Senin, 15 Februari 2016

Hepi hepi di Kota Bharu

Saya suka datang ke suatu tempat sebelum fajar menyingsing, dan menyaksikan matahari perlahan muncul dan membuat dunia terang. Seperti ketika bis yang saya tumpangi berhenti di last stop Rantau Panjang, yang sudah dekat sekali dengan Thailand. Hari itu Jumat, 5 Februari 2016, untuk pertama kalinya saya traveling di Malaysia, tanpa membawa paspor, sebab kantor sedang membutuhkannya untuk memperpanjang working permit. Bismillah saja, kata saya dalam hati. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa.

Tetapi menumpangi bis malam ternyata menyebabkan masalah lain: saya kedinginan. Sebab saya hanya memakai celana pendek, kaus tipis dan sandal jepit. Saya tidak membawa sarung untuk melawan dinginnya AC, tapi saya membawa handuk. Jadilah saya menyelimuti tubuh saya dengan handuk, sementara penumpang yang duduk di sebelah saya (wanita berjilbab) sudah terlebih dahulu menyelimuti seluruh tubuhnya (termasuk kepala) dan tertidur selama lebih dari 7 jam perjalanan.

Bis Transnasional itu sempat berhenti dua kali (jika saya tidak salah ingat), dan menjelang pemberhentian terakhirnya di Rantau Panjang, seorang berpakaian tentara masuk ke dalam bis, “IC, paspor,” katanya sambil menuju deretan tempat duduk paling belakang. Saya mencoba menenangkan diri, untuk tidak panik, sampai tiba giliran saya untuk ditanya. (Tuhan, lindungi saya).

Bis tiba di Rantau Panjang rupanya tak lama setelah adzan subuh terdengar. Saya masih agak limbung dan mengantuk sebab saya merasa tidak benar-benar tidur sepanjang perjalanan. Saya menemukan sebuah musholla dengan aksara Thailand dan Bahasa Melayu di toiletnya. Saya sholat subuh dan lalu mencari taksi untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Bharu.

Terminal Bis di Kota Bharu. Perhatikan bahwa apapun di sini akan punya aksara arabnya, termasuk nama-nama tempat, bahkan merek produk.


Sopir taksi itu tidak mengatakan apa-apa lagi setelah dia bilang ongkosnya 40 Ringgit (sekitar Rp 130 ribuan). Ia menurunkan saya tak jauh dari Stesen Bas Kota Bharu, lalu saya melanjutkan perjalanan untuk menemukan Timur Guesthouse. Rupanya letak hostel backpacker itu agak tersembunyi sehingga saya mengalami kesulitan untuk menemukannya.

Seorang pria Melayu bernama Mat menyambut saya. Bahasa Inggrisnya impeccable dan itu bisa bermakna capable dalam industri hospitality. Saya sudah booked selama 4 malam di hostelnya via hostelworld, tapi saya bilang kalau saya ingin menginap 2 malam saja, sebab mungkin saya ingin pindah hostel atau melakukan hal yang lain. Saya lalu membayar RM 51, menambah deposit yang sudah saya bayar sebelumnya via online.

Saya lalu meletakkan ransel saya di kamar dan mulai mengeksplor kota ini. Mat sudah membekali saya dengan peta dan menjelaskan kalau Kota Bharu tidak besar, semua tempat yang menarik perhatian turis akan bisa didatangi dalam waktu  6 menit saja. Saya jelaskan bahwa sebenarnya saya ingin snorkeling tapi dia ragu kalau saya akan diizinkan menyeberangi ke Pulau Perhentian sebab cuaca sedang tidak bersahabat.

Tempat pertama yang ingin saya datangi adalah Pasar Siti Khadijah, sebab itu adalah icon Kota Bharu. Hujan turun dan menjadi deras ketika saya tiba di pasar itu. Di sini, hampir semua penjualnya adalah perempuan dan mereka menjual sayuran, ikan-ikan, dan semua keperluan dapur termasuk bumbu-bumbu. Ada juga buah-buahan, dan kue-kue. Setelah saya pikir-pikir, makanan di sini cukup enak-enak dan akan mengingatkan orang Indonesia pada Yogyakarta.

Pasar Siti Khadijah yang iconic itu!


Penjual kue di pasar Siti Khadijah
Saya menguap beberapa kali, jadi saya putuskan untuk kembali ke hostel untuk tidur siang. Saya terbangun jam 3 sore, merasa bersalah karena sudah dua minggu berturut-turut saya skip shalat Jumat...


Wisata Kuliner di Kota Bharu

Gara-garanya saya nggak menyangka ketika sedang jalan-jalan ke Kuching, menemukan kalau makanan di sana enak-enak banget! Lalu saya berharap akan menemukan makanan-makanan yang sama enaknya di Kota Bharu. Makanya, Jumat sore, sambil payungan karena hujan, saya jalan-jalan, bawa peta mencari-cari orang yang jual makanan.

Nah, lalu saya menemukan laksa Kota Bharu ini. Rasanya cukup enak, tapi saya pikir bisa lebih enak lagi sih *banyak maunya ya*.

Laksa Kota Bharu yang berwarna lebih pucat dari laksa-laksa lain di Malaysia
Penjual laksa ini seorang perempuan yang berjilbab, cukup ramah, dan aksennya beda dengan aksen Melayu yang saya biasa dengar di KL. To be honest, saya lebih suka mendengar aksen Melayu di sini, meski saya nggak ngerti mereka ngomong apa. Tapi, itu tetap Bahasa Melayu loh.

Anyway, di tengah hujan gerimis itu, perjalanan saya berlanjut, sampai saya menemukan Kampung Kraftangan,  Muzium Diraja, dan Lapangan Merdeka, yang ada gapura besarnya, tak jauh dari sebuah masjid, yang namanya Masjid Muhammadi. Cukup cantik juga masjid ini dan banyak orang-orang berpenampilan muslim/muslimah di dalamnya. *iyalah. Kelantan memang salah satu state di Malaysia yang menerapkan syariat Islam loh.






Hari sudah mulai sore, tapi saya lanjut jalan ke arah sebuah menara. Ternyata di belakang menara ini ada sungainya lho! Meski nggak secantik sungai di Kuching, sungai ini lebar banget ukurannya. Bahkan saya sempat naik ke atas menara di lantai 6 (tiketnya 2 ringgit) demi melihat sungai itu dari atas ketinggian.

Pemandangan dari menara di tepi Sungai Kelantan


Setelah puas menikmati suasana hujan di sana, saya turun. Sebenarnya seram juga sih, ada di atas menara sendirian, dan sama sekali nggak ada turis lain. Makanya saya putuskan untuk menyusuri sungai sampai menemukan ada restoran-restoran dan kafe yang menjual aneka makanan salah satunya Roti Tempayan.


Didorong oleh rasa penasaran saya masuk ke restoran yang menjual Roti Tempayan itu. Tapi kok setelah menunggu setengah jam, yang dipesan belum datang-datang juga?! Akhirnya saya bilang sama mbaknya untuk cancel aja pesanannya, yah daripada bĂȘte....

Setelah magriban di Masjid Muhammadi, saya cek peta dan menuju ke foodcourt yang kalau kata si peta berlokasi nggak jauh dari masjid itu. Akhirnya setelah jalan kaki selama 10 menit, saya menemukannya! Again, nggak seperti bayangan saya sih, tapi saya putuskan untuk hepi hepi aja, dan mulai mencicipi makanan yang dijual di situ.

Makanan yang bentuknya mirip bacang, tapi isinya ikan.




Ada beberapa makanan yang namanya baru saya dengar saat itu seperti Somtam, nasi air dan makanan yang kayak bakcang, tapi dibakar, dan isinya ikan (nggak tahu namanya apa). Akhirnya saya putuskan untuk coba makan nasi air, yang harganya RM 4. Ohya, harga makanan di sini, sama kayak di Ipoh, alias lebih murah dari standar harga makanan di KL.

Ternyata, nasi air itu sejenis bubur yang dikasuh sup daging dan ditambahin wijen. Nggak bisa dibilang nggak enak sih, tapi nggak istimewa juga. Saya pernah makan yang lebih enak dari ini.

Setelah kenyang, (sebenarnya porsinya sedikit), saya putuskan kembali hostel, tapi muter-muter dulu sebentar, menikmati charming-nya kota ini di waktu malam. Saya juga nyari-nyari kedai kopi yang namanya Kedai Kopi Din Tokyo, setelah membaca turis asing menulis tentang kedap kopi ini di blognya. Tapi ternyata udah tutup juga!

Kedai Kopi Din Tokyo ini berlokasi di Jalan Tok Hakim, nggak jauh juga dari stesen bas, dan Pasar Siti Khadijah. Orang-orang memang biasanya datang saat sarapan dan bukan menjelang tengah malam, seperti yang saya lakukan semalam sebelumnya.

Ketika saya datang ke sana besoknya, saya pesan telur rebus dan cakue, minumnya Teh Tarik. Semuanya 5 ringgit saja! Pak Din nggak sendirian, dia dibantu sama anak istrinya melayani pengunjung pagi itu. Katanya sih, tempat ini memang nggak pernah sepi, apalagi Pak Din-nya sendiri sangat ramah. Ia terus saja mengajak ngobrol orang-orang yang datang, meskipun tidak semua mengerti apa yang dia katakan. Contohnya, “Sebale” itu artinya “sebelas”. Bayangkan seperti apa kata-kata yang lainnya. Beda banget kan…

Sarapan di Kedai Kopi Din Tokyo

Hari Minggu di Kuala Besut

Kota Bharu adalah ibukota negara bagian Kelantan. Masyarakatnya menyebut Kelantan sebagai Kelate. Ke-la-te. Tapi tidak jauh dari Kota Bharu, ada pulau terkenal yang konon bagus banget yang namanya Pulau Perhentian Besar dan Pulau Perhentian Kecil, yang termasuk dalam negara bagian Terengganu, dan untuk kesana saya harus naik perahu dari Kuala Besut.

Mat sebenarnya udah bilang kalau mungkin aja jeti di Kuala Besut ditutup karena faktor cuaca, jadi nggak ada yang bisa menyeberang ke Pulau Perhentian. Tapi saya teteup keukeuh mau kesana, bahkan bilang sama Mat kalau saya ubah arrangement stay saya di hostel, malam kedua akan menjadi malam Selasa, tapi dia bilang jam checkout sudah lewat! Sigh, akhirnya saya bilang padanya, saya akan kembali ke Kota Bharu hari Senin, dan akan stay di dorm saja. Terpaksa saya harus bayar 15 RM!

Akhirnya saya jalan ke terminal bis dan menunggu bis Cityliner untuk menuju ke Kuala Besut. Saya sudah booking 1 malam via Agoda untuk stay di sebuah hostel namanya Yaudin Guesthouse.

Video: Perjalanan menuju Kuala Besut :)

Bis dijadwalkan berangkat pukul 17.30 tapi baru mulai kelihatan nongol pukul 18.00! Akhirnya saya tiba di Kuala Besut setelah lewat jam 8 malam dan langsung mencari yang namanya Yaudin. Nggak susah sih nyarinya, karena hostel di Kuala Besut nggak banyak dan Yaudin terletak di lantai 2 terminal itu. Kondisi hotelnya ya gitu deh, dindingnya triplek aja, dan pintunya juga pake gembok! Tapi lumayanlah, bayar 25 RM tapi bisa dapat kamar privat.
Terminal Kuala Besut

Kamar hostel saya di Kuala Besut. :p

Salah satu tempat makan di Kuala Besut


Kuala Besut sendiri kota pesisir kecil banget, yang nyaris nggak punya apa-apa selain terminal bis, jeti sama rumah-rumah penduduk yang bisa dihitung dalam sehari.

Tapi, ada beberapa spot di sini yang artistik khas orang-orang yang tinggal di pesisir. Makanan? Saya suka makan mi sup ayam kampungnya!

This is so good!

Malam di Kuala Besut yang sepi dan berangin kencang

Perahu yang bersandar di dermaga Kuala Besut

Pemberlakukan syariat Islam bisa dilihat pada spanduk ini.


Besoknya, saya kecewa berat, karena hujan masih aja turun, dan jeti ditutup! Nggak boleh ada aktifitas ke laut, jadi saya nggak bisa snorkeling dan stay di Pulau Perhentian! Saya berjalan tak tentu arah di sekitar terminal dan melihat banyak turis yang juga resah seperti saya. Sama-sama gigit jari, Bayangan seru-seruan snorkeling seperti waktu di Kota Kinabalu, Lombok dan Bali mulai buyar. Goodbye Pulau Perhentian!

Di saat-saat jalan nggak tentu arah itu, ada peta yang menyelamatkan saya. Bagusnya peta-peta di Malaysia, semua disertai dengan gambar-gambar tourist attraction di sekitarnya lengkap dengan cara menuju ke sana (rute, bis, dan lain-lain). Akhirnya saya memutuskan untuk datangin air terjun sama hot spring.

Saya lalu tanya sana sini, termasuk ke mbak-mbak tour operator yang lagi nenangin orang-orang yang gagal ke Pulau Perhentian. Dia bilang, nggak ada bis untuk pergi ke air terjun, jadi harus pake taksi. Wah kebayang pasti mahal deh!

Seorang sopir taksi mendekati saya yang lagi bingung. Saya menunjuk gambar yang ada di peta, yang adalah Air Terjun Lata Tembakah dan LA Hot Springs (dibacanya “La”, bukan El-A). Dia bilang dia bisa anter dengan ongkos RM 100 pp!

Saya mencoba menawar jadi RM 80, tapi sopir taksi yang sebenarnya ramah itu menggeleng. No, katanya. Akhirnya saya bilang oke, 100 ringgit asal pulangnya bisa mampir ke pantai Bukit Keluang yang kalau di gambar, kelihatann keren banget.

Akhirnya dia setuju!

Special Customer

Tetapi ada masalah lain. Ketika tiba di Hutan Lipur dimana Air Terjun Lata Tembakah berada, kami tidak menemukan siapapun di sana, kelihatannya hutan itu sedang ditutup, bahkan lapak-lapak makanan yang seharusnya ramai oleh penjual dan pembeli juga tidak menampakkan ada tanda-tanda kehidupan.






Sopir taksi (yang awalnya menyangka saya orang Singapore), mencoba menelepon ke sebuah nomer yang tertera di loket, tapi tidak tersambung. Sampai akhirnya 10 menit kemudian, muncul seorang pria melayu yang sepertinya karyawan Departemen Kehutanan dan penjaga hutan tersebut. Sopir taksi menghampiri orang itu yang bilang kalau hutan ini memang ditutup karena debit air sedang besar sehingga dikhawatirkan akan membahayakan pengunjung.

Tetapi, saya tidak tahu apa yang dikatakan sopir taksi pada pria itu, sampai kemudian sopir taksi bilang saya diperbolehkan masuk! Mungkin dia pikir, ngapain nih orang Indonesia jauh-jauh datang ke hutan Malaysia? Hehehe…

Bahkan ketika berdatangan beberapa anak-anak muda yang kelihatannya ingin masuk ke hutan itu, sopir taksi itu bilang saya dibolehkan masuk, tapi harus menunggu mereka pergi dulu. “You are special customer,” katanya. Saya bersorak dalam hati, karena bahkan saya nggak dimintain tiket masuk yang seharusnya 3 ringgit perorang.

Sopir taksi lalu menemani saya menelusuri hutan lebat itu. Untung saja hujannya tidak deras, hanya gerimis yang tidak sempat membuat basah kuyup karena saya dipayungi pohon-pohon yang rimbun. Kami terus berjalan sekitar 45 menit, yang terasa semakin menanjak. Hutan itu sedikit gelap, sebab tidak ada matahari dan hari sedang hujan. Mistis.

Sampai kemudian kami berhenti ketika memang sudah tidak ada jalan setapak untuk dilalui lagi dan saya melihat air terjun yang arusnya begitu deras dan bergemuruh. Jujur aja, hati saya jadi ikut bergemuruh, tapi saat itu, untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini, saya merasakan sebuah inner peace.

Saya beristirahat sejenak sementara sopir taksi juga ikut-ikutan mengagumi keindahan air terjun itu.

Kalau arusnya tidak sedang kencang, ingin rasanya saya menceburkan diri di aliran air terjun itu.

Video: Air Terjun yang gemuruhnya menggetarkan!


Dari tempat itu, sopir taksi membawa saya ke La Hot Springs. Jaraknya sekitar 45 menit dari Hutan Lipur. Pada saat saya datang ke sana, banyak orang yang sedang mandi di sungai, mengingatkan saya pada gambar-gambar dari Sungai Gangga.

Ada beberapa water cluster di sana dan saya mencoba yang airnya paling panas. Saya melepaskan pakaian saya dan hanya mengenakan celana renang, lalu bergabung dengan orang-orang yang sedang berendam. Oh, this is nice. Ini yang saya butuhkan  setelah banyak sekali berjalan kaki di hari-hari sebelumnya.
La Hot Springs




Tidak sampai satu jam saya berada di tempat ini. Saya lalu berganti baju, tanpa sempat mandi, dan lalu meminta sopir taksi membawa saya ke pantai sekaligus pulang.

Tapi tidak ada yang istimewa di Pantai Bukit Keluang. Tidak jelek, tapi tidak membuat saya ingin berlama-lama di sana. Saya malah lebih tertarik membeli pisang goreng yang banyak dijual di sana.

Pantai Bukit Keluang



Setelah itu, saya memutuskan untuk kembali ke Yaudin, keluyuran, makan malam dan tidur.

Kembali ke Kota Bharu


Selamat datang (kembali) di Kota Bharu
Saya tiba kembali di Kota Bharu dari Kuala Besut sekita jam 1 siang. Saya menimbang-nimbang untuk mencari hostel lain yang lebih dekat dengan stesen bus, ketimbang kembali ke Timur Guesthouse, tetapi hostel di sekitar stesen bus rata-rata bertarif lebih dari RM 70 permalam. Sebenarnya ada KB Backpacker House yang dorm-nya sekitar RM 20, tapi itu tetap lebih mahal dari Timur Guesthouse. Buat seorang backpacker seperti saya, selisih 5 ringgit itu besar juga lho!

Kue-kue yang sungguh enaaaaak!
Saya menghabiskan malam terakhir di Kota Bharu dengan mencari makanan, sampai saya menemukan penjual kue-kue yang enak di tempat yang sama yang menjual laksa di hari pertama saya datang ke Kota Bharu. Dinner-nya saya ikutan antri Nasi Kukus Ayam Berempah, yang lagi-lagi penjualnya mengira saya orang Singapore. Seriously, what’s in me that makes me looked like a Singaporean?

Ngantri Nasi Kukus
Di tempat ini, saya disangka orang Singapore! :D
Ketika hari menjelang malam, saya kembali ke Kedai Kopi Din Tokyo, lalu memesan minuman andalan mereka, Halia Telur Puyuh. Ini adalah minuman air jahe panas yang dicampur dengan telur puyuh mentah. Rasanya cukup enak, dan konon bisa menambah energi bagi kaum pria.


Halia Telur Puyuh dan pembuatnya :)

Setelah itu saya pulang ke hostel. Esok pagi, bis dari Kota Bharu akan berangkat jam 9.45 ke Penang. Perjalanan ini jika dilihat di peta akan seperti memotong semenanjung Malaysia, melintasi dua negara bagian lain yaitu Perak dan Kedah dan seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 5 jam 26 menit menurut Google Maps.

Di perjalanan selama lebih dari 7 jam itu, saya tidak ingat melakukan apa. Mungkin saya tertidur, tapi yang jelas saya merasa sangat bersyukur telah melakukan perjalanan-perjalanan ini dan menikmati mukjizat-mukjizat kecil yang selalu ada dimana-mana.

Selasa, 19 Januari 2016

Ms J Contemplates Her Choice, and So Does the Audience



What a great thriller can do to audience is to stimulate their mood, giving audience heightened feelings of suspense, excitement, anticipation, and anxiety. 

However, it’s not enough! Today, a great thriller and all genres of movie in general need to able to maintain its “charm” not only on the edge of audience seats when they’re watching it, but also until the film hit the credit title. This is indispensable to make audience willing to experience it again, or at least tell their friends to watch it. 

“Ms J Contemplates Her Choice” is a Singaporean thriller movie that’s very convincing at the beginning but turn out a bit lame at the end. We enjoy the story about a radio announcer, Jo Young (Ms J) who provide callers with advice about choices they need to take. Sometime it’s as shallow as leaving or loving a man, or another mundane topics in life. 

But one night, a caller pushed Ms J to choose between a prostitute and a loan shark. Not too concerned about it, Ms J chose the prostitute, and the caller said she saved one life over another. 

Only after they found a body of a famous loan shark, things getting intense. Ms J felt something wasn’t right, but her producer insisted to continue the show.


In the mean time, we saw a subplot of a young couple that incidentally hit a man in the street. The girl suggested that they can runaway because the guy they hit might be just an illegal migrant. But, the boy in doubt, should they call a police officer and file an incident? In the end, it was the boy who grinded the guy body, to make sure he was dead.


And then there were scenes where we can see the silence moments of Ms J. These are precisely strength of this movie, but it’s not that much. Pop singer Kit Chan in her debut was able to portray the character so well but the story did not give her enough space to blow audience’s mind. 

At the end, Ms J decided to resign from the radio station, and the caller get her phone number, calling, which one you choose between the most unexpected things in her life. She was facing the ultimate moral dilemma only to be solved so easily. 


Admittedly, this film has successfully present Singapore and Singaporean from its heart of the darkness. We will see characters battled with values, and some remain unsolved until the end of the movie. Meanwhile, audience will find its cinematography was really alluring.

What’s lacking in this movie seems to be its ability to maintain its charm after the plot revealed its twist. We were not satisfied with the ending, because forgiveness was not always easy, especially for those enduring years of grudge. 

"Ms J Contemplates Her Choice"
Director: Jason Lai
Country: Singapore (2014)

My rating: 3/5

Jumat, 15 Januari 2016

Kain Untuk Kehidupan

Kehidupan menawarkan begitu banyak hal bagi Josephine Komara untuk terus memelihara gairah penciptaan. 

Josephine Komara, dalam sebuah acara yang diselenggarakan TEDX Jakarta Selatan

Terlahir sebagai Ang Siok Bin, 57 tahun yang lalu, Obin–begitu ia kerap disapa, barangkali termasuk sosok yang terlahir terlalu cepat bagi jamannya, dengan pemikiran, rasa cinta dan penasaran yang meluap-luap terhadap begitu banyak hal. “Saya cinta tanaman, makanan, cara membuat makanan, cara orang bicara, lingkungan, sopan santun, hubungan antar manusia, musik. Saya mencintai banyak hal,” kata Obin kepada Inspirasi. Perjalanan hidup kemudian membuatnya terpanggil untuk menjadi tukang kain sampai saat ini.

Secara formal, Obin hanya menempuh pendidikan sampai tingkat Sekolah Dasar, namun pada tahun 1989, ia membuka toko pertamanya di Jepang (ia selalu menolak outletnya disebut sebagai “butik”, alasannya, “saya hanya tukang kain,”). Tahun 1989, tidak banyak orang Indonesia yang berpikir untuk membawa mereknya menjadi global brand, namun Obin sudah memiliki kesadaran sejauh itu.
Tukang kain itu memulai jauh lebih awal dari yang lain, dengan membuka toko pertamanya yang menyasar kelas menengah atas Jakarta, sejak tahun 1986. Kini, persepsi citra terhadap kain Obin sejajar dengan produk premium seperti Hermes dan Louis Vuitton, dan tentu saja dengan harga yang begitu tinggi. Sehelai Kain Obin bisa dibandrol dengan harga ribuan dollar.

Meski demikian, ia tidak melihatnya sebagai penghalang. “Saya yakin, jika seseorang membuat sesuatu dengan pengetahuan, ketekunan dan semangat, ia tidak akan punya masalah dengan penjualan,” kata Obin. Memulai bisnis sejak usia 17 tahun, Obin telah membuktikan dengan pengalaman kayanya bahwa sesulit-sulitnya seseorang membuat sesuatu untuk dijual, sama sukarnya dengan orang yang dalam keadaan untuk mencari sesuatu untuk dibeli. “Pekerjaan saya sebagai tukang kainlah untuk menemukan mereka yang mencari sesuatu untuk dibeli,” katanya.

Untuk Obin, itu bukan hanya sekadar ‘sesuatu’. Kain dan karya-karyanya berada di kelas tersendiri dan dengan keluwesannya bergaul, ia bisa diterima dengan mudah di kalangan jet set Indonesia dan dunia. “Ini bukan tentang apa yang saya mau buat, tapi saya harus turut merasakan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat.”

Begitu kita merasakan adanya suatu kebutuhan dan kebutuhan itu tidak ada, itulah pertanda agar kita perlu membuatnya.

Obin menyebut titik balik dalam karirnya terjadi pada tahun 1970-an. “Jika semesta diciptakan melalui sebuah big bang, maka saya memiliki momentum big bang saya sendiri,” kata Obin. Big Bang bagi Obin terjadi ketika pada tahun 1970-an, pemerintah membuka lebar-lebar pintu investasi asing dan lalu masuklah investor dari Jepang yang turun di bisnis tekstil. “Ketika orang-orang Jepang membangun pabrik tekstil, itulah saat dimulai adanya kebutuhan terhadap kreasi motif kain,” kata Obin.

Bisnis kain Obin mulai menggeliat pada masa-masa ini, ketika Ali Sadikin menjadi gubernur Jakarta dengan kebijakan akomodatifnya, dan ketika Jepang membangun pabrik tekstil di Bandung. “Saya percaya Bandung berkembang pesat dengan kontribusi dari orang-orang Jepang ini,” kata Obin. Inilah masa-masa ketika untuk pertama kalinya, orang-orang mencarinya untuk memesan horden, sarung bantal dan kain-kain pelapis.

Obin menghabiskan masa kecil dan remajanya di Hongkong. Ketika ia kembali ke Indonesia, ia menemukan cinta sejatinya pada kain tradisional dan kemudian menemukan metode untuk menghasilkan kain tenun tradisional dan mengawinkannya dengan motif-motif batik. Obin kemudian juga menguasai teknik produksi kain lainnya seperti sulam, ikat, tie & dye, stitch & dye dan semua teknik tradisional lain yang membuat kain Indonesia dikenal.

Kain-kain Obin termasyhur karena dibuat dengan tangan, tanpa bantuan mesin modern sama sekali. Itulah sebabnya, untuk menghasilkan sehelai kain bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Di dalam sehelai kain tersebut, selalu terdapat sentuhan personal Obin dengan segala keluasan maknanya. “Kain itu dibuat dengan tangan, jadi setiap helainya beda warna, beda corak, beda motif, beda tekstur. Ia punya nyawa sendiri,” kata Obin.

Ketika popularitas Batik meningkat sekitar tiga tahun yang lalu, ada permintaan yang tinggi akan produksi Batik masal. Namun, Obin teguh menjaga komitmennya. “Yang saya lakukan adalah mencipta, sementara yang mereka lakukan adalah memproduksi,” katanya.

Dengan kredo ini, ia terus berinovasi. Salah satu masterpiece-nya adalah aplikasi desain batik pada kain sutera yang ditenun dengan tangan. “Orangtua saya mengajarkan, kalau kamu melakukan sesuatu, berikanlah segala-galanya, atau tidak usah sama sekali,” katanya. Maka, dengan banyaknya karya yang dibuatnya, ia tidak bisa menyebutkan mana yang paling banyak menyerap energinya.

Ia menegaskan, karya-karyanya adalah seni itu sendiri, yang membutuhkan waktu dan energi yang luar biasa. Ia mengaku ia tidak selalu sukses memproduksi kain. “Saya dibesarkan dari serangkaian kegagalan,” katanya bijak. Membuat kain bagi Obin tak ubahnya seperti main games dan untuk masuk ke level berikutnya, seringkali harus menemui tantangan berat yang membuat kita harus mengulang dari semula. “Begitulah pula dalam membuat kain, dan saya percaya dalam membuat apapun, ada proses serupa.”

Kesalahan bukan kegagalan. Salah tidak berarti gagal. Sebuah kesalahan untuk dipelajari, supaya tidak terulang di kelak kemudian hari.

Selain menghasilkan karya yang baik, bukti totalitas Obin adalah dengan mengenakan apa yang menjadi karyanya sendiri. Di setiap kesempatan, kita akan jarang menemukan penampilan Obin selain apa yang telah menjadi ciri khasnya: kebaya, kain, rambut digelung, make up bersahaja. Tidakkah ada perempuan lain yang begitu melekat dengan kebaya dan kain selain Obin?

Suatu ketika, kita akan menemukan Obin sebagai sebuah legenda, ikon perempuan Indonesia dengan cinta yang mendalam, dan energi yang seolah tak habis-habis. “Saya tidak tahu dari mana energi ini berasal. Mungkin karena saya percaya. Saya peduli,” katanya.

Saya percaya, cinta dan kepedulian yang begitu besar bisa melahirkan energi yang luar biasa.

Dalam waktu dekat, ia akan membuka museumnya sendiri di Bali. Tidak berlebihan untuk menyebut museumnya akan menjelma eksibisi cinta, karena setiap karyanya dibuat dengan energi penciptaan yang didasari cinta. Resepnya sederhana saja. “Kalau kamu terpikir suatu ide, mainkan ide itu di kepala, corat-coret pakai tangan, jangan pakai mouse, dan lakukanlah.” Setelah itu, seolah untuk menegaskan, ia berkata lagi, “lakukanlah, maka itu akan terjadi.”

Catatan: saya menulis ini berdasarkan wawancara dengan Obin pada tahun 2012 di sela-sela acara TEDx Jakarta Selatan.

Senin, 11 Januari 2016

Ketika Panggilan Itu Datang


Yesus datang dalam mimpinya. Wajah-Nya persis seperti yang ia lihat dalam lukisan-lukisan dengan mata teduh dan rambut-Nya yang gondrong.

Pada mimpinya yang pertama, ia melihat Yesus turun dari langit dan berkata kalau Ia kecewa padanya. Saat itu, ia masih seorang Khonghucu meski bersekolah di sekolah Kristen.

Yesus datang kembali dalam mimpinya yang kedua, dan berkata, “kamu akan masuk ke padang gurun selama 40 hari.”

Saat mendengar kisah ini, gue antara percaya nggak percaya, tapi gue akhirnya memilih untuk percaya dan lalu bersyukur kalau hal ini tidak terjadi sama gue. Sebab gue yakin nggak bakalan tahan berada di padang gurun selama 40 hari.

Tapi, 40 hari di sini ternyata adalah konsep yang abstrak. 40 hari seperti yang dikatakan Yesus dalam mimpinya bukan berarti 40 hari dalam pengertian yang kita kenal. Bukan satu bulan dan 10 hari, tapi bisa jadi 40 minggu, 40 bulan, atau 40 tahun.

Gue bertemu dengan ekspat yang satu ini saat dia sudah berada di KL selama lebih dari 4 tahun. Ialah yang mimpi bertemu Yesus 2 kali, yang diartikannya untuk bertahan di Malaysia. Baginya, padang gurun itu adalah Malaysia, dan ia tidak akan kemana-mana sampai Yesus datang kembali dalam mimpinya dan mengatakan kalau 40 harinya sudah rampung. Ia sedang menunggu pertanda itu.

Tanpa sengaja gue bertemu dengan Pak Roni, sebut saja begitu. Waktu itu gue sebenarnya janjian untuk ketemu sama seorang TKW di acara workshop menulis yang diadakan seorang penulis Indonesia di sebuah restoran Indonesia di pusat kota KL, dekat Pasar Seni. Roni adalah manager restoran tersebut.

Di acara ramah tamah setelah workshop kelar, gue ngobrol-ngobrol sama dia, dan ceritanya yang panjang mengalir begitu saja. Tanpa terasa kami sudah ngobrol selama hampir dua jam! Gue yakin dia udah cukup lama menunggu kesempatan untuk curhat, dan begitu ia menemukan orang yang menurutnya bisa dipercaya, ceritanya mengalir deras seperti air dalam keran yang telah lama tersumbat.

Roni adalah sang country manager untuk restoran Indonesia yang punya cabang di Malaysia ini. Kerjaannya bejibun. Roni bilang, “saya dijadiin bahan lawakan sama anak-anak buah saya, karena saya ngerjain semuanya sendirian.”

Roni terpaksa menjadi one man show. Dia menjadi perpanjangan tangan dari Jakarta dan meng-handle finance, ops, sampai marketing restoran itu.

Ini termasuk memimpin karyawannya yang semuanya orang Malaysia. Ada kalanya tingkat turn over karyawannya sangat tinggi. Juga pernah ada yang bilang kalau mereka malu bekerja di restoran kepunyaan orang Indonesia.

Selama lebih dari empat tahun, apa yang diyakininya sebagai padang gurun seolah mengejawantah. Padang gurunnya benar-benar gersang, kering dan menyengat. Hidup seolah sedang berkomplot untuk mengujinya dengan beragam cara.

Roni pernah diperkarakan dan harus maju ke pengadilan karena dianggap tidak membayar gaji overtime dan pesangon mantan karyawannya, sesuai dengan aturan yang seharusnya.

Ia juga dengan nekat bekerja hanya dengan bermodal visa turis. Usahanya membuat working permit sangat problematik. Akibatnya dalam empat tahun terakhir ia harus keluar Malaysia sebulan sekali agar tidak overstay, ketahuan polisi imigrasi, dipenjara dan lalu dideportasi.

Gajinya, katanya, juga tidak sepadan dengan tanggung jawabnya. Banyak yang menyangka gajinya besar, tapi nyatanya ia harus naik bis setiap hari untuk menghemat pengeluaran. Boro-boro main golf, berenang di apartemennya saja ia nggak sempat. “Hidup saya hanya untuk bekerja,” katanya tanpa bermaksud melebih-lebihkan.

Setelah restoran tutup, sekitar jam 9 malam ia kembali ke apartemennya di daerah Subang Jaya dengan menumpang bis. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu setengah jam, dan sering kali ia terkantuk-kantuk di bis, atau mengalami kejadian-kejadian yang kurang menyenangkan, misalnya dikuntit seorang bule mencurigakan.

Di malam harinya, Roni masih harus membuka laptop, untuk membereskan pembukuan.  Lepas jam 1 malam, dia baru akan tertidur.

Saat bangun pagi sekita jam 8, bumbu-bumbu masak sudah menunggunya. Ia lalu melakukan pengecekan ke dapur,  dan sekitar jam 12 siang ia baru akan berangkat ke restoran.

Begitu setiap hari. Selama 4 tahun.

Gue nggak tega untuk nanya apa dia pernah merasa bosan? Atau nggak hepi? Atau diam-diam depresi?

“Tapi pak, bapak sadar nggak kalau lagi dizhalimi?” gue mencoba memprovokasi. Tidak mungkin ada yang bisa mengerjakan pekerjaan sekompleks ini sendirian! Batman aja dibantuin Robin. Atau mungkin ia sebenarnya adalah seorang Superman, minus celana dalam merah?

Ia bilang, pernah sih ada orang lokal yang bantuin dia, tapi orang tersebut malah menghancurkan apa yang sudah dibangunnya selama bertahun-tahun. Yang bikin sakit hati, Jakarta menggaji orang lokal tersebut jauh lebih besar. “Gajinya setahun jauh lebih besar dibandingkan gaji saya selama 3 tahun.”

“Pernah nggak bapak bertanya pada Tuhan, apa sudah boleh pergi?” gue tetap belum puas.

Pernah, katanya. Setelah bertanya demikian, jawaban itu datang dalam bentuk permohonan sponsorship yang diajukan mahasiswa Indonesia di salah satu universitas swasta di KL. Roni menganggapnya sebagai isyarat untuk bertahan. Bahwa ia belum boleh meninggalkan padang gurunnya.

“Jadi kira-kira kapan Yesus datang dalam mimpi bapak dan bolehin bapak pergi?” tanya gue lagi. Ia menggeleng tidak tahu. Lalu guepun pergi dengan membawa satu lagi kisah yang gue nggak nyangka bisa temukan di Kuala Lumpur atau dimanapun di dunia ini.

Dan pertanyaan tersebut menjadi awal dari sebuah perenungan.

Di tengah kerasnya perjuangan gue di sini, there he comes, pria yang tanpa sengaja gue temuin, dan dengan cara yang ajaib gue bisa mendengar kisahnya.

Gue pernah dengar ada orang bertapa, puasa senin kamis, mandi kembang, dan berendam di sungai untuk menjalani sebuah laku tertentu. Semua dijabanin dalam rangka misi tertentu, misalnya pengen kaya, pengen sakti, atau pengen dapat jodoh. 

Beberapa tahun yang lalu, gue pernah membaca novel berjudul “Pergilah Ke Mana Hati Membawamu” karya penulis Italia, Susanna Tamaro. Kisahnya tentang seorang nenek sekarat yang ditinggal cucunya pergi sehingga harus hidup sendirian. Nenek itu lalu mengirimkan surat-surat untuk cucunya yang berisi wejangan-wejangan bijak untuk menjalani kehidupan, dan terakhirnya si nenek bilang, “lalu ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu.”

Jika bercermin pada panggilan yang didengar Pak Roni, gue jadi sadar kalau ada hal-hal di luar suara hati yang membuat seseorang melakukan apa yang dilakukannya. Ini adalah keyakinan, dan keyakinan itu menjelma Yesus yang hadir dalam mimpinya.

Tapi, apakah hati yang membawa gue ke Malaysia?

Apakah hati jugalah yang membuat gue tetap berada di sini?  Gue belum menemukan jawabannya.

Setidaknya, hari itu gue menemukan satu lagi alasan untuk bersyukur betapapun beratnya hidup gue sekarang. Bahwa gue selalu bisa pergi, tanpa perlu menunggu Yesus datang dalam mimpi gue.


Jumat, 08 Januari 2016

Hitchhiking in Langkawi

In Langkawi, I was told to standing on the side of road, facing traffic with thumb upward, and soliciting free rides from total strangers!

Dorm Room at Butterfly Guesthouse
So I booked a one-way ticket from MalindoAir, and the return ticket from AirAsia. After an email I received from MalindoAir, I finally realized that they upgrade my economy ticket into business class! How lucky I am! And as soon as I boarded, I sat on a more comfortable couch, with spacious legroom where the stewardess served me with a tiny sandwich and a very minimum of apple juice.

The journey to Langkawi from Kuala Lumpur is only one hour. When I touched down the island for the first time, my first impression is I don’t really like the weather! It’s too hot and humid, and the sun was just too mean! And there was no wind either. Sigh!

But, I actually don’t expect too much since it’s “only” a warming up before I go to Macau and Hongkong the week after. So, I walked to a taxi counter, and pay 30 RM for 15 minutes drive to my hostel. The driver was a local female with hijab and she made a shocking gesture once she realized the road to my hostel was ascending.

Me at my "Private Room"
Once I arrived at the Butterfly GuestHouse that I booked online via AirBnB, I realized that they were renovating the place! What? I am afraid it’s going to be less comfortable since there were some guys making some noises when they’re doing the job.

It is definitely not as I expected. But, I met the owner and submitted the AirBnB voucher. She is still young, less than 40 yo I guess, but I assume the children in the house are hers and the guy who stay until night is her husband.

The lady took me to my room, which is in level 2. The house is like a traditional “rumah panggung”, and I passed the dorm with some beds covered with unopened mosquito net—this was what I’ve seen on Agoda, and looks interesting. But my room is private one, except it doesn’t have a key. Moreover, I must pay a deposit 10 RM if I want to use the locker.

I like to stay in dorm because that’s my chance to connect to the world, literally. But the dorm is fully booked so I can only booked the so-called private room. Soon after that, it finally comes to my mind that there is NOTHING surrounding this hostel. Beaches are so far away, and the nearest beach was ugly. All the interesting places are not around, and the only way to reach them is to use a cab, rent a car or scooter or bicycle! No, thanks! I need to save money for my Macau trip!

On the first day I arrived, I go to that nearest beach without any expectation, and I had my early dinner in a Malay restaurant nearby. The food is quite cheap, but nothing special with them. You know, like my trip to Ipoh, cheap food can be really good!

Nasi Goreng Pattaya. I forgot the exact price, i think around 3-4 RM.

After that I went back to the hostel. In the night it was of course quieter, and as I look to the distance, the sky was getting dark. When the sun disappearing, mosquito came with their fellow insect that I can’t name. Somehow, it feels like a retreat.

The best part of the guesthouse. Witnessing the full moon as i open the window!
In the morning, the nature looked so amazing. I can see a lot of trees as I open the window, and I was like, OH MY GOD this is a really nice place to write. I came to Langkawi to write and read, so I write and read.

The place is nestled by a jungle.
But wait, I need to go downstairs for breakfast. I met entourage from UPM. They are exchange student from many countries and I spoke with a girl from China. My mandarin was non-existence, but I do ask her, “Ni duo da le?”, after I introduce myself, “wo shi yin ni ren”.

Her friends took some different course, some guys introduced himself and he said “I study virology” more than one time, because maybe some other guests asked the same question to him. The other guests seem like typical backpackers, friendly and can sleep anywhere. J

So I did my writing until late afternoon, and decide to find lunch. After that I walked! My destination is to find better beaches than yesterday so I just kept walking and realized that I have been walking for more than 1,5 hours under the majestic of extreme sunshine!

I followed the main road and I believe if I keep walking I could reach Cable Car and Waterfalls. But, I found two motorcycles parked by the road. My intuition said I can go down along the path. There were human path there, and I was sure that I can find some people at the other end. As I walked, there are scary sounds I heard, but I need to keep positive. However, I really shocked when I see lizard crossed the path in front of me!
When i decide to follow my intuition...
And here they are: three local guys are preparing themselves to fishing. I think, my sudden appearance made them surprised too, but I greeted them and after that I try to enjoy the scenery. I stay there around 15 minutes.

It's not a public beach
Subsequently, I visited a hotel and meet a very nice girl from a tour operator. RM 65 for island hopping? Hmm.. Let me think about it first.

After walk for more than 2 hours, and I decide to go back. It was crazy! I am very tired. LOL. So, I decided to hitchhike, try my luck, like I did in Ipoh, when a nice old man gave me a free ride to The Lost World of Tambun.

And… it happens again. A guy in motorcycle stopped and I took his offer to give me a ride me to go back to Kuala Teriang. What a wonderful world!

I went back to the hostel, and by the time I reached there, it’s already 19:11. I looked out of the window, and there she goes: full moon. It was Christmas’ Eve, some guests are going to a party. Two girls (one from Netherlands, the other one from Iceland), asked me to join them for RM 70 (dinner and drinks), but I am on budget, and I don’t drink either.

So I stay at my room, open the window as wide as possible. I want to fully enjoy when the night gradually come, and the full moon is getting more beautiful. It was very poetic and you know, what you can witness is incomparable no matter how hard you try to document it.
I prefer moon than mean sun.

The next day is Christmas, and I went to an islands hopping, after texting the girl from the tour operator the night before. There were 2 other guests, but I was not interested to make conversation with them.

Not the best island hopping, just an OK.

We went to the Island of Dayang Bunting, but the place is too touristy. Too many tourist and the lake is not as stunning as I expected, but that doesn’t mean it’s not beautiful. There are a lot of monkeys, and basically monkeys are probably everywhere there in Langkawi.

Pulau Dayang Bunting.

At the end of the island hopping, we visited Pulau Beras Basah. It was beautiful but nothing compare to Gili or Marine Park in Sabah. But I do a lot of swimming and stuff.

How many monkeys in this pic? 

Not bad!

My favourite pic from the island!
The next day, I felt I just want to rest at my room; I can’t be too tired, because I want to save my energy and money for my Macau Trip. Butterfly Guesthouse is a perfect place if you can find vehicle to go around. At the night the road to the hostel is a pitch black, you can count only to the moonshine that shines on your path. You will hear some howling in the night, reverberate from a near distance. The next day, I saw 2 dogs, and also monkeys, just when I climbed back home. This is a jungle.

I took my walk, and give up to make this holiday more memorable. I guess island hopping was enough for me. No Pantai Chenang, No Pantai Tengah, No Cable Car. Because I can’t afford a transportation!

But then I saw a face I recognize. She was the guest from the hostel. I forgot her name and where she came, but I actually made a conversation with her during breakfast. She said she just came back from beaches. I ask: how do you go there? She said: hitchhiking! Oh wow! She said she got a free ride easily otherwise she can just take a cab. There were even cars stopping by and the driver asked her, “Hello, where’re you going? Do you want to join us?”

Motivated by her story, I try to do another hitchhiking too. My destination is to the waterfalls, but after standing at the edge of the road with my thumb upward for more than 45 minutes, nobody seems care! So, I walked for quite some time and eventually decide to take a cab. LOL!  It was 15 RM.
 
Stairs to the waterfalls. 
I took the stairs to the Seven Wells Waterfalls. God, it was long stairs, so tiring! When I arrived, I smiled. The scenery was so exquisite. You can see the cable car from the distance, hanging by a rope that looks so thin. It epitomises life.

After change my clothes, I plunge myself into the water. There were some slides that really fun, and the water was so cold. I swam and chilled. I saw some people chilling by the huge rock.

I really like this place!

Awesome!

I continued my walk, and went to another waterfalls. Finally I realized this one is the real waterfall. Very beautiful, and I climbed to the top of the rocks and stay there for some time.

Can you spot Malaysian shuttler in this pic? (Clue: he won All England and he's not LCW)

I stayed there for around 45 minutes, because there are many water clusters that I can explore to.

After that, I decide to return home, and walk. (Again).  But, this time I was lucky. There was someone who offered me a ride. I sat on the back seat of her car with other passengers. The driver was a friendly local woman woman who taking her son, her friend, and her friend’s daughter to the cable car. I tried to make some conversation, and as I expected they were very friendly. People who do pick up hitchhikers like me tend to be very friendly.

It’s a great feeling to get a free ride when you're less expecting it.

In my last night in Langkawi, there are 2 new guests came. They are two ladies from Canada and Hungary. The hostel was quieter, since there were a lot of guests leaving. The new guests made a conversation with the owner’s son. They find it funny once they knew this kid’s name. It’s Aslan.