Rabu, 17 Februari 2016

5 Atraksi Turis Paling Menarik di Penang

Saya sudah dua kali ke Penang, tapi tidak pernah benar-benar mengeksplorasi pulau ini. Kali ini, saya sengaja ambil cuti saat libur imlek, dan melakukan perjalanan ke Penang, dengan naik bis dari Kota Bharu.

Saya tinggal di Reggae Hostel di Love Lane, Georgetown selama 4 malam. Tarifnya RM 35 (IDR 112.000) per malam. Saya memang suka tinggal di hostel backpacker, apalagi kalau hostelnya antik kayak gini:

Banyak sekali bangunan heritage di Georgetown yang dialihfungsi menjadi hotel seperti ini.

Pemilik handuk warna-warni ini adalah para backpacker :p

Nah, setelah empat hari mengeksplorasi Penang, ini dia 5 atraksi turis paling menarik di Penang, terutama kalau anda cuma punya waktu terbatas untuk liburan di pulau tempat Inggris pertama kali datang ke Asia Tenggara ini.

1. Penang Hill

Dari hostel yang berada di area Lebuh Chulia, kita bisa naik bis ke Komtar (terminal bis). Jangan lupa siapkan uang pas karena bis di Malaysia tidak pernah menyediakan kembalian. :p

Dari komtar naik bis nomer 204 ke Penang Hill yang merupakan last stop. Perjalanan akan memakan waktu kurang lebih 45 menit, karena Penang itu padat penduduknya. Bahkan menyamai padatnya Jakarta, yaitu sekitar 15 juta jiwa, sehingga jalanan dipenuhi kendaraan bermotor.

Penang Hill ini adalah kawasan dataran tinggi di Penang. Kalau anda pernah ke Victoria Peak di Hongkong dan naik trem, di Penang Hill juga ada kereta serupa dengan track yang tidak kalah curamnya.

Untuk naik kereta menuju puncak dari Penang Hill ini, anda perlu bayar RM 30, untuk turis non Malaysia. Paling enak kalau ada teman orang Malaysia jadi bisa nitip dan dapat harga tiket lebih murah. Hehehe…

Setelah sampai di puncak, biasanya wisatawan langsung foto-foto, karena view-nya memang bagus. Di sini, kita bisa melihat pemandangan Pulau Penang, bahkan semenanjung Malaysia, dari atas bukit, persis seperti di Victoria Peak. Tapi bedanya, di Penang Hill ini juga ada banyak hal lain yang bisa kita lakukan termasuk mengunjungi Museum Burung Hantu, bird park, sampai ikutan romantis-romantisan dengan menuliskan nama kita+pasangan lalu digembok di tempat yang disediakan.

Ohya, ada masjid juga, jadi yang muslim bisa sholat dulu sambil istirahat. Tapi, di Penang memang banyak masjid lho. Di kawasan Lebuh Chulia saja, setidaknya ada tiga masjid sehingga suara adzan rasanya terdengar dari mana-mana. J

Penang, dilihat dari Penang Hill






2. Kek Lok Si Temple

Banyak banget temple di Penang, tapi Kek Lok Si ini adalah salah satu yang paling stunning. Paling bagus kalau berkunjung di sore menjelang malam sebab bisa melihat indahnya warna-warni lampion dan lampu-lampu kecil.



Sama seperti Borobudur di Indonesia, Kek Lok Si adalah salah satu kuil Budha terpenting di Asia Tenggara. Pagoda ini terletak di kawasan Ayer Itam, searah dengan Penang Hill. Jadi memang paling pas dikunjungi sekalian dengan Penang Hill.

Tidak ada bis yang melewati pagoda ini, jadi kita harus berjalan kaki dari tempat bis berhenti. Setelah itu, akan ada papan petunjuk arah dengan jalanan menanjak yang akan melewati banyak sekali toko yang menjual souvenir-souvenir yang sangat menarik.

Awalnya akan sedikit capek, tapi ketika sampai di pagoda tersebut, indahnya bangunan ini akan membuat siapapun terfana!




3.  Berburu Makanan

Mungkin banyak yang belum tahu kalau pada tahun 2014, Penang dinyatakan sebagai tujuan kuliner nomer 1 di dunia oleh Lonely Planet! Itu artinya pulau ini memiliki potensi menu-menu makanan yang sungguh dahsyat!

Sayapun sempat membuktikan sendiri dengan ikutan ngantri cendol! Cendol yang terletak di Jalan Penang ini sangat terkenal sehingga membuat banyak orang rela panas-panasan untuk ikutan antri. Harga cendolnya sendiri 2 ringgit saja! Tapi memang, standar harga makanan di Penang tidak semahal di KL kok. J

Selain cendol yang emang enak banget itu, anda juga bisa hunting makanan berbekal peta khusus wisata kuliner di Penang. Jadi peta ini beda dengan peta biasa, karena khusus berisi daftar lokasi tempat makanan enak yang ada di Penang! Kreatif juga ya mereka? J

Antri untuk cendol Penang yang legendaris



                                                  Video: Penjual Cendol Penang

Berbekal peta kuliner itu, saya lalu mencari penjual Bubur Gandum yang harganya cuma 1 ringgit saja, makan laksa yang enak tapi murah, sampai datang ke sebuah foodcourt yang terletak tak jauh dari jetty di Pangkalan Weld. Di situ saya mencicipi wantan mee yang lumayan enak.

Food court kayak begini banyak tersebar di pelosok Penang, termasuk di Gurney Drive, yang bersebelahan sama sebuah mall yang namanya Gurney Plaza. Kesimpulannya, kayaknya dalam hal makanan nggak ada yang bisa nyaingin Penang deh. Sebab, dimana-mana banyak tempat makan dan selalu ada banyak orang di tempat-tempat itu. Secara kuantitas dan kualitas, makanan Penang emang top!








4. Penang National Park

Taman Nasional ini terletak di kawasan Teluk Bahang, di utara Pulau Pinang dan searah dengan pantai paling terkenal di Penang, Batu Ferringhi. Dari Komtar (terminal bis yang dekat dengan pusat kota Georgetown), anda bisa naik bis bernomer 102.

Untuk masuk ke taman ini tidak dipungut bayaran, tapi medannya cukup sulit. Ini adalah kawasan yang sering digunakan untuk tracking dan juga penelitian dan sebaiknya dikunjungi sebelum hari beranjak malam, sebab jika sudah gelap jalur akan berbahaya karena tidak ada penjagaan sama sekali.

Begitu anda masuk, anda seolah dilepas ke alam lepas, yaitu hutan hujan lebat yang bersisian dengan laut. Kita tidak tahu fauna apa yang tinggal di dalamnya, tapi saya yakin tidak ada yang termasuk binatang buas. Memang ada track yang biasa dilalui untuk trekking tapi track tersebut banyak yang tertutup pohon tumbang.

Semakin jauh berjalan, anda akan menemukan sungai, lalu pantai (Monkey Beach), yang airnya dangkal tapi gelombangnya menarik. Ohya, pastikan anda membawa baju ganti, jika berniat berenang atau main-main di pantai ini.

Jika perjalanan diteruskan, dalam waktu tiga jam anda akan menemukan sebuah mercusuar. Saat itu karena sudah kesorean jadi track menuju mercusuar sudah ditutup. Selain itu, banyak juga pengunjung yang memutuskan pulang, sehingga tempat itu mulai sepi.

Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke jeti dengan menyewa perahu boat. Tarifnya RM 40 sekali jalan!








5. Penang Art Street

Georgetown, ibukota Penang adalah sebuah kota tua yang kondisi bangunannya tidak pernah berubah sejak 200 tahun terakhir. Itulah sebabnya pada tahun 2008, kota ini dimasukkan dalam salah satu Situs Warisan Dunia oleh Unesco.

Sebuah sudut kota Georgetown
Tetapi di samping mengagumi bangunan-bangunan tua ini, asyik juga untuk bermain “peta harta karun” di Penang. Misinya menemukan graffiti-grafiti unik di sekitar Georgetown. Ini adalah salah satu aktifitas favorit turis di Penang, termasuk anak-anak. J

Grafiti-grafiti itu disebut sebagai Penang Art Street yang telah menarik perhatian kalangan wisatawan dari seluruh dunia. Seni mural yang cantik ini sebagian dibuat oleh seniman Lithuania, Ernest Zacharevic.











Di Lebuh Armenian terdapat 4 grafiti lho! Tapi ada satu yang letaknya tersembunyi. Peta khusus untuk menemukan mural-mural ini bisa didapatkan dengan gratis di banyak tempat termasuk hotel tempat anda tinggal. Jangan lupa untuk membiasakan diri anda dengan peta-peta tersebut, sehingga anda tidak tersasar dan menemukan apa yang anda cari di Penang.

Apakah anda punya pengalaman unik ketika liburan di Penang atau tertarik jalan-jalan ke Penang? Jangan lupa share komentar anda :)

Senin, 15 Februari 2016

Hepi hepi di Kota Bharu

Saya suka datang ke suatu tempat sebelum fajar menyingsing, dan menyaksikan matahari perlahan muncul dan membuat dunia terang. Seperti ketika bis yang saya tumpangi berhenti di last stop Rantau Panjang, yang sudah dekat sekali dengan Thailand. Hari itu Jumat, 5 Februari 2016, untuk pertama kalinya saya traveling di Malaysia, tanpa membawa paspor, sebab kantor sedang membutuhkannya untuk memperpanjang working permit. Bismillah saja, kata saya dalam hati. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa.

Tetapi menumpangi bis malam ternyata menyebabkan masalah lain: saya kedinginan. Sebab saya hanya memakai celana pendek, kaus tipis dan sandal jepit. Saya tidak membawa sarung untuk melawan dinginnya AC, tapi saya membawa handuk. Jadilah saya menyelimuti tubuh saya dengan handuk, sementara penumpang yang duduk di sebelah saya (wanita berjilbab) sudah terlebih dahulu menyelimuti seluruh tubuhnya (termasuk kepala) dan tertidur selama lebih dari 7 jam perjalanan.

Bis Transnasional itu sempat berhenti dua kali (jika saya tidak salah ingat), dan menjelang pemberhentian terakhirnya di Rantau Panjang, seorang berpakaian tentara masuk ke dalam bis, “IC, paspor,” katanya sambil menuju deretan tempat duduk paling belakang. Saya mencoba menenangkan diri, untuk tidak panik, sampai tiba giliran saya untuk ditanya. (Tuhan, lindungi saya).

Bis tiba di Rantau Panjang rupanya tak lama setelah adzan subuh terdengar. Saya masih agak limbung dan mengantuk sebab saya merasa tidak benar-benar tidur sepanjang perjalanan. Saya menemukan sebuah musholla dengan aksara Thailand dan Bahasa Melayu di toiletnya. Saya sholat subuh dan lalu mencari taksi untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Bharu.

Terminal Bis di Kota Bharu. Perhatikan bahwa apapun di sini akan punya aksara arabnya, termasuk nama-nama tempat, bahkan merek produk.


Sopir taksi itu tidak mengatakan apa-apa lagi setelah dia bilang ongkosnya 40 Ringgit (sekitar Rp 130 ribuan). Ia menurunkan saya tak jauh dari Stesen Bas Kota Bharu, lalu saya melanjutkan perjalanan untuk menemukan Timur Guesthouse. Rupanya letak hostel backpacker itu agak tersembunyi sehingga saya mengalami kesulitan untuk menemukannya.

Seorang pria Melayu bernama Mat menyambut saya. Bahasa Inggrisnya impeccable dan itu bisa bermakna capable dalam industri hospitality. Saya sudah booked selama 4 malam di hostelnya via hostelworld, tapi saya bilang kalau saya ingin menginap 2 malam saja, sebab mungkin saya ingin pindah hostel atau melakukan hal yang lain. Saya lalu membayar RM 51, menambah deposit yang sudah saya bayar sebelumnya via online.

Saya lalu meletakkan ransel saya di kamar dan mulai mengeksplor kota ini. Mat sudah membekali saya dengan peta dan menjelaskan kalau Kota Bharu tidak besar, semua tempat yang menarik perhatian turis akan bisa didatangi dalam waktu  6 menit saja. Saya jelaskan bahwa sebenarnya saya ingin snorkeling tapi dia ragu kalau saya akan diizinkan menyeberangi ke Pulau Perhentian sebab cuaca sedang tidak bersahabat.

Tempat pertama yang ingin saya datangi adalah Pasar Siti Khadijah, sebab itu adalah icon Kota Bharu. Hujan turun dan menjadi deras ketika saya tiba di pasar itu. Di sini, hampir semua penjualnya adalah perempuan dan mereka menjual sayuran, ikan-ikan, dan semua keperluan dapur termasuk bumbu-bumbu. Ada juga buah-buahan, dan kue-kue. Setelah saya pikir-pikir, makanan di sini cukup enak-enak dan akan mengingatkan orang Indonesia pada Yogyakarta.

Pasar Siti Khadijah yang iconic itu!


Penjual kue di pasar Siti Khadijah
Saya menguap beberapa kali, jadi saya putuskan untuk kembali ke hostel untuk tidur siang. Saya terbangun jam 3 sore, merasa bersalah karena sudah dua minggu berturut-turut saya skip shalat Jumat...


Wisata Kuliner di Kota Bharu

Gara-garanya saya nggak menyangka ketika sedang jalan-jalan ke Kuching, menemukan kalau makanan di sana enak-enak banget! Lalu saya berharap akan menemukan makanan-makanan yang sama enaknya di Kota Bharu. Makanya, Jumat sore, sambil payungan karena hujan, saya jalan-jalan, bawa peta mencari-cari orang yang jual makanan.

Nah, lalu saya menemukan laksa Kota Bharu ini. Rasanya cukup enak, tapi saya pikir bisa lebih enak lagi sih *banyak maunya ya*.

Laksa Kota Bharu yang berwarna lebih pucat dari laksa-laksa lain di Malaysia
Penjual laksa ini seorang perempuan yang berjilbab, cukup ramah, dan aksennya beda dengan aksen Melayu yang saya biasa dengar di KL. To be honest, saya lebih suka mendengar aksen Melayu di sini, meski saya nggak ngerti mereka ngomong apa. Tapi, itu tetap Bahasa Melayu loh.

Anyway, di tengah hujan gerimis itu, perjalanan saya berlanjut, sampai saya menemukan Kampung Kraftangan,  Muzium Diraja, dan Lapangan Merdeka, yang ada gapura besarnya, tak jauh dari sebuah masjid, yang namanya Masjid Muhammadi. Cukup cantik juga masjid ini dan banyak orang-orang berpenampilan muslim/muslimah di dalamnya. *iyalah. Kelantan memang salah satu state di Malaysia yang menerapkan syariat Islam loh.






Hari sudah mulai sore, tapi saya lanjut jalan ke arah sebuah menara. Ternyata di belakang menara ini ada sungainya lho! Meski nggak secantik sungai di Kuching, sungai ini lebar banget ukurannya. Bahkan saya sempat naik ke atas menara di lantai 6 (tiketnya 2 ringgit) demi melihat sungai itu dari atas ketinggian.

Pemandangan dari menara di tepi Sungai Kelantan


Setelah puas menikmati suasana hujan di sana, saya turun. Sebenarnya seram juga sih, ada di atas menara sendirian, dan sama sekali nggak ada turis lain. Makanya saya putuskan untuk menyusuri sungai sampai menemukan ada restoran-restoran dan kafe yang menjual aneka makanan salah satunya Roti Tempayan.


Didorong oleh rasa penasaran saya masuk ke restoran yang menjual Roti Tempayan itu. Tapi kok setelah menunggu setengah jam, yang dipesan belum datang-datang juga?! Akhirnya saya bilang sama mbaknya untuk cancel aja pesanannya, yah daripada bête....

Setelah magriban di Masjid Muhammadi, saya cek peta dan menuju ke foodcourt yang kalau kata si peta berlokasi nggak jauh dari masjid itu. Akhirnya setelah jalan kaki selama 10 menit, saya menemukannya! Again, nggak seperti bayangan saya sih, tapi saya putuskan untuk hepi hepi aja, dan mulai mencicipi makanan yang dijual di situ.

Makanan yang bentuknya mirip bacang, tapi isinya ikan.




Ada beberapa makanan yang namanya baru saya dengar saat itu seperti Somtam, nasi air dan makanan yang kayak bakcang, tapi dibakar, dan isinya ikan (nggak tahu namanya apa). Akhirnya saya putuskan untuk coba makan nasi air, yang harganya RM 4. Ohya, harga makanan di sini, sama kayak di Ipoh, alias lebih murah dari standar harga makanan di KL.

Ternyata, nasi air itu sejenis bubur yang dikasuh sup daging dan ditambahin wijen. Nggak bisa dibilang nggak enak sih, tapi nggak istimewa juga. Saya pernah makan yang lebih enak dari ini.

Setelah kenyang, (sebenarnya porsinya sedikit), saya putuskan kembali hostel, tapi muter-muter dulu sebentar, menikmati charming-nya kota ini di waktu malam. Saya juga nyari-nyari kedai kopi yang namanya Kedai Kopi Din Tokyo, setelah membaca turis asing menulis tentang kedap kopi ini di blognya. Tapi ternyata udah tutup juga!

Kedai Kopi Din Tokyo ini berlokasi di Jalan Tok Hakim, nggak jauh juga dari stesen bas, dan Pasar Siti Khadijah. Orang-orang memang biasanya datang saat sarapan dan bukan menjelang tengah malam, seperti yang saya lakukan semalam sebelumnya.

Ketika saya datang ke sana besoknya, saya pesan telur rebus dan cakue, minumnya Teh Tarik. Semuanya 5 ringgit saja! Pak Din nggak sendirian, dia dibantu sama anak istrinya melayani pengunjung pagi itu. Katanya sih, tempat ini memang nggak pernah sepi, apalagi Pak Din-nya sendiri sangat ramah. Ia terus saja mengajak ngobrol orang-orang yang datang, meskipun tidak semua mengerti apa yang dia katakan. Contohnya, “Sebale” itu artinya “sebelas”. Bayangkan seperti apa kata-kata yang lainnya. Beda banget kan…

Sarapan di Kedai Kopi Din Tokyo

Hari Minggu di Kuala Besut

Kota Bharu adalah ibukota negara bagian Kelantan. Masyarakatnya menyebut Kelantan sebagai Kelate. Ke-la-te. Tapi tidak jauh dari Kota Bharu, ada pulau terkenal yang konon bagus banget yang namanya Pulau Perhentian Besar dan Pulau Perhentian Kecil, yang termasuk dalam negara bagian Terengganu, dan untuk kesana saya harus naik perahu dari Kuala Besut.

Mat sebenarnya udah bilang kalau mungkin aja jeti di Kuala Besut ditutup karena faktor cuaca, jadi nggak ada yang bisa menyeberang ke Pulau Perhentian. Tapi saya teteup keukeuh mau kesana, bahkan bilang sama Mat kalau saya ubah arrangement stay saya di hostel, malam kedua akan menjadi malam Selasa, tapi dia bilang jam checkout sudah lewat! Sigh, akhirnya saya bilang padanya, saya akan kembali ke Kota Bharu hari Senin, dan akan stay di dorm saja. Terpaksa saya harus bayar 15 RM!

Akhirnya saya jalan ke terminal bis dan menunggu bis Cityliner untuk menuju ke Kuala Besut. Saya sudah booking 1 malam via Agoda untuk stay di sebuah hostel namanya Yaudin Guesthouse.

Video: Perjalanan menuju Kuala Besut :)

Bis dijadwalkan berangkat pukul 17.30 tapi baru mulai kelihatan nongol pukul 18.00! Akhirnya saya tiba di Kuala Besut setelah lewat jam 8 malam dan langsung mencari yang namanya Yaudin. Nggak susah sih nyarinya, karena hostel di Kuala Besut nggak banyak dan Yaudin terletak di lantai 2 terminal itu. Kondisi hotelnya ya gitu deh, dindingnya triplek aja, dan pintunya juga pake gembok! Tapi lumayanlah, bayar 25 RM tapi bisa dapat kamar privat.
Terminal Kuala Besut

Kamar hostel saya di Kuala Besut. :p

Salah satu tempat makan di Kuala Besut


Kuala Besut sendiri kota pesisir kecil banget, yang nyaris nggak punya apa-apa selain terminal bis, jeti sama rumah-rumah penduduk yang bisa dihitung dalam sehari.

Tapi, ada beberapa spot di sini yang artistik khas orang-orang yang tinggal di pesisir. Makanan? Saya suka makan mi sup ayam kampungnya!

This is so good!

Malam di Kuala Besut yang sepi dan berangin kencang

Perahu yang bersandar di dermaga Kuala Besut

Pemberlakukan syariat Islam bisa dilihat pada spanduk ini.


Besoknya, saya kecewa berat, karena hujan masih aja turun, dan jeti ditutup! Nggak boleh ada aktifitas ke laut, jadi saya nggak bisa snorkeling dan stay di Pulau Perhentian! Saya berjalan tak tentu arah di sekitar terminal dan melihat banyak turis yang juga resah seperti saya. Sama-sama gigit jari, Bayangan seru-seruan snorkeling seperti waktu di Kota Kinabalu, Lombok dan Bali mulai buyar. Goodbye Pulau Perhentian!

Di saat-saat jalan nggak tentu arah itu, ada peta yang menyelamatkan saya. Bagusnya peta-peta di Malaysia, semua disertai dengan gambar-gambar tourist attraction di sekitarnya lengkap dengan cara menuju ke sana (rute, bis, dan lain-lain). Akhirnya saya memutuskan untuk datangin air terjun sama hot spring.

Saya lalu tanya sana sini, termasuk ke mbak-mbak tour operator yang lagi nenangin orang-orang yang gagal ke Pulau Perhentian. Dia bilang, nggak ada bis untuk pergi ke air terjun, jadi harus pake taksi. Wah kebayang pasti mahal deh!

Seorang sopir taksi mendekati saya yang lagi bingung. Saya menunjuk gambar yang ada di peta, yang adalah Air Terjun Lata Tembakah dan LA Hot Springs (dibacanya “La”, bukan El-A). Dia bilang dia bisa anter dengan ongkos RM 100 pp!

Saya mencoba menawar jadi RM 80, tapi sopir taksi yang sebenarnya ramah itu menggeleng. No, katanya. Akhirnya saya bilang oke, 100 ringgit asal pulangnya bisa mampir ke pantai Bukit Keluang yang kalau di gambar, kelihatann keren banget.

Akhirnya dia setuju!

Special Customer

Tetapi ada masalah lain. Ketika tiba di Hutan Lipur dimana Air Terjun Lata Tembakah berada, kami tidak menemukan siapapun di sana, kelihatannya hutan itu sedang ditutup, bahkan lapak-lapak makanan yang seharusnya ramai oleh penjual dan pembeli juga tidak menampakkan ada tanda-tanda kehidupan.






Sopir taksi (yang awalnya menyangka saya orang Singapore), mencoba menelepon ke sebuah nomer yang tertera di loket, tapi tidak tersambung. Sampai akhirnya 10 menit kemudian, muncul seorang pria melayu yang sepertinya karyawan Departemen Kehutanan dan penjaga hutan tersebut. Sopir taksi menghampiri orang itu yang bilang kalau hutan ini memang ditutup karena debit air sedang besar sehingga dikhawatirkan akan membahayakan pengunjung.

Tetapi, saya tidak tahu apa yang dikatakan sopir taksi pada pria itu, sampai kemudian sopir taksi bilang saya diperbolehkan masuk! Mungkin dia pikir, ngapain nih orang Indonesia jauh-jauh datang ke hutan Malaysia? Hehehe…

Bahkan ketika berdatangan beberapa anak-anak muda yang kelihatannya ingin masuk ke hutan itu, sopir taksi itu bilang saya dibolehkan masuk, tapi harus menunggu mereka pergi dulu. “You are special customer,” katanya. Saya bersorak dalam hati, karena bahkan saya nggak dimintain tiket masuk yang seharusnya 3 ringgit perorang.

Sopir taksi lalu menemani saya menelusuri hutan lebat itu. Untung saja hujannya tidak deras, hanya gerimis yang tidak sempat membuat basah kuyup karena saya dipayungi pohon-pohon yang rimbun. Kami terus berjalan sekitar 45 menit, yang terasa semakin menanjak. Hutan itu sedikit gelap, sebab tidak ada matahari dan hari sedang hujan. Mistis.

Sampai kemudian kami berhenti ketika memang sudah tidak ada jalan setapak untuk dilalui lagi dan saya melihat air terjun yang arusnya begitu deras dan bergemuruh. Jujur aja, hati saya jadi ikut bergemuruh, tapi saat itu, untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini, saya merasakan sebuah inner peace.

Saya beristirahat sejenak sementara sopir taksi juga ikut-ikutan mengagumi keindahan air terjun itu.

Kalau arusnya tidak sedang kencang, ingin rasanya saya menceburkan diri di aliran air terjun itu.

Video: Air Terjun yang gemuruhnya menggetarkan!


Dari tempat itu, sopir taksi membawa saya ke La Hot Springs. Jaraknya sekitar 45 menit dari Hutan Lipur. Pada saat saya datang ke sana, banyak orang yang sedang mandi di sungai, mengingatkan saya pada gambar-gambar dari Sungai Gangga.

Ada beberapa water cluster di sana dan saya mencoba yang airnya paling panas. Saya melepaskan pakaian saya dan hanya mengenakan celana renang, lalu bergabung dengan orang-orang yang sedang berendam. Oh, this is nice. Ini yang saya butuhkan  setelah banyak sekali berjalan kaki di hari-hari sebelumnya.
La Hot Springs




Tidak sampai satu jam saya berada di tempat ini. Saya lalu berganti baju, tanpa sempat mandi, dan lalu meminta sopir taksi membawa saya ke pantai sekaligus pulang.

Tapi tidak ada yang istimewa di Pantai Bukit Keluang. Tidak jelek, tapi tidak membuat saya ingin berlama-lama di sana. Saya malah lebih tertarik membeli pisang goreng yang banyak dijual di sana.

Pantai Bukit Keluang



Setelah itu, saya memutuskan untuk kembali ke Yaudin, keluyuran, makan malam dan tidur.

Kembali ke Kota Bharu


Selamat datang (kembali) di Kota Bharu
Saya tiba kembali di Kota Bharu dari Kuala Besut sekita jam 1 siang. Saya menimbang-nimbang untuk mencari hostel lain yang lebih dekat dengan stesen bus, ketimbang kembali ke Timur Guesthouse, tetapi hostel di sekitar stesen bus rata-rata bertarif lebih dari RM 70 permalam. Sebenarnya ada KB Backpacker House yang dorm-nya sekitar RM 20, tapi itu tetap lebih mahal dari Timur Guesthouse. Buat seorang backpacker seperti saya, selisih 5 ringgit itu besar juga lho!

Kue-kue yang sungguh enaaaaak!
Saya menghabiskan malam terakhir di Kota Bharu dengan mencari makanan, sampai saya menemukan penjual kue-kue yang enak di tempat yang sama yang menjual laksa di hari pertama saya datang ke Kota Bharu. Dinner-nya saya ikutan antri Nasi Kukus Ayam Berempah, yang lagi-lagi penjualnya mengira saya orang Singapore. Seriously, what’s in me that makes me looked like a Singaporean?

Ngantri Nasi Kukus
Di tempat ini, saya disangka orang Singapore! :D
Ketika hari menjelang malam, saya kembali ke Kedai Kopi Din Tokyo, lalu memesan minuman andalan mereka, Halia Telur Puyuh. Ini adalah minuman air jahe panas yang dicampur dengan telur puyuh mentah. Rasanya cukup enak, dan konon bisa menambah energi bagi kaum pria.


Halia Telur Puyuh dan pembuatnya :)

Setelah itu saya pulang ke hostel. Esok pagi, bis dari Kota Bharu akan berangkat jam 9.45 ke Penang. Perjalanan ini jika dilihat di peta akan seperti memotong semenanjung Malaysia, melintasi dua negara bagian lain yaitu Perak dan Kedah dan seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 5 jam 26 menit menurut Google Maps.

Di perjalanan selama lebih dari 7 jam itu, saya tidak ingat melakukan apa. Mungkin saya tertidur, tapi yang jelas saya merasa sangat bersyukur telah melakukan perjalanan-perjalanan ini dan menikmati mukjizat-mukjizat kecil yang selalu ada dimana-mana.