yang berangkat  dari rumahnya selepas senja, menuju rumah lain—sebenarnya tempat beribadah khusus umat Khonghucu.

Disana kami disambut umat khonghucu di desa itu yang pada umumnya keturunan tionghoa baik itu totok atau peranakan. Ritual sembahyang berjalan kurang lebih satu jam, diiringi nyanyian (seperti pada kebaktian di gereja), ditutup dengan jamuan makan lontong cap go meh yang lezat!

Tulisan di atas adalah “interpretasi romantis” dibalik proses pengambilan gambar yang terjadi pada malam itu. J

Selasa, 24 Januari 2012

The 84th Oscar Nomination List

Dear all my blog readers, here is the complete list of 84th Annual Academy Award nominations announced Tuesday, 24 January 2012.

1. Best Picture:
"The Artist," '
'The Descendants,"
''Extremely Loud & Incredibly Close,"
''The Help,"
''Hugo,"
''Midnight in Paris,"
''Moneyball,"
''The Tree of Life,"
''War Horse."

2. Best Actor:
Demian Bichir, "A Better Life";
George Clooney, "The Descendants";
Jean Dujardin, "The Artist";
Gary Oldman, "Tinker Tailor Soldier Spy";
Brad Pitt, "Moneyball."

3. Best Actress:
Glenn Close, "Albert Nobbs";
Viola Davis, "The Help";
Rooney Mara, "The Girl With the Dragon Tattoo";
Meryl Streep, "The Iron Lady";
Michelle Williams, "My Week With Marilyn."

4. Best Supporting Actor:
Kenneth Branagh, "My Week With Marilyn";
Jonah Hill, "Moneyball";
Nick Nolte, "Warrior";
Christopher Plummer, "Beginners";
Max von Sydow, "Extremely Loud & Incredibly Close."

5. Best Supporting Actress:
Berenice Bejo, "The Artist";
Jessica Chastain, "The Help";
Melissa McCarthy, "Bridesmaids";
Janet McTeer, "Albert Nobbs";
Octavia Spencer, "The Help."

6. Best Director:
Michel Hazanavicius, "The Artist";
Alexander Payne, "The Descendants";
Martin Scorsese, "Hugo";
Woody Allen, "Midnight in Paris";
Terrence Malick, "The Tree of Life."

7. Best Foreign Language Film:
"Bullhead," Belgium; "
Footnote," Israel; "
In Darkness," Poland;
"Monsieur Lazhar," Canada;
"A Separation," Iran.

8. Best Adapted Screenplay:
Alexander Payne, Nat Faxon and Jim Rash, "The Descendants";
John Logan, "Hugo";
George Clooney, Grant Heslov and Beau Willimon, "The Ides of March";
Steven Zaillian, Aaron Sorkin and Stan Chervin, "Moneyball";
Bridget O'Connor and Peter Straughan, "Tinker Tailor Soldier Spy."

9. Best Original Screenplay:
Michel Hazanavicius, "The Artist";
Annie Mumolo and Kristen Wiig, "Bridesmaids";
J.C. Chandor, "Margin Call";
Woody Allen, "Midnight in Paris";
Asghar Farhadi, "A Separation."

10. Best Animated Feature Film:
"A Cat in Paris";
"Chico & Rita";
"Kung Fu Panda 2";
"Puss in Boots";
"Rango."

11. Best Art Direction:
"The Artist,"
''Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2,"
''Hugo,"
''Midnight in Paris,"
''War Horse."

12. Best Cinematography:
"The Artist,"
''The Girl With the Dragon Tattoo,"
''Hugo,"
''The Tree of Life,"
''War Horse."

13. Best Sound Mixing:
"The Girl With the Dragon Tattoo,"
''Hugo,"
''Moneyball,"
''Transformers: Dark of the Moon,"
''War Horse."

14. Best Sound Editing:
"Drive,"
''The Girl With the Dragon Tattoo,"
''Hugo,"
''Transformers: Dark of the Moon,"
''War Horse."

15. Best Original Score:
"The Adventures of Tintin," John Williams;
"The Artist," Ludovic Bource;
"Hugo," Howard Shore;
"Tinker Tailor Soldier Spy," Alberto Iglesias;
"War Horse," John Williams.

16. Best Original Song:
"Man or Muppet" from "The Muppets," Bret McKenzie;
"Real in Rio" from "Rio," Sergio Mendes, Carlinhos Brown and Siedah Garrett.

17. Best Costume:
"Anonymous,"
''The Artist,"
''Hugo,"
''Jane Eyre,"
''W.E."

18. Best Documentary Feature:
"Hell and Back Again,"
''If a Tree Falls: A Story of the Earth Liberation Front,"
''Paradise Lost 3: Purgatory,"
''Pina,"
''Undefeated."

19. Best Documentary (short subject):
"The Barber of Birmingham: Foot Soldier of the Civil Rights Movement,"
''God Is the Bigger Elvis,"
''Incident in New Baghdad,"
''Saving Face,"
''The Tsunami and the Cherry Blossom."

20. Best Film Editing:
"The Artist,"
''The Descendants,"
''The Girl With the Dragon Tattoo,"
''Hugo,"
''Moneyball."

21. Best Makeup:
"Albert Nobbs,"
''Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2,"
''The Iron Lady."

22. Best Animated Short Film:
"Dimanche/Sunday,"
''The Fantastic Flying Books of Mr. Morris Lessmore,"
''La Luna,"
''A Morning Stroll,"
''Wild Life."

23. Best Live Action Short Film:
"Pentecost,"
''Raju,"
''The Shore,"
''Time Freak,"
''Tuba Atlantic."

24. Best Visual Effects:
"Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2,"
''Hugo,"
''Real Steel,"
''Rise of the Planet of the Apes,"
''Transformers: Dark of the Moon."

So, who’s your prediction?

Selasa, 03 Januari 2012

Memperkenalkan Banten Melalui Film







“Dear Gio, ini adalah suratku yang terakhir untukmu. Hari ini adalah hari dimana aku akan melangkahkan kakiku pada sebuah perjalanan. Ketika orangtuaku menuntunku dalam doa-doa mereka, sebelum aku menjadi istri seseorang, tapi ia bukan kamu. Dan bersamanya, ku akan mengurangi kehidupan. Sebuah kehidupan yang sepenuhnya dibangun diatas fondasi cinta, rasa percaya dan kesetiaan.”

Ketika saya menuliskan narasi ini, saya tidak membayangkan “Gio” untuk dihidupkan oleh aktor manapun, karena saya sedang tidak membuat film fiksi. Gio adalah sosok laki-laki imaginer yang saya bayangkan sebagai cinta pertama seorang perempuan asal Desa Ranca Kelapa, Tangerang yang pada hari itu akan menikah. Sebagaimana yang dilukiskan dalam filmnya (bisa anda temukan di YouTube), perempuan berdarah Tionghoa itu menikah dengan adat Khonghucu, sebuah ritual yang berusia ratusan tahun dengan keaslian tatacara yang masih terjaga sampai saat ini.

Sebagaimana yang terjadi di hampir semua budaya, sebuah ritual perkawinan pasti diikuti dengan pesta baik itu yang diselenggarakan dengan bersahaja, maupun yang mewah. Tapi di Ranca Kelapa, urutannya terbalik. Pesta diadakan pada siang hari, setelah itu, ritual yang disebut “Cio Tao” diadakan pada diniharinya, lengkap dengan tradisi menyisir rambut, saweran, dan saling menyuapi.

Pesta perkawinan masyarakat keturunan Tionghoa yang seringkali disebut sebagai warga China Benteng ini sendiri adalah warisan budaya yang sangat menarik. Pesta tidak jarang dilakukan selama tiga hari tiga malam, dengan hiburan “Gambang Kromong”, salah satu kesenian akulturasi budaya lokal dan Tiongkok, yang kini semakin terpinggirkan. Saat pesta, makanan melimpah dilengkapi dengan papan petunjuk untuk membedakan antara makanan Tionghoa dan makanan Indonesia.

Saya menangkap eksotisme-eksotisme ini dalam sebuah film dokumenter yang berjudul “Cerita Sehari di Ranca Kelapa”. Sebagai putra daerah yang lahir di Tangerang, Banten, sudah sejak lama saya berkeinginan untuk mengabadikan kekayaan budaya Banten melalui sebuah film. Kesempatan itu akhirnya terwujud ketika saya berhasil merampungkan film-film dengan setting China Benteng, termasuk film “The Last Confucian” dan “Cerita Sehari di Ranca Kelapa”, pertengahan 2011 lalu. Alhamdullillah, pada bulan November 2011, “Cerita Sehari di Ranca Kelapa”, terpilih sebagai Juara Harapan II Festival Cipta Film Pemuda Tingkat Nasional 2011 yang diadakan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

Setelah menulis hampir tiga puluh film televisi yang ditayangkan stasiun TV nasional, saya beruntung menemukan jalan untuk menggarap film dokumenter mengenai kekayaan seni dan warisan budaya Banten, meski saat ini baru terbatas untuk wilayah Tangerang. Film dokumenter, dalam pemahaman saya, bisa menjadi sarana pendokumentasian warisan budaya yang kuat, selain yang mungkin sudah ditempuh melalui fotografi dan sastra.

Dalam perjalanan menuju apa yang sedang saya cita-citakan tersebut, pada bulan April 2011, saya menjadi pembicara workshop terbatas untuk Komunitas Love Our Heritage, dengan salah satu materinya mengupas mengenai pembuatan film dokumenter. Kepada para penggiat komunitas budaya yang berbasis di Jakarta itu, saya berbagi pengalaman mengenai documentary filmmaking, serta peran penting film dokumenter dalam upaya pelestarian dan pengenalan budaya-budaya, terutama jika budaya tersebut mulai hilang atau terpinggirkan.

Banten sebagai salah satu propinsi dengan sejarah peradaban tertua di Indonesia, tentu saja kaya dengan hasil warisan budaya tersebut. Namun selama ini, saya belum mendengar, atau mungkin belum ada sebuah usaha untuk memperkenalkan dan mendokumentasikan kekayaan seni budaya tersebut melalui sebuah film, baik itu dokumenter atau fiksi. Padahal potensi seni budaya di Banten sangat tinggi. Tidak hanya China Benteng saja yang menyimpan sejarah dan warisan budaya yang perlu dilestarikan, namun tentunya Banten juga memiliki Suku Baduy, komunitas unik dengan sejuta tabu yang tentunya potensial menjadi destinasi wisata, dengan warisan budayanya yang pasti menarik bagi dunia. Dan agar dunia mengetahui mengenai kearifan lokal mereka yang tak ada duanya, film bisa menjadi salah satu mediumnya.




Tapi, tentu saja Banten jauh lebih kaya daripada ‘sekadar’ China Benteng dan Baduy. Kekayaan budaya adalah suatu nilai lebih Banten, namun jika kita telaah lagi, banyak aspek-aspek potensi lain dari propinsi Banten yang bisa diperkenalkan melalui film. Hal ini termasuk potensi wilayah laut yang terletak di jalur lalu lintas yang strategis, daya tarik Gunung Krakatau yang sudah terkenal seantero dunia, potensi pariwisatanya, sejarahnya yang terkait peradaban kerajaan-kerajaan masa lampau, sampai kekhasan budaya yang tidak dimiliki propinsi lain, seperti Pencak Silat dan Debus.





Banten juga memiliki potensi sebagai destinasi wisata yang belum tergarap dengan maksimal, sehingga dalam hal ini film bisa menjadi wahana promosi yang efektif. Salah satunya adalah Taman Nasional Ujung Kulon, yang merupakan salah satu daerah konservasi alam dunia yang dicanangkan UNESCO sebagai world heritage site. Sebagaimana kita ketahui, wilayah hutan taman nasional ini merupakan habitat dari badak bercula satu yang hampir punah.




Pantai Carita, Tanjung Lesung dan Pulau Umang yang terletak di daerah Serang dan Pandeglang juga merupakan salah satu tujuan wisata favorit bagi wisatawan. Berbatasan dengan beberapa wilayah laut termasuk Selat Sunda dan Samudera Indonesia, Banten memang memiliki pantai-pantai cantik seperti Pantai Sawarna di Banten Selatan, yang sangat cocok untuk olahraga selancar.




Namun, membicarakan Banten dengan populasi lebih dari 10 juta jiwa takkan lengkap tanpa mengupas mengenai infrastruktur penunjangnya, termasuk sarana transportasi, akses jalan dan sebagainya. Selain sebagai propinsi dimana Bandara Internasional Soekarno – Hatta berada, tentu saja sebagai kawasan yang sedang terus berbenah, Banten terus memperbaiki akses jalannya, sehingga mempermudah proses pembangunan. Akses ini penting karena di Banten termasuk salah satu kawasan industri di tanah air.

Di samping itu, karena posisinya yang berada tidak jauh dari ibukota Jakarta, sebagian daerah Banten menjadi penyangga kawasan yang bernilai sosial ekonomi, termasuk menyimpan potensi kependudukan yang tinggi. Dalam hal ini, dikaitkan sebagai fungsi film sebagai medium pendidikan, isu-isu ini tentu saja bisa dielaborasi menjadi tema fim yang mendidik, mencerahkan sekaligus mengadvokasi terbentuknya tatanan masyarakat yang lebih baik.

Merupakan mimpi bersama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan ini, untuk melihat daerahnya lebih baik dan lebih dikenal melebihi batas geografis, sekaligus menghasilkan pertumbuhan yang menguntungkan. Setiap masyarakat bisa melakukan cara-cara independen dan kreatif seperti berkomunikasi melalui media film. Oleh karena itu, saya berpendapat, upaya memperkenalkan Banten perlu ditunjang oleh bersatunya komunitas pembuat film di Banten, yang berkomitmen untuk membuat film, dari dan untuk Banten.

sumber foto: http://bantenculturetourism.com

Dari Blogger Untuk Banten

11 Kasus PR Terheboh 2011

Akibat kasus penggelapan dana yang dilakukan karyawannya sendiri, Citibank harus menerima sanksi dari Bank Indonesia berupa larangan menerima nasabah baru bagi layanan Prioritas selama setahun. Sialnya, hal ini diperparah dengan kasus tewasnya nasabah kartu kredit akibat ulah debt collector, sehingga BI juga memberikan sanksi berlapis yang melarang Citibank untuk menggunakan jasa penagihan piutang kartu kredit selama dua tahun serta larangan menerbitkan kartu kredit baru selama dua tahun.

Situasi ini jelas menimbulkan kerugian besar bagi bisnis bank asing terkemukan itu di Indonesia, terutama jika elemen reputasi ikut diperhitungkan. Bagi perusahaan, badan pemerintah, atau individu, reputasi sangat penting. Bila reputasi jatuh, dibutuhkan sumber daya yang lebih besar untuk memulihkannya.

Sepanjang tahun 2011, Majalah MIX mencatat beberapa kasus PR terheboh yang mengancam reputasi citra perusahaan, individu, atau badan pemerintah, termasuk kasus yang melibatkan Citibank tersebut. Dibawah ini 11 diantaranya. (Diterbitkan di majalah MIX Edisi Januari 2012). Disusun oleh Iskandar Julkarnaen


1. Industri Telko dan Isu Pencurian Pulsa





Isu pencurian pulsa sejatinya mulai merebak sejak tahun 2010 ketika YLKI menerima 101 pengaduan dari masyarakat dimana hampir separuhnya merupakan keluhan pengambil pulsa. Namun baru pada penghujung 2011, isu penyedotan pulsa ini masuk ke dalam tahap krisis PR yang melanda semua operator.

Dalam kasus ini, hampir semua operator seluler Indonesia terlibat seperti Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Axis Telecom, Hutchison, dan Bakrie Telecom. Kasus sempat memburuk ketika para operator seluler tersebut dianggap saling melempar kesalahan dengan content provider dan dipercaya telah melakukan penipuan kepada konsumen. Konsumen bahkan berusaha melawan para operator dengan menggelar kampanye mematikan telepon seluler selama dua jam pada Sabtu, 15 Oktober 2011.

Beberapa upaya penyelesaianpun diambil. YLKI berusaha menindaklanjuti kasus ini bersama dengan Badan Regulator Telekomunikasi Indonesia. Operator seluler juga mengambil langkah-langkah pemulihan citra masing-masing, sampai akhirnya pemerintah turun tangan melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika. Isu penipuan mulai berangsur-angsur berkurang, terlebih ketika pemerintah melarang operator berbisnis dengan 60 content provider yang sudah di-black list. Untuk melengkapi pemulihan citra ini, operator akhirnya mengembalikan uang dari hasil 'penyedotan' pulsa pelanggannya yang nilainya hampir mencapai Rp 1 Miliar.



2. Angelina Sondakh dan “Inisial BS”

Nama Angelina Sondakh sering disebut-sebut terkait dengan kasus suap wisma atlet SEA GAMES, yang mengemuka sepanjang tahun 2011 ini. Sampai saat ini status Angelina adalah saksi dengan tersangka M. Nazarudin. Politisi inilah yang berulang kali menyebut bahwa Angelina berperan penting dalam kasus yang bisa merusak citranya ini.






Mantan Putri Indonesia ini terkesan santai menjaga reputasinya. Ia kelihatan sangat yakin bahwa citranya bersih dari skandal korupsi. Bahkan, ketika kasus ini belum selesai, Angelina ditengarai memiliki hubungan asmara dengan salah seorang penyidik KPK yang berinisial BS yang membuat sang penyidik dikembalikan ke kepolisian.


3. Recovery “Jangka Panjang” Citibank






Dua kasus yang menimpa Citibank menyiratkan perlunya perbaikan sistem internal di bank asing tersebut. Apalagi strategi PR recovery yang dilakukan Citibank terhitung kurang intensif, menyusul minimnya pernyataan Citibank di media massa. “Kami tidak bisa berkomentar banyak sampai kasusnya selesai,” kata Ditta Amahorseya, Country Head of Corporate Affairs Citibank kepada MIX dalam wawancara beberapa lama berselang.

Tapi, belum ada kepastian kapan kasus ini bisa dianggap ini selesai. Melinda Dee, terdakwa kasus pencucian uang dan tindak pidana perbankan—yang dianggap sudah mencoreng reputasi Citibank, baru menjalani sidang perdana 8 November lalu. Setelah wanita berdarah Aceh tersebut, polisi juga telah menetapkan tiga tersangka baru pada awal Desember lalu. Sementara itu, untuk kasus yang menimpa debt collector-nya, sampai saat ini juga masih berjalan di persidangan.

Menurut Presiden Direktur Fortune PR, Citibank menghadapi tantangan yang tidak mudah. “Citibank perlu memperbaiki sistemnya, dan sebagai upaya recovery, masyarakat perlu tahu kalau perbaikan itu sudah dilakukan.”


4. Delay Lima Jam Garuda Indonesia

Berambisi menjadi maskapai penerbangan dengan reputasi zero delay, Garuda Indonesia justru beberapa kali menuai protes penumpang yang kesal dengan penundaan penerbangan selama berjam-jam. Terakhir, delay dialami oleh penumpang Garuda Indonesia tujuan Yogyakarta pada akhir November lalu yang harus terlunta-lunta di Bandara Soekarno- Hatta selama lima jam sebelum akhirnya diberangkatkan.

Beberapa sumber menyebutkan, Garuda awalnya tidak menunjukkan itikad baik untuk menenangkan penumpang yang kesal, sebelum akhirnya memberikan kompensasi sebesar Rp 300 ribu/ penumpang. Untuk kasus delay ini, Garuda menyebut cuaca buruk sebagai penyebabnya. Pesawat yang dijadwalkan berangkat pukul 17.00, awalnya diinformasikan akan ditunda sampai pukul 20.00. Namun, pesawat baru benar-benar berangkat pada pukul 22.45, mengangkut para penumpang yang kecewa.

Pada kasus penundaan lain seperti yang terjadi di Bandara Sultan Iskandar Muda, September lalu, Garuda menyebut gangguan pada sistem hidrolik sebagai biang keladinya. Garuda meredam krisis dengan menginapkan seluruh penumpang di Banda Aceh, dan menawarkan jadwal penerbangan lain.




Sementara itu, pada kesempatan lain, Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengatakan bahwa pihaknya bisa memahami jika jadwal penerbangan tertunda karena faktor cuaca yang tak bisa diantisipasi manusia. “"Kalau keterlambatan karena perawatan mesin atau operasional ini menunjukkan kualitas pelayanan maskapai," ujarnya.


5. Lion Air: Late is Our Name?

Karena seringnya mengalami keterlambatan penerbangan, Lion Air beroleh akronim baru: Late Is Our Name. Sindiran ini kerap terdengar dari obrolan di media-media sosial yang menyinggung maskapai penerbangan swasta nasional ini.

Kenyataannya, seperti yang dikutip dari situs berita online, penumpang pesawat Lion Air seakan sudah terbiasa mengalami penundaan penerbangan. “Bahkan hampir dalam setiap penerbangan selalu terjadi delay,” kata seorang penumpang kepada Okezone, belum lama berselang.

Mengenai penyebabnya, pihak Lion Air menyebut beberapa hal termasuk jadwal kru yang bermasalah, cuaca buruk, sampai permasalahan yang bersifat teknis. Sumber menyebutkan persamalahan delay penerbangan Lion Air ini telah disoroti sejak lama oleh Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.




Sementara itu, Direktur Utama Lion Air, Edward Sirait menyebut bahwa pihaknya selalu memperlakukan penumpang sesuai dengan Keputusan Menhub (KM) No. 25 tahun 2010. Peraturan tersebut mewajibkan maskapai untuk memberikan makanan saat penumpang sedang menunggu, termasuk menginapkan penumpang bila pesawat terbang ditunda sampai hari berikutnya.



6. Heboh Blackberry Setengah Harga




Maksud hati membuat sebuah acara penjualan perdana yang sukses, namun event yang digelar Blackberry pada akhir November lalu ini malah menuai kekisruhan. Tidak hanya membuat Kapolsek Kebayoran Baru dicopot, tapi peristiwa ini juga menyeret beberapa pihak di belakang penyelenggaraan acara ini ke ranah hukum. Tidak tanggung-tanggung, kasus ini menyeret Presiden Direktur RIM Indonesia, Andy Cobham menyusul penetapan tiga orang lainnya sebagai tersangka. Mereka berasal dari event organizer, pihak Pacific Place, dan konsultan keamanan yang ditunjuk RIM.


Bagaimana RIM bisa menyelenggarakan acara yang berujung kekisruhan menjadi pertanyaan banyak pihak, termasuk Humas Kementerian Komunikasi dan Informasi, Gatot Dewobroto. “Jangan karena dinilai sebagai pasar yang captive, RIM bisa menjadi sembarangan,” kata Gatot kepada media. Sebelumnya, merek-merek seperti Samsung dan Esia juga pernah mengadakan penjualan perdana dengan diskon, namun tidak berujung dengan kekacauan.


7. “Charity Settingan” TV One




Kasus ini mencuat setelah aktifis kemanusiaan Valencia Mieke Randa diundang oleh sosialita Fifie Buntaran untuk menghadiri acara amal di sebuah hotel pertengahan November lalu. Acara tersebut seharusnya dimaksudkan untuk menolong seorang anak bernama Nando yang menderita gagal ginjal. Acara dikemas sebagai malam lelang gaun-gaun yang ditampilkan dalam acara charity fashion show dan berhasil mengumpulkan dana ratusan juta rupiah.

Masalah muncul ketika di akhir acara, Valencia tidak menerima dana apapun, bahkan penggiat BloodForLife itu diberikan informasi bahwa acara itu hanya rekayasa. Valencia yang kecewa semakin kecewa, ketika melihat tayangan acara malam itu di TVOne, dan mengekspresikan kekecewaanya di twitter.

Yang terjadi kemudian adalah opini publik terbentuk terhadap reputasi Fifie Buntaran sekaligus kredibilitas TVOne sebagai stasiun TV berita. Komisi Penyiaran Indonesia, menuduh TVOne melakukan rekayasa, sebuah tuduhan yang kemudian ditangkis TVOne. Bahkan TVOne, melalui GM Internal Affair-nya, Toto Suryanto menyatakan tidak akan meminta maaf terkait dengan tayangan tersebut. Sementara itu, Fifie Buntaran yang merasa citranya dicemarkan dalam peristiwa ini belakangan menunjuk seorang pengacara untuk menggugat TVOne dan memulihkan reputasinya.

8. Kisruh Tak Berujung PSSI

Prestasi sepakbola Indonesia yang sedang menanjak ternyata tidak berjalan linier dengan citra induk organisasi yang menaunginya. Sebab belum enam bulan sejak Kongres Luar Biasa PSSI untuk menggantikan kepemimpinan Nurdin Halid berlalu, kisruh kembali terjadi. Kali ini ada tuntutan untuk membuat KLB PSSI yang diminta oleh pihak-pihak yang dulunya menjatuhkan Nurdin Halid dan menunjuk Djohar Arifin sebagai penggantinya. Alhasil, PSSI-pun kerap dicitrakan secara negatif.

Entah apa yang terjadi di tubuh PSSI, namun dualisme kompetisi sepakbola yang terjadi di Indonesia juga tidak terselesaikan. Bahkan hal ini membuat organisasi sepakbola dunia, FIFA turun tangan. Juru Bicara PSSI, Edi Elison, mengungkapkan FIFA mendesak PSSI menyelesaikan dualisme ini melalui surat resmi FIFA yang diterima PSSI, 22 Desember 2011.




Anehnya, terjadi perubahan pada badan yang dianggap sah menggelar kompetisi sepakbola di Indonesia. Dulu, Indonesia Super League (ISL) merupakan badan yang diakui PSSI. Namun saat ini posisinya terbalik. "Tiba-tiba, barang yang dari dulu halal menjadi haram. Yang dulu legal jadi ilegal dan sebaliknya. Ini aneh," komentar anggota Komisi X DPR RI, Deddy Gumelar.


9. Ancol dan Isu Keselamatan

Tahun 2011 Ancol sempat terkena isu masalah keselamatan ketika dua wahananya mengalami kecelakaan, yaitu Tornado dan Atlantis. Tornado mengalami macet pada bulan Juli 2011, saat menerbangkan 15 pengunjung, namun berhasil dilakukan evakuasi. Peristiwa macetnya Tornado ini sempat ramai diperbincangkan meski kemudian media-media menulis bahwa peristiwa ini terjadi semata karena kesalahan teknis, dan bukan karena kelalaian.

Namun, pada bulan September, kecelakaan terjadi di Atlantis Water ketika hiasan wahana tersebut ambruk. Peristiwa ini menyebabkan empat pengunjung terluka. Berita beredar pertama kali di twitter saat ada yang men-share foto rubuhnya papan seluncuran tersebut. Bahkan peristiwa ini juga sempat mengundang komentar dari Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.





Menanggapi kejadian ini, Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol, Budi Karya Sumadi langsung menyatakan permohonan maafnya kepada pengunjung Atlantis Water Adventure. Pengunjung yang terluka ditangani di rumah sakit, dengan biaya pengobatan ditanggung oleh pihak Ancol. Bahkan para korban ini kemudian diberikan perlakukan khusus berupa tiket gratis masuk Ancol selama setahun penuh.


10. Freeport dan Isu Eksploitasi

Aksi mogok karyawan Freeport yang telah berlangsung selama tiga bulan (September-Desember 2011), membuat citra korporat perusahaan tambang dunia tersebut tercederai. Publik melihat Freeport sebagai perusahaan yang mengeksploitasi tenaga kerja Indonesia dengan memberlakukan standar gaji yang lebih rendah dibandingkan tenaga kerja asingnya. Isu lain juga muncul seperti eksploitasi sumber daya alam dan fakta bahwa pembayar pajak terbesar di Indonesia itu memberikan dana hingga 14 juta dolar AS kepada aparat untuk mengamankan aset mereka di Papua.





Aksi mogok yang diikuti 6000 karyawan atau 90% dari total karyawan Freeport ini, sayangnya berjalan ricuh bahkan memakan korban jiwa dan luka-luka akibat aksi penembakan dan pembubaran paksa. Hal ini diperparah dengan aksi penembakan misterius yang masih sering terjadi di lingkungan sekitar Freeport.

Untuk mengurangi kerugian yang berlanjut akibat mogok besar-besaran ini, Freeport melakukan negosiasi yang sempat berjalan alot. Kesepakatan damai antara manajemen Freeport dan Serikat Pekerja Freeport akhirnya tercapai, dengan salah satu poinnya adalah persetujuan kenaikan gaji karyawan. Freeport juga kemudian beriklan di media massa berisi pernyataan komitmen mereka terhadap Indonesia.


11. Jembatan Kukar Runtuh, Isu Korupsi Menyeruak

Bagaimana sebuah jembatan yang baru berusia 10 tahun bisa runtuh, membuat banyak pihak bertanya-tanya sebab biasanya jembatan dibangun dengan daya tahan minimum di atas 40 tahun. Oleh karena itu, runtuhnya Jembatan Kutai Kartanagara di Kalimantan Timur ini menimbulkan beberapa spekulasi, termasuk indikasi adanya korupsi dalam pengerjaan proyek jembatan yang sering dibandingkan dengan jembatan Golden Gate, San Fransisco ini.



Sampai saat ini, masih dilakukan penyelidikan mengenai penyebab runtuhnya jembatan ini, namun beberapa pihak sudah mengambil langkah-langkah tertentu untuk menjaga reputasinya. Salah satunya adalah Bupati Kutai Kartanagara, Rita Widyasari yang memberikan santunan kepada korban bencana tersebut dari dana pribadinya, selain bantuan resmi dari pemerintah Kabupaten Kutai Kartanagara.

Rabu, 28 Desember 2011

Asian Gastrodiplomacy: To Taste Us is To Love Us!




Di beberapa negara di Asia, kesadaran akan pentingnya Gastrodiplomacy sebagai elemen penting destination branding telah muncul sejak satu dasawarsa yang lalu. Negara seperti Thailand, Korea, Singapura dan Taiwan sudah memiliki program yang khusus dibuat untuk memperkenalkan kekutan kulinernya kepada dunia.








Pearl Milk Tea adalah minuman yang sangat terkenal di kalangan remaja di Amerika Serikat. Minuman ini juga dikenal sebagai ‘boba’ atau bubble tea. Boba mudah ditemui di mal manapun di negara tersebut bahkan menjadi bagian dari budaya pop. Seorang penulis graphic novel berjudul “American Born Chinese” bahkan memasukkan adegan dua remaja menikmati boba di dalam karyanya.


Namun, meski sangat terkenal, tidak banyak yang tahu bahwa boba berasal dari sebuah negara Asia, tepatnya Taiwan. “The sad reality is that most American teenagers are very familiar with bubble tea from their ubiquity at shopping malls than the country that invented the balls of gooey fun,” kata Paul Rockower, seorang gastronomist. Menurut Rockower, mengkaitkan boba dengan Taiwan adalah salah satu dari pekerjaan rumah yang harus dibereskan Taiwan sebagai bagian dari strategi gastrodiplomacy yang sedang dilakukan negara tersebut.


Taiwan, menurut Rockower memang sedang gencar mempromosikan kekuatan kulinernya. “Sampai dengan tahun 2013, negara tersebut menginvestasikan dana senilai 34,2 juta dollar AS sebagai anggaran diplomasi kuliner,” kata Rockower pada sebuah situs. Diplomasi kuliner Taiwan, kata Rockower, termasuk penyelenggaraan festival gourmet internasional di Taiwan, dan mengirim chef mereka ke berbagai kompetisi kuliner internasional. “Selain itu, Taiwan akan memperkenalkan restorannya ke seluruh dunia, mendirikan restoran tersebut di mal dan sampling di beberapa bandara internasional,” jelas Rockower.



Rockower sangat yakin Taiwan memiliki potensi sebagai surga makanan lezat dunia. “Makanan Taiwan memiliki karakter rasa yang unik karena berakar dari China, dan dipengaruhi cita rasa dari Jepang—yang pernah menduduki Taiwan, selain berasal dari elemen Hakka dan unsur pribumi lain,” jelas Rockower. Salah satu makanan eksotik dari Taiwan, menurut Rockower adalah stinky tofu.

Menurut Rockower, Taiwan sangat serius mempromosikan kekuatan kulinernya, sehingga negara tersebut mendirikan yayasan khusus untuk mendukung makanan Taiwan. “Yayasan tersebut didirikan untuk mendukung restoran dan coffe shop yang mempromosikan makanan Taiwan di luar negeri,” katanya. Salah satu coffee shop yang terkenal dari Taiwan adalah Coffe Store 85C, yang membuat pelanggan AS mengantri untuk minuman berjenis iced-sea salt latte.



Selain Taiwan, menurut Rockower, salah satu negara asia yang sangat serius mempromosikan kekuatan kulinernya adalah Thailand. “Gastrodiplomacy was a technique perfected by Thailand, which first used its kitchens and restaurants as outposts of cultural diplomacy,” jelas Rockower. Rockower mencatat restoran Thailand adalah salah satu restoran dengan pertumbuhan popularitas tercepat di dunia. “Semua itu terjadi karena sejak tahun 2001, pemerintah Thailand meluncurkan “Global Thai Program” yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah restoran Thailand di seluruh dunia,” katanya.



Menurut Rockower, pemerintah Thailand sangat yakin bahwa kekuatan kuliner negara tersebut harus ditunjang dengan banyaknya restoran Thailand. “Banyaknya jumlah restoran Thailand tidak hanya untuk memperkenalkan makanan Thailand yang pedas nikmat kepada konsumen baru dan mengundang banyak turis berkunjung ke Thailand, tapi juga memperdalam hubungan Thailand dengan negara-negara lain,” kata Rockower mengutip otoritas pemerintah Thailand yang dimuat di The Economist.






Sementara itu, agresifitas Singapura untuk mempromosikan diri sebagai ibu kota kuliner dunia ditunjukkan dengan pembentukan SPICE atau Singapore International Culinary Exchange. “Spice bertujuan untuk memperkenalkan 15 makanan singapura kepada 9 kota di seluruh dunia, disertai dengan 9 chef, dalam perjalanan selama satu tahun penuh,” kata Rockower. Spice, jelas Rockower mengunjungi London, Paris, Moskow, New York, Hong Kong, Shanghai, New Delhi, Dubai dan Sydney, dengan misi untuk mempromosikan positioning negara tersebut sebagai pusat kuliner yang paling inovatif. “Di tiap kota tersebut, chef dari Singapura bekerja sama dengan chef lokal dalam 3 hari event,” kata Rockower.

Menariknya, roadshow untuk memperkenalkan makanan khas negara pulau tersebut memanfaatkan mobile pop up kitchen, yang bisa dibawa kemana-mana, yang disebut sebagai Singapore Take Out. Pada September lalu, Singapore Take Out mengunjungi New York. Sebagaimana diberitakan Channelnewsasia.com, beragam makanan diperkenalkan kepada warga The Big Apple termasuk laksa, short ribs, pork buns dan buah keluak.


Malcolm Lee, chef Singapura dengan spesialisasi masakan peranakan dalam roadshow tersebut bekerja sama dengan chef terkenal di New York. Beberapa diantara chef terkenal tersebut adalah Anthony Ricco, Dominique Ansel dan chef terkenal, Ed Cotton, yang terinspirasi untuk menciptakan resep baru dari masakan-masakan khas Singapura. “Saya akan membuat rivoli dari chilli crab dan mie yang dikenal sebagai char kway teow,” kata Cotton.


Sementara itu, CEO Singapore Toursm Board, Aw Kah Peng mengatakan bahwa kerja sama dengan chef lokal adalah elemen penting dalam gastrodiplomacy Singapura. “Melalui kerjasama dengan chef lokal kami ingin menciptakan resep-resep baru yang terinspirasi dari makanan khas Singapura, dan menunjukkan diversitasnya, selain keajaiban-keajaiban yang bisa tercipta dari perpaduan chef kami dan chef lokal,” kata Peng.


Seperti Singapura,  Korea juga giat memperkenalkan kekayaan kulinernya dengan aktif berkeliling dunia melalui aktifitas yang kerap disebut sebagai ‘The Kimchi Diplomacy’. Pada tahun 2009, Kim Yoon-ok, istri Presiden Korea Selatan, Lee Myung-bak, memulai diplomasi ini dengan memasak bersama chef AS dengan mengundang para veteran Perang Korea di negara tersebut, sebagai audience. “Saya ingin memperkenalkan cita rasa Korea baru yang positif dan lezat, yang mungkin tidak sempat mereka ketahui ketika terlibat perang,” kata Kim kepada The New York Times.


Begitu seriusnya pemerintah Korea dalam mempromosikan  kuliner negaranya, sehingga Korea bahkan menargetkan untuk masuk ke dalam Top 5 kuliner dunia pada tahun 2017. Sebuah sumber menyebutkan bahwa Korea tengah gencar memperkenalkan bibimpap dan bulgogi agar bisa bersaing dengan makanan khas Asia lain, seperti sushi. Selain itu, sejumlah dana juga digelontorkan termasuk beasiswa bagi mahasiswa Korea untuk mempelajari dunia kuliner.


Lebih jauh, sejumlah penelitian dan pengembangan terhadap makanan juga dilakukan, termasuk festival yang khusus mengangkat makanan tertentu misalnya Tteokbokki, semacam kue beras. Kampanye ini, sebagaimana ditulis oleh NYTimes juga berusaha untuk meluruskan opini publik terhadap cita rasa Korea. Selama bertahun-tahun, makanan asli Korea terlanjur melekat dengan citra terlalu pedas, terlalu banyak bawang putih dan terlalu asam. Contohnya adalah Kimchi, yang aromanya sangat kuat.

Menariknya, kebanggaan terhadap makanan asli negaranya juga diikuti oleh kesadaran warga Korea sendiri untuk lebih banyak menyajikan makanan lokal. “Setelah perang, Korea terjangkit wabah makanan barat, tapi kini banyak restoran mahal di Korea yang kembali gencar mempromosikan makanan khasnya sendiri, bahkan termasuk cara pembuatannya,” tulis NYTimes.

(artikel ini dimuat di Majalah MIX- Marketing Communication edisi Oktober 2011